Berganti-ganti peran di kota yang sibuk adalah bentuk adaptasi. Namun, butuh kesadaran dalam menjalaninya. Awas, sisi manusiawi orang kota bisa hilang.
25 Okt 2025 13:00 WIB · Kolom
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Setiap pagi, jutaan komuter di Jakarta bersiap berangkat kerja. Kebiasaan yang telah menjadi ritual harian. Tubuh dibalut baju formal atau setidaknya pakaian paling rapi yang dipunyai. Riasan dan rambut tertata menutupi wajah lelah dan tertekan. Senyum dipasang, selalu siap tertawa karier. Sedih, marah, hingga rasa malu dikubur dulu.
Mereka, atau kami karena mungkin kita termasuk di dalamnya, memang tak sekadar berangkat menjemput rezeki. Namun, semua meneguhkan diri berangkat mengambil peran tertentu, bahkan menjadi orang lain.
Saat matahari meredup, aliran pekerja bergerak menyebar terserap ke berbagai penjuru rumah masing-masing. Kaus longgar, celana pendek, daster menggantikan pakaian formal. Membuat tubuh dan pikiran melonggar. Lelah, tetapi lega. Kembali apa adanya, menjadi diri sendiri. Benarkah?
Kehidupan sosial, khususnya di perkotaan, yang dianalogikan sebagai pertunjukan akbar tak berujung pangkal telah lama digambarkan oleh sosiolog Erving Goffman. Dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1956), ia berpendapat bahwa kehidupan sosial adalah pertunjukan teater. Ada panggung depan atau muka yang setara dengan ruang publik tempat kita memainkan peran tertentu. Dan, ada ruang di balik panggung, yaitu ruang privat di mana masing-masing kita bisa barang sejenak melepas topeng, seberapa banyak pun lapisannya.
Panggung utama itu bisa berupa tempat kerja kita, transportasi umum, kafe, dan di masa kini pasti, termasuk media sosial. Kita berperan memenuhi tuntutan sesuai konteks. Sebagai pekerja produktif di kantor, sebagai anggota keluarga yang baik di tengah acara keluarga. Di Instagram, foto-foto unggahan adalah impian personal diri kita. Di X, menjadi kanal untuk mengeluarkan unek-unek, berceloteh sesukanya kadang dengan nama dan foto profil berbeda untuk menyembunyikan identitas diri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/29/a68e3ef7-23f0-4a65-851d-fe8425b353ea.jpg)
Merujuk kembali pada Arlie Russell Hochschild dalam The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling (1983), kebiasaan yang tanpa sadar kita lakoni itu selaras dengan konsep emotional labor, yaitu pekerjaan untuk mengelola emosi sesuai tuntutan profesi.
Kota modern, dengan dominasi ekonomi berbasis layanan, menuntut emotional labor dari hampir semua pekerja. Hasilnya, menurut Hochschild, adalah respons yang disebutnya sebagai emotional dissonance. Respons itu berupa celah antara apa yang kita rasakan dan apa yang kita tampilkan. Ancamannya, jika celah terus melebar, kesehatan mental rentan tergerogoti.
Bisa jadi, jika tak kuat terus-menerus bermain peran yang menekan, seseorang bisa jatuh tertekan mental hingga sakit yang dapat memengaruhi fisiknya. Ada pula yang makin tak peduli orang lain, asal ia selamat.
Berperan menjadi orang lain dilakukan manusia, apa pun latar belakang, status sosial, dan pekerjaannya atau profesi yang digeluti.
Beberapa waktu lalu, misalnya, rekaman gambar bergerak menampilkan seorang pejabat yang tertawa lepas saat bercengkerama dengan salah satu produk kecerdasan buatan (AI). Ia sempat bertanya tentang resep negara bisa maju. AI menjawab bahwa kuncinya ada di pemberantasan korupsi. Spontan sang pejabat bersama beberapa koleganya tertawa.
Bagi sebagian warganet yang melihatnya, tawa spontan itu dinilai membuka sisi asli si pejabat lulusan kampus ternama dunia yang selalu tampil bugar dan ramah tersebut. Ekspresi yang tersibak adalah tentang ketidakpedulian, bahkan cemoohan, terhadap idealisme yang seharusnya dijaga sang pejabat.
Boleh juga menengok lagi kasus petinggi yang disertasinya melanggar etika akademik. Di depan publik, ia tetap bisa berbicara tentang integritas dengan wajah datar. Rasa malu sudah tidak dikenalnya lagi. Ia sudah begitu mahir berakting, batas antara topeng dan wajah asli seperti telah menyublim, lenyap.
Sikap acuh tak acuh itu tak memedulikan orang lain, tidak mau mengakui kesalahan dan menutupinya dengan kata-kata serta sikap yang seolah pelaku kebenaran. Sikap yang disebut penulis ”The Metropolis and Mental Life” (1950), Georg Simmel, sebagai blasé attitude.
Mengartikan maksud sosiolog urban tersebut secara bebas, sikap acuh tak acuh adalah mekanisme survival yang dipilih banyak orang di tengah overstimulasi kota. Merasa terlalu banyak tuntutan, terlampau beragam peran yang harus dimainkan. Akhirnya, kepekaan moral tumpul. Yang tertinggal hanya peran dan terus berperan tanpa kejelasan substansi lagi.
Kasus viral video pejabat itu hanya seujung kuku atau sekadar puncak gunung es. Sejatinya, tak hanya pejabat atau pesohor, jutaan pekerja kota dan warga biasa setiap hari menanggung beban emotional labor yang jauh lebih berat. Tanpa disorot kamera atau viral di media sosial, minus pula simpati publik, baik yang bayaran maupun murni.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/16/c172cbc1-566d-4d58-a3a1-2006e1d5c289.jpg)
Lewat Liquid Modernity (2000), Zygmunt Bauman berargumen bahwa identitas memang tidak lagi tak bisa diubah di dunia modern ini. Identitas manusia semakin cair. Seseorang tak bisa hanya diidentikkan dengan performa satu sisinya. Konsep diri sejati yang stabil terasa makin kabur digantikan oleh rangkaian performa yang terus berganti sesuai tuntutan panggung.
Mungkin kita dapat merasakannya sendiri, bagaimana kehidupan kota memaksa orang menjadi fleksibel, adaptif, multitasking.
Coba bayangkan, seseorang yang harus bisa jadi pemimpin di timnya atau setidaknya dapat menghela dirinya sendiri tetap fokus di pekerjaannya. Ia juga wajib menjadi rekan kerja yang kooperatif sekaligus anak buah yang patuh. Di rumah, menata hati agar mampu berperan sebagai orangtua sabar penyayang serta pasangan penuh perhatian. Di media sosial, tempat di mana seharusnya dapat menjadi diri sendiri, ternyata terbawa arus menunjukkan diri sebagai ”influencer mikro”, penuh inspirasi positif atau setidaknya terlihat bahagia.
Diakui sebagai keterampilan bertahan hidup di kota supersibuk, kemampuan untuk cepat mengubah peran dapat berakibat makin sulit mengingat wajah asli diri sendiri. Tak jarang tiba-tiba berjarak, teralineasi dari orang lain, bahkan diri sendiri.
Itulah yang kemudian menjelma sebagai ironi terbesar kehidupan urban. Di tengah jutaan orang, kita merasa sendirian atau memilih terasing dari orang lain. Dalam salah satu buku lawas, The Lonely Crowd (1950) karya David Riesman, fenomena ini disebut hasil dari kepribadian orang yang hidupnya ditentukan oleh ekspektasi orang lain, bukan oleh nilai internal sendiri.
Di kafe dengan puluhan pengunjung, semua sibuk menatap layar gawai masing-masing. Di dalam kereta atau bus komuter, orang berdesak-desak dalam sepi. Saling menghindari kontak mata dengan orang lain, telinga tersumbat earbud. Bisa berinteraksi ramah dan ramai dengan pengikut di media sosial, tetapi tidak punya teman yang bisa ditelepon saat butuh bicara hati ke hati.
Jadi, apakah masih ada sosok diri yang asli tanpa topeng, diri sejati? Jangan-jangan, seluruh hidup kita adalah performasi dan akan berakhir setelah kelelahan berakting tanpa henti.
Kembali ke Bauman. Ia menjelaskan bahwa berusaha mempertahankan identitas yang kaku di tengah dunia yang terus berubah bisa berbahaya. Sebagai warga urban yang dituntut gesit dan bisa berganti-ganti peran setiap saat setiap hari, yang penting adalah menguasai kemampuan beradaptasi. Namun, yang terpenting lagi, jangan sampai kehilangan kesadaran bahwa kita sedang beradaptasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/21/df151141-2bcd-438c-9f2f-0222658e7367.jpg)
Kesadaran itu berarti kemampuan memelihara ruang panggung belakang yang menjadi tempat aman kita untuk melepas lelah hati, pikiran, maupun fisik. Sesekali melepaskan kendali dan menerima bahwa ternyata diri sendiri rapuh dan tidak produktif. Tempat kita bisa mengenakan baju sesantai yang kita mau sebagai simbol pembebasan dari segala tuntutan.
Menjaga kesadaran dapat diartikan pula kemampuan memelihara sisi manusiawi individu yang mengingatkan bahwa kemanusiaan itu patut diperjuangkan. Mengikis ketidakpedulian, menggerus acuh tak acuh, serta lebih peka dan menghargai orang lain.
Bisa jadi, hal tersebut yang terenggut dari para pejabat, pembuat dan pelaksana kebijakan yang memengaruhi kehidupan masyarakat luas. Mereka keasyikan berakting dan berganti-ganti topeng hingga kesadarannya makin menjauh, hilang. Akibatnya, khalayak ramai yang ketiban sial bertubi. Aduh!
Penulis:
Neli TrianaEditor:
Gesit AriyantoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul