Merintis Bansos Beras Menjadi Sagu

Ke depan, Bulog diharapkan dapat memiliki cadangan pangan lokal, seperti sagu dan sorgum. Bansos pangan berupa beras di daerah tertentu juga bisa berupa beras sagu.

11 Jan 2025 16:06 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

Jika berhasil, dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia bakal memiliki cadangan pangan lokal, seperti sagu dan sorgum. Bahkan, bantuan sosial atau bansos beras di daerah-daerah tertentu bisa berupa sagu dan sorgum olahan.

Saat ini, dua program prioritas pemerintah, yakni swasembada pangan dan Makan Bergizi Gratis, tengah berjalan. Berbarengan dengan itu, pemerintah juga menggulirkan program Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Program tersebut diharapkan dapat menopang swasembada pangan berbasis potensi sumber daya lokal. Program itu juga diarahkan untuk melengkapi keanekaragaman menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Apalagi percepatan penganekaragaman pangan berbasis potensi sumber daya lokal itu sudah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal. Napas utama dari regulasi tersebut adalah mengurangi ketergantungan hanya pada satu sumber pangan, termasuk beras.

Pemerintah bahkan menargetkan swasembada beras dapat terwujud pada 2027. Bahkan, pada tahun ini, pemerintah berkomitmen menghentikan impor beras (Kompas, 10 Desember 2024).

Warga Marind-anim memasak sagu di Kampung Zanegi, Distrik Animha, Kabupaten Merauke, Papua, Kamis (10/11/2022). Sagu memiliki posisi penting bagi masyarakat Marind-anim. Selain kaya dengan karbohidrat dan penopang gizi, sagu yang menjadi makanan leluhur ini juga menjadi identitas budaya. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 10-11-2022

Pada 6 Januari 2024, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri meminta setiap daerah menjalankan program itu. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah membentuk tim percepatan penganekaragaman pangan daerah.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan, melalui regulasi itu, Bapanas mendorong setiap pemerintah daerah mengembangkan potensi sumber pangan lokal. Pengembangan sumber pangan lokal itu bisa dilakukan di pekarangan rumah tangga, lahan masyarakat, bahkan swasta dan badan usaha milik daerah atau desa.

Dengan begitu, daerah-daerah tersebut tidak bertumpu hanya pada satu atau dua komoditas, terutama beras dan terigu. Ke depan, Bapanas juga ingin Perum Bulog memiliki memiliki cadangan pangan lokal, seperti sagu, sorgum, dan jagung.

Quote

Ke depan, kami juga ingin bansos beras di sejumlah daerah-daerah tertentu dapat diganti menjadi sagu atau sorgum. Apalagai, saat ini Indonesia sudah mengembangkan beras sagu.

Selain itu, ujar Andriko, pengembangan penganekaragaman pangan lokal itu juga dapat menopang program MBG. Tim penyelenggara program MBG tersebut dapat menjadi offtaker pangan-pangan lokal yang dikembangkan di setiap daerah.

Dengan kehadiran Bulog dan tim penyelenggara program MBG sebagai offtaker, pelaku usaha olahan pangan lokal bisa turut berkembang. Mereka bisa memperoleh bahan baku dengan lebih mudah dan secara berkelanjutan.

”Ke depan, kami juga ingin bansos beras di sejumlah daerah-daerah tertentu dapat diganti menjadi sagu atau sorgum. Apalagai saat ini, Indonesia sudah mengembangkan beras sagu baik untuk kepentingan kesehatan maupun pengembangan pangan lokal olahan,” katanya.

Infografik Luas lahan, produktivitas, dan produksi sagu di Indonesia

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian berpendapat serupa. Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada beras. Hal itu lantaran potensi sumber daya pangan alternatif pengganti beras di sejumlah daerah sangat berlimpah, seperti jagung, sagu, sukun, ubi jalar, singkong, sorgum, dan talas.

Untuk itu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagari) turut mendukung program Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal. Kemendagri telah meminta setiap daerah membentuk tim percepatan tersebut.

Penelitian beras sagu

Sebenarnya, Bapanas sudah sejak lama memperkenalkan beras sagu. Beras sagu itu merupakan hasil Inovasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang diperkenalkan sejak 2014. Melalui Pusat Teknologi Agroindustri BPPT, beras sagu dibentuk menggunakan teknologi ekstruder sehingga berbentuk bulir seperti beras.

Beras nonpadi yang dikembangkan BPPT itu memiliki kelebihan dalam angka Indeks Glikemik (IG). IG adalah angka yang menunjukkan seberapa cepat karbohidrat suatu bahan diubah menjadi gula. Makin tinggi IG maka perubahan karbohidrat (pati) menjadi gula semakin cepat.

Beras sagu

Berdasarkan kajian Pusat Teknologi Agroindustri BPPT, beras sagu memiliki IG 40, sedangkan beras padi 80-89. Beras sagu juga terbukti menurunkan glukosa darah dalam tempo empat minggu pengujian mengonsumsi beras tersebut.

Pembuktian itu dilakukan 20 sukarelawan yang memiliki kadar glukosa darah puasa 100-125 mg/dL dan kadar glukosa 2 jam 140-199 mg/dL atau berkategori prediabetes. Para sukarelawan itu beraktivitas harian normal hanya saja konsumsi nasi dari beras biasa diganti beras sagu.

Untuk menghitung jumlah kalorinya, setiap hari sukarelawan mengonsumsi nasi sagu sebanyak 120 gram dan lauknya bebas asal tak mengandung karbohidrat seperti mi, perkedel, dan kerupuk. Setiap minggu, sampel darah para sukarelawan diambil untuk dianalisis kadar glukosanya dan kadar kolesterol dan trigleseridanya.

Hasilnya, dalam empat minggu, kadar glukosa darah puasa para sukarelawan turun 10 persen. Selain itu, kolesterol mereka juga turun dari 212 mg/dL menjadi 200 mg/dL dan trigleseridanya yang semula 160 mg/dL turun menjadi 131 mg/dL. 

”Dalam rangka penyediaan pangan karbohidrat melalui program diversifikasi pangan ini, beras sagu seyogianya dapat dimanfaatkan daerah-daerah penghasil sagu, seperti Papua, Maluku, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Riau,” kata Andriko.

Warga memanen dan mengolah sagu yang baru dipanen di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (26/7/2024). Bagi masyarakat di Sentani, Sagu dan beras  menjadi makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari. Selain itu, masyarakat Yoboi juga menjadikan hutan sagu dan tradisi mengolah dan makan sagu untuk bisa dinikmati oleh masyarakat luar atau sebagai wisata minat khusus. 

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
24-07-2024

Pada 10 Juli 2024, Bapanas pernah mengunjungi pabrik pengolahan sagu PT Galih Sagu Pangan di Tengerang, Banten. Pabrik tersebut memproduksi beras sagu sejak 2018. Menurut Andriko, orientasi pabrik berskala industri kecil menengah itu adalah menjadikan beras sagu sebagai alternatif ketahanan pangan lokal masyarakat Nusantara ataupun mancanegara.

Tak hanya beras sagu, sagu juga dapat menjadi bahan baku mi dan sejumlah makanan ringan. Apalagi, produksi sagu nasional cukup besar, yakni mencapai 385.905 ton. Produksi sagu tersebut menunjukkan potensi besar alternatif pangan selain beras.

”Untuk mengembangkannya secara lebih masif lagi, kita harus mulai mengembalikan kebiasaan konsumsi sagu sebagai makanan pokok, seperti di wilayah Papua, Maluku, atau wilayah timur lainnya,” katanya.

Pengembangan sagu

Berdasarkan data Statistik Perkebunan Kementerian Pertanian, areal sagu yang termanfaatkan di seluruh Indonesia seluas 212.468 hektar. Lahan tersebut terdiri atas 75.264 hektar tanaman belum menghasilkan dan 125.731 hektar tanaman menghasilkan. Di tahun tersebut, produksi sagu nasional mencapai 385.905 ton.

Areal sagu di Indonesia umumnya merupakan perkebunan rakyat, yakni mencapai 94,34 persen. Perkebunan sagu rakyat tersebut berkontribusi terhadap produksi sagu nasional sebesar 99 persen.

Warga mengeringkan mi dari olahan sari pati sagu di Desa Manjung, kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu (7/6/2023).

Areal perkebunan tersebut tersebar di sejumlah daerah di Papua, Maluku, Maluku Utara, Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Selatan. Perkebunan tersebut menyerap tenaga kerja atau petani sagu sebanyak 286.007 keluarga.

Selama berabad-abad, sagu menjadi makanan pokok masyarakat di banyak daerah di Indonesia, antara lain Papua, Maluku, dan Sulawesi. Tradisi mengolah sagu juga diwariskan turun-temurun hingga kini.

Umumnya sagu dikonsumsi dalam bentuk gel, kemudian ditambah kuah ikan. Olahan sagu tersebut dikenal sebagai papeda di Papua dan kapurung di Sulawesi Selatan. Sagu juga diolah menjadi pempek di Sumatera Selatan, serta sagu bakar dan dange di Sulawesi. Adapun di Meranti, Kepulauan Riau, sagu diolah menjadi kue tradisional dan mi.

Hingga kini, beberapa pabrik pengolahan sagu modern telah berkembang, terutama di Papua dan Sulawesi. Di Kabupaten Sarmi, Papua, misalnya, terdapat pabrik pengolahan sagu menjadi pati sagu berkapasitas 50 ton per hari.

Tak hanya itu, masyarakat Bogor juga mengolah sagu menjadi mi gleser. Di Banten, terdapat pabrik yang mengolah sagu menjadi beras sagu.

Infografik Tahapan pengembangan sagu nasional pada 2025-2027

Dalam rangka pengembangan sagu nasional, Kementerian Pertanian telah memiliki tahapan pengembangan komoditas tersebut. Merujuk dari laman Kementerian Pertanian, pengembangan sagu nasional direncanakan di wilayah Riau, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat pada 2025-2027.

Hal itu bakal dilakukan melaui penataan lahan sagu dengan total target produksi 1 juta ton tepung sagu. Penataan lahan sagu pada 2025 ditargetkan seluas 50.000 hektar, sedangkan pada 2026 dan 2027 masing-masing seluas 70.000 hektar dan 100.000 hektar.

Dalam tiga tahun itu, produktivitas sagu ditargetkan 4,5 ton per hektar. Sementara produksi tepung sagu ditargetkan mencapai 225.000 ton pada 2025, 337.500 ton pada 2026, dan 450.000 ton pada 2027.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Aris Prasetyo