GEMPA VENEZUELA

Mereka yang Masih Setia Mencari Keluarganya

Potret penyintas gempa di Venezuela yang terus berjuang mencari kerabatnya di tengah reruntuhan bangunan.

31 Jul 2026 11:40 WIB · Internasional

AFP/FEDERICO PARRA

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sejak gempa ganda pada 24 Juni dengan magnitudo 7,2 dan 7,5, tim penyelamat masih berusaha menemukan korban yang terjebak di reruntuhan bangunan rumah ataupun apartemen yang ada di Tanaguarena, La Guaira, Venezuela, Rabu (30/7/2026). Tanpa kenal lelah, mereka menggali terowongan di antara gunungan puing-puing dengan peralatan yang ada.

Di banyak tempat, pencarian korban dilakukan dengan alat berat seperti buldoser dan derek. Satu demi satu mereka menyingkirkan balok dan tembok bangunan untuk menemukan korban. Kerabat menanti dengan kesedihan yang mendalam, berdiri tak jauh dari buldoser dengan kantong mayat di tangan. 

Sementara warga dengan kemampuan seadanya juga terus melakukan hal yang sama. Berusaha menemukan jasad anggota keluarganya, untuk dikuburkan lebih layak. Mereka terlihat bergotong royong menarik tali untuk memindahkan balok-balok bangunan satu demi satu.

<p>Orang-orang yang mencari korban selamat berdiri di atas gunungan puing setelah gempa bumi kembar melanda, di La Guaira, Venezuela. AP/Matias Delacroix</p><p>Bangunan runtuh akibat gempa bumi di La Guaira, Venezuela, Minggu (26/7/2026). AP/Ariana Cubillos</p><p>Maria Morales berdiri di atas bangunan yang runtuh akibat gempa bumi, mencari bibinya, Yaeina Vera, di La Guaira, Venezuela, Kamis (23/7/2026). AP/Ariana Cubillos</p>

Orang-orang yang mencari korban selamat berdiri di atas gunungan puing setelah gempa bumi kembar melanda, di La Guaira, Venezuela. AP/Matias Delacroix

Bangunan runtuh akibat gempa bumi di La Guaira, Venezuela, Minggu (26/7/2026). AP/Ariana Cubillos

Maria Morales berdiri di atas bangunan yang runtuh akibat gempa bumi, mencari bibinya, Yaeina Vera, di La Guaira, Venezuela, Kamis (23/7/2026). AP/Ariana Cubillos

Sukarelawan kesehatan bertugas membawa mayat yang ditemukan untuk dikumpulkan dan segera diidentifikasi jika masih mungkin. Jika tidak, mayat-mayat akan dikumpulkan dan dikuburkan bersama-sama dalam satu lubang dan ditandai dengan korban tak bernama. 

Beberapa keluarga juga mencari sendiri anggota keluarganya di tempat tinggal masing-masing. Mereka menggali terowongan, menuju perkiraan lokasi terakhir kira-kira korban berada. Upaya ini sangat melelahkan, tetapi mereka jalani dengan maksimal. Seorang warga La Guaira, Eduardo Lopez, bahkan terpaksa menerima bantuan medis dari seorang perawat karena kelelahan. Ia beristirahat di puing-puing rumahnya dengan selang infus di tangan.

Seorang petugas pemadam kebakaran memasuki terowongan yang digali di gedung yang runtuh akibat gempa bumi selama operasi pencarian di La Guaira, Venezuela, Kamis (23/7/2026).

AP/Ariana Cubillos
Relawan menarik tali untuk membersihkan puing-puing dari bangunan yang runtuh akibat gempa bumi di La Guaira, Venezuela, Minggu (12/7/2026). AP/Ariana Cubillos
Anggota Korps Investigasi Ilmiah, Pidana, dan Kriminalistik Venezuela menemukan mayat salah satu dari dua putri Yolimar Torres, di reruntuhan bangunan yang runtuh akibat gempa bumi kembar, di La Guaira, Venezuela, Rabu (15/7/2026).

AP/Ariana Cubillos

Di antara mereka yang masih mencari orang-orang terkasih adalah Mary Cruz Andueza. Menara tempat ibunya tinggal, bagian dari program perumahan pemerintah yang diluncurkan di bawah mendiang Presiden Hugo Chávez, telah runtuh. ”Saya tidak tahu apakah dia masih hidup, apakah dia sudah meninggal, apakah dia di rumah sakit atau masih berada di bawah reruntuhan,” katanya.

Rawan penyakit

Lebih dari sebulan telah berlalu sejak gempa bumi dahsyat di Venezuela, suara konstan mesin berat masih bergema di lingkungan yang paling parah terkena dampak di La Guaira di pantai utara. Debu dari bangunan yang runtuh menggantung di udara yang lembab. Sampah menumpuk. 

<p>Orang-orang berdiri di atas bangunan yang runtuh akibat gempa bumi di La Guaira, Venezuela, Kamis (23/7/2026). AP/Ariana Cubillos</p><p>Kerabat dan petugas penyelamat mencari melalui bangunan yang runtuh akibat gempa bumi keberadaanorang yang mereka cintai di La Guaira, Venezuela, Selasa (21/7/2026). AP/Ariana Cubillos</p><p>Tim penyelamat mencari mayat di tengah reruntuhan gedung Obras del Poder Popular (OPP) di Tanaguarena, La Guaira, Venezuela, pada Jumat (24/7/2026). AFP/Juan BARRETO</p>

Orang-orang berdiri di atas bangunan yang runtuh akibat gempa bumi di La Guaira, Venezuela, Kamis (23/7/2026). AP/Ariana Cubillos

Kerabat dan petugas penyelamat mencari melalui bangunan yang runtuh akibat gempa bumi keberadaanorang yang mereka cintai di La Guaira, Venezuela, Selasa (21/7/2026). AP/Ariana Cubillos

Tim penyelamat mencari mayat di tengah reruntuhan gedung Obras del Poder Popular (OPP) di Tanaguarena, La Guaira, Venezuela, pada Jumat (24/7/2026). AFP/Juan BARRETO

Keluarga-keluarga masih bertahan dalam tenda di luar rumah yang dianggap terlalu berbahaya untuk dimasuki. Truk-truk air melaju di jalan-jalan yang rusak. Bau mayat sangat menyengat di beberapa lingkungan.

Ratusan sukarelawan dan pekerja kemanusiaan telah bergabung dalam upaya bantuan kemanusiaan di Venezuela mengalami penyakit pernapasan setelah berminggu-minggu menghirup debu silika dan semen yang dilepaskan saat bangunan yang runtuh dibersihkan. Yang lain menderita dehidrasi dan penyakit diare selama berhari-hari di bawah terik matahari.

Pekerja penyelamat dan sukarelawan mencari melalui puing-puing bangunan yang runtuh selama gempa bumi di La Guaira, Venezuela,  Minggu (26/7/2026).

AP/Ariana Cubillos
Eduardo Lopez menerima bantuan medis dari seorang perawat setelah dia selama 16 hari membersihkan puing-puing di gedung yang runtuh akibat gempa bumi untuk mencari orang yang mereka cintai di La Guaira, Venezuela, Minggu (12/7/2026).

AP/Ariana Cubillos
Relawan mencari mayat di tengah reruntuhan bangunan yang runtuh di Caraballeda, Venezuela, pada Kamis (23/7/2026).

AFP/Federico PARRA

Pemulihan dari gempa bumi di Venezuela akan memakan waktu bertahun-tahun. ”Bencana ini masih jauh dari selesai,” kata Scott Craig, juru bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC). Pelayanan kesehatan, dukungan kesehatan mental, dan akses ke air minum yang aman merupakan prioritas utama, tambahnya, karena banyak keluarga masih bergantung pada air kemasan untuk minum, memasak, dan mencuci.

Para penyintas hidup dalam kecemasan, ketakutan, kesedihan, dan insomnia karena mereka berduka atas kerabat, rumah, pekerjaan, dan mata pencarian yang hilang. ”Lebih dari 5.000 orang tewas, hampir 17.000 terluka, dan sekitar 23.000 masih tinggal di tempat penampungan sementara,” tambah Craig.

<p>Sukarelawan membawa mayat korban gempa melalui puing-puing bangunan yang runtuh di Caraballeda, Venezuela, pada Senin (27/7/2026). AFP/Federico PARRA</p><p>Sukarelawan beristirahat saat mencari mayat di tengah reruntuhan gedung Obras del Poder Popular (OPP) di Tanaguarena, La Guaira, Venezuela, pada Rabu (28/7/2026). AFP/Juan BARRETO</p><p>Seorang pria beristirahat di tengah reruntuhan bangunan yang runtuh di Caraballeda, Venezuela, pada Jumat (24/7/2026), satu bulan setelah gempa bumi melanda daerah tersebut. AFP/Federico PARRA</p><p>Tim penyelamat bekerja di reruntuhan bangunan tempat tinggal Jurel di Catia La Mar, Venezuela, pada Rabu (22/7/2026). AFP/Juan BARRETO</p>

Sukarelawan membawa mayat korban gempa melalui puing-puing bangunan yang runtuh di Caraballeda, Venezuela, pada Senin (27/7/2026). AFP/Federico PARRA

Sukarelawan beristirahat saat mencari mayat di tengah reruntuhan gedung Obras del Poder Popular (OPP) di Tanaguarena, La Guaira, Venezuela, pada Rabu (28/7/2026). AFP/Juan BARRETO

Seorang pria beristirahat di tengah reruntuhan bangunan yang runtuh di Caraballeda, Venezuela, pada Jumat (24/7/2026), satu bulan setelah gempa bumi melanda daerah tersebut. AFP/Federico PARRA

Tim penyelamat bekerja di reruntuhan bangunan tempat tinggal Jurel di Catia La Mar, Venezuela, pada Rabu (22/7/2026). AFP/Juan BARRETO

Venezuela, negara kaya minyak, telah berjuang selama bertahun-tahun melawan kemiskinan yang meluas akibat salah urus ekonomi dan tekanan kuat dari Amerika Serikat dan sekutunya. Tekanan itu telah mereda sejak Washington menggulingkan presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer pada bulan Januari, tetapi kebutuhan ekonomi pemerintah untuk mengatasi krisis tetap signifikan.

Situasi ini diperparah dengan gempa yamg menghancurkan sebagian kota besar mereka. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase