Imlek menjadi tradisi tahunan yang dirayakan warga Tionghoa di Indonesia. Beragam pentas seni dan budaya untuk meramaikan Imlek menjadi obyek menarik berburu foto.
28 Jan 2025 07:00 WIB · Foto
Perayaan Imlek menurut sejarahnya diawali dari tradisi masyarakat petani di China untuk menyambut datangnya musim semi. Seiring penyebaran warga etnis China ke berbagai penjuru dunia, tradisi ini pun turut dibawa dan dirayakan di daerah perantauan mereka, termasuk di Indonesia, sejak ratusan tahun lalu.
Namun, pada era Orde Baru, pemerintah mengeluarkan aturan pembatasan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Pembatasan tersebut termasuk larangan perayaan tahun baru China atau Imlek secara terbuka dan di tempat umum. Akibatnya, warga Tionghoa hanya bisa menggelar perayaan terbatas di rumah masing-masing dan di tempat ibadah (kelenteng).
Baru di era Reformasi, aturan pembatasan tersebut dicabut oleh Presiden Abdurrahman Wahid tahun 2000. Pencabutan larangan tersebut disambut sukacita warga Tionghoa di Nusantara sehingga mereka berani menggelar perayaan Imlek secara terbuka. Bahkan, Imlek akhirnya ditetapkan sebagai hari libur nasional pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri tahun 2003.
Dengan diperbolehkannya warga Tionghoa merayakan Imlek, beragam ritual dan tradisi menurut budaya Tionghoa semakin banyak digelar terbuka sehingga masyarakat umum mulai mengenalnya. Tradisi itu juga membawa pengaruh ke banyak sisi kehidupan masyarakat, termasuk pada sisi ekonomi, sosial, dan budaya. Di setiap menjelang Imlek, beragam hiasan dan pernak-pernik untuk perayaan Imlek banyak kita temui dijual di pusat-pusat perdagangan atau pasar dadakan. Hiasan, pentas seni budaya, dan program diskon khusus pun digelar untuk menarik konsumen. Imlek turut menggerakkan ekonomi di masyarakat.
Bagi penggemar fotografi, semarak perayaan Imlek juga menarik untuk diabadikan. Untuk itu, kita harus paham apa saja ritual dan tradisi yang digelar warga Tionghoa selama 15 hari perayaan digelar.
Sebelum perayaan Imlek, biasanya warga Tionghoa sudah menggelar beragam ritual dan tradisi, mulai dari menghias rumah dan tempat ibadah hingga membersihkan beragam perlengkapan untuk perayaan Imlek.
Beragam pentas seni dan budaya Tionghoa dengan warna-warni khas biasanya juga digelar saat Imlek. Untuk persiapan ini, komunitas Tionghoa sering melakukan persiapan dan berlatih. Seni barongsai menjadi salah satu kesenian yang selalu ditampilkan saat Imlek. Selain itu, ada pertunjukan wayang potehi, yaitu wayang boneka dari kain yang menampilkan cerita dan legenda dari negeri China.
Saat persiapan dan latihan, kelompok seni ini menarik untuk dipotret karena kita bisa lebih bebas bergerak untuk memotret. Selain itu, saat latihan kita juga bisa mengabadikan sisi lain kehidupan pelaku kesenian Tionghoa.
Meskipun Imlek bukan perayaan keagamaan, kemeriahaan perayaan biasanya berpusat pada tempat ibadah khusus Khonghucu yang sering disebut sebagai kelenteng. Tempat ibadah ini mudah kita temukan di kawasan pecinan. Menjelang Imlek, kelenteng dan pecinan akan banyak dihiasi ornamen dan pernik-pernik terkait Imlek.
Seminggu menjelang Imlek, tempat ibadah akan dibersihkan dan mereka menggelar tradisi memandikan rupang atau patung dewa yang ada di kelenteng. Tradisi ini juga menarik karena kita bisa melihat warga Tionghoa bergotong royong membersihkan tempat ibadah mereka. Patung dewa yang berwarna-warni bisa menjadi obyek foto yang menarik.
Di beberapa daerah, ada tradisi khusus yang digelar untuk menyambut Imlek. Seperti di Kota Surakarta, Jawa Tengah, yang rutin menggelar tradisi Grebeg Sudiro. Tradisi ini merupakan acara budaya yang diselenggarakan untuk menyambut perayaan Imlek. Perayaan tersebut merupakan penggabungan dua tradisi antara Jawa dan China sebagai bentuk akulturasi yang tercipta secara turun-temurun. Grebeg diwarnai dengan kirab budaya Jawa dan China yang tentunya menarik diabadikan visualnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/26/bd737227-f9aa-4cbb-aadf-81fcd6f6dda2_jpg.jpg)
Pada puncak perayaan Imlek, warga Tionghoa yang beragama Khonghucu biasanya mendatangi kelenteng untuk bersembahyang atau menggelar ritual doa. Perayaan biasanya ramai pada malam menjelang Imlek. Sejak sore hari, kelenteng akan didatangi warga Tionghoa yang akan bersembahyang. Ritual sembahyang biasanya menggunakan dupa yang dibakar dan menghadap altar yang menjadi tempat diletakkannya patung dewa.
Prosesi ritual sembahyang Imlek di kelenteng biasanya terbuka untuk umum sehingga masyarakat umum bisa melihat langsung. Kita juga bisa memotret sembahyang tersebut. Namun, harus diingat untuk selalu menjaga kesopanan dan ketertiban agar saat memotret kita tidak mengganggu warga yang bersembahyang. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah di kelenteng sarana ibadahnya banyak menggunakan api untuk membakar dupa dan tempatnya juga sempit sehingga harus selalu memperhatikan sekitar kita supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan lupa sediakan masker bagi yang tidak tahan asap dari pembakaran dupa.
Imlek merupakan perayaan syukur atas apa yang diterima warga Tionghoa selama setahun terakhir dan pengharapan akan berkah di tahun depan. Bagi warga Tionghoa selain Khonghucu, perayaan Imlek akan diisi bersyukur dengan makan bersama keluarga atau berbagi rezeki dengan warga lain dalam bentuk membagikan angpau.
Sebagai penutup rangkaian perayaan Imlek, digelar festival Cap Go Meh pada hari ke-15 perayaan Imlek. Perayaan ini biasanya diawali dengan berdoa di kelenteng yang kemudian dilanjutkan dengan kirab budaya keliling.
Pada kirab budaya, yang menarik adalah tampilnya kesenian liong dan barongsai. Selain itu, juga ada pentas seni budaya Tionghoa lainnya. Pertunjukan barongsai merupakan lambang dari kepercayaan masyarakat Tionghoa. Barongsai diyakini sebagai pertanda kesuksesan, keberuntungan, dan pengusir hal-hal buruk.
Di beberapa kota di Indonesia, momentum Cap Go Meh menjadi festival budaya tahunan yang digelar meriah. Di Singkawang dan Kota Bogor merupakan contoh dua tempat yang menjadikan Festival Cap Go Meh menjadi acara tahunan untuk menarik wisatawan.
Dengan mengetahui rangkaian perayaan Imlek, kita bisa menyiapkan diri dan memilih apa yang menarik untuk kita potret. Tentu saja selain persiapan peralatan fotografi kita juga harus menyiapkan stamina karena perayaan tersebut banyak digelar di jalanan yang membutuhkan kesiapan fisik prima.
Mumpung tahun ini perayaan Imlek sedang berlangsung, tak ada salahnya kita bisa turut berburu foto Imlek. Selamat berburu foto Imlek yang penuh warna.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Ignatius Danu KusworoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan