Buka Tabungan dan Pinjam Uang Tetangga: Bagaimana Bisnis Penukaran Uang Lebaran Untung?

Penjaja jasa penukar uang marak ditemukan di sudut-sudut kota menjelang Lebaran.

23 Mar 2025 19:00 WIB · Ekonomi

Oleh Emanuel Edi Saputra


Menjelang Lebaran, penjaja jasa penukaran uang marak ditemukan di sudut-sudut kota. Fenomena ini sejalan dengan kebiasaan bagi-bagi uang saku/tunjangan hari raya sehingga membutuhkan uang pecahan kecil. 

Menariknya, demi membuka jasa penukaran uang, ada penjaja yang menekuni bisnis ini selama bertahun-tahun, membuka tabungan, hingga meminjam uang dari tetangga sebagai modal memasarkan jasa. 

Logo Liputan Lebaran 2025

Di Jakarta, salah satu titik lokasi para penjaja jasa penukaran uang adalah turunan Flyover Pasar Pagi, Jalan Pintu Besar Utara sampai dengan ujung Museum Bank Mandiri. Pada Minggu (23/3/2025) yang terik, sekitar 10 penjaja penukaran uang tanpa mengenal lelah menawarkan jasa kepada semua pelintas jalan. Di antara mereka membawa kursi plastik, payung supaya teduh, dan membawa botol minum. 

Nurbaya (53), salah satu dari 10 penjaja jasa penukaran uang di sana, juga membawa kursi plastik sendiri untuk ia pakai duduk. Tubuhnya berbalut jaket untuk meredam hawa panas. Dia membawa tas selempang yang di dalamnya berisi aneka stok uang pecahan. 

Sementara itu, di tangannya, dia menggenggam segepok uang pecahan Rp 5.000 hingga Rp 10.000 yang masih baru. Matanya awas menanti para pelintas untuk menawarkan jasa penukaran uang. 

Saat Kompas tiba sekitar pukul 11.00, Nurbaya terlihat beberapa kali beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri pejalan kaki ataupun pengguna motor yang berhenti di pinggir jalan, lalu menawarkan jasa. 

Warga menawarkan penukaran uang kepada pelintas di sekitar Kawasan Kota Tua, Jakarta, Minggu (23/3/2025).

Setelah 10 menit berlalu, dia belum mendapatkan orang yang berminat menukarkan uang baru. ”Harganya belum cocok,” ucap Nurbaya. 

Jika ingin menukarkan uang Rp 100.000 ke pecahan Rp 10.000, Nurbaya mematok harga sekitar Rp 115.000. Dia ambil untung sekitar 15 persen dan bisa berubah setiap hari. 

Setiap tahun Nurbaya membuka jasa penukaran uang menjelang Lebaran. Tahun 2025 adalah tahun keempatnya dia membuka jasa penukaran uang.

Dia merogoh tabungan Rp 100 juta lebih sebagai modal. Tabungan itu dari hasil penyisihkan penghasilan suaminya yang menjadi pekerja di pengeboran minyak tengah laut. Setelah itu, dia pergi ke seseorang yang dia sebut bandar uang pecahan baru. Modal Rp 100 juta yang berasal dari tabungan lantas dia pakai untuk bertransaksi. 

Dari uang tabungan itu, Nurbaya membeli uang baru berbagai pecahan dari seseorang yang dia sebutnya bandar.

Salah satu warga yang membuka jasa penukaran uang jalanan di sekitar Kawasan Kota Tua, Jakarta, Minggu (23/3/2025).

”Untuk menukar Rp 100 juta dari bandar, saya harus mengeluarkan modal Rp 111 juta,” lanjut Nurbaya. 

Sudah empat hari dia menawarkan jasa penukaran. Selama empat hari pula, dia baru memperoleh 20 orang yang menukarkan uang kepada Nurbaya untuk keperluan mudik. 

Menurut Nurbaya, H-5 Lebaran biasanya ramai penukaran uang. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, dia pernah melayani sampai puluhan orang per hari. 

Dia berharap, keuntungan bisnis ini bisa dipakai untuk membeli emas. Jika persediaan uang baru yang dia pegang masih sisa, itu akan ditabung kembali.

”Kalau uang tabungan buat modal dagang baju Lebaran, belum tentu laku. Lebih laku buat jualan jasa penukaran uang,” imbuh Nurbaya. 

Penjaja jasa penukaran uang lainnya, yaitu Ane (50), memiliki cerita berbeda. Meski sama-sama menjajakan jasa di lokasi yang tak jauh dari Nurbaya, Ane rupanya telah melakoni profesi ini 20 tahun. 

Infografik Potensi Pergerakan Arus Mudik Lebaran 2025*

Kalau Nurbaya memakai uang tabungan pribadi, Ane mendapatkan modal dengan cara pinjam uang ke tetangganya sebesar Rp 50 juta. Setiap kali ada orang yang lewat dan mau menukar uang ke dirinya, Ane mematok untung 15 persen. 

Namun, Ane masih sanksi apakah kali ini dia masih bisa mendapat keuntungan bersih. Sebab, sudah seminggu dia menawarkan jasa penukaran uang, baru 11 orang yang menggunakan jasanya. Ane pun harus membayar tunggakan utang. 

”Ini aja pas laku dikit saya putar buat modal lagi. Belum jelas juga untuk tahun 2025. Kalau tahun sebelumnya masih bisa bayar utang. Itu pun untungnya sedikit yang bisa saya sisihkan,” ungkap Ane yang sehari-hari berstatus ibu rumah tangga. 

Bisnis jasa penukaran uang menggiurkan bagi siapa saja, termasuk pengemudi ojek pangkalan seperti Nurasri Adi Utama (30). Sehari-hari dia mangkal di depan Museum Bank Mandiri, Kawasan Kota Tua, Jakarta. 

Hari Minggu itu, Adi begitu ia biasa disapa, membawa uang lembaran Rp 100.000 dengan total Rp 4 juta untuk ditukar ke pecahan Rp 10.000 dan Rp 5.000. Dia datang menghampiri Nurbaya. ”Modal Rp 4 juta dari hasil ngojek dua tahun,” ucapnya. 

Penyedia jasa penukaran uang di sekitar Kawasan Kota Tua, Jakarta, menunjukkan sejumlah pecahan uang, Minggu (23/3/2025).

Adi tidak menukar uang ke kantor bank karena tidak praktis. Dia juga merasa harus mengantre. 

Setelah ditukar dengan uang pecahan lebih kecil, Adi rencananya akan menawarkan kepada tetangganya di Tangerang, Banten. Dia menargetkan keuntungan berkisar Rp 100.000-Rp 150.000 jika semuanya laku.

Adi mengaku tidak mematok keuntungan besar. Dia mengutamakan ada penghasilan tambahan. 

Berapa pun keuntungan yang dia peroleh, akan dia tabung untuk modal membuka jasa penukaran uang pada Lebaran 2026. 

Fenomena jasa penukaran uang di pinggir jalan selalu muncul setiap kali Lebaran dan selalu menjadi topik perbincangan yang hangat di masyarakat. Alasannya, banyak warga yang penasaran bagaimana pola kerja para penjaja jasa penukaran uang itu. 

Di X (dulu Twitter), pada Minggu (23/3/2025), perbincangan mengenai fenomena itu menjadi trending topic. Apalagi, ada unggahan berita di salah satu kanal media daring di Jawa Timur mengenai kisah penjaja jasa penukar uang di Malang. Penjaja ini sudah belasan tahun melakoni bisnis penukar uang dan uang pecahan ternyata diperoleh dari seorang agen di Pasuruan. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Emanuel Edi Saputra
 | 

Editor:

Caecilia Mediana