Anjloknya Harga Produk Tambang dan Urgensi Keseimbangan ”Supply-Demand”

Nikel Indonesia masih dibutuhkan dunia, tetapi kini terjadi tren penurunan harga. Harga batubara pun anjlok, terancam di bawah 100 dollar AS per ton.

28 Feb 2025 13:56 WIB · Ekonomi

Oleh Aditya Putra Perdana

Neraca produksi pertambangan mineral dan batubara Indonesia perlu mendapat perhatian di tengah tren menurunnya harga sejumlah komoditas, seperti nikel dan batubara. Produksi yang jor-joran tanpa mempertimbangkan supply and demand berpengaruh pada penurunan harga.

Penurunan kinerja pada 2024 antara lain dialami PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Sepanjang 2024, perusahaan yang memproduksi nikel dalam matte tersebut mencatatkan laba 57,8 juta dollar AS, menurun 78 persen dibandingkan 2023. Hal itu tidak terlepas dari penurunan pendapatan perseroan sebesar 22,9 persen, menjadi 950,4 juta dollar AS pada 2024.

Kondisi tersebut juga terkait dengan merosotnya harga realisasi rata-rata nickel matte dari 17.329 dollar AS per ton pada 2023 menjadi 13.086 dollar AS per ton pada 2024. Adapun, volume produksi Vale Indonesia meningkat dari 70.728 metrik ton menjadi 71.311 metrik ton pada 2024. Begitu juga pengiriman yang meningkat dari 71.108 metrik ton pada 2023 menjadi 72.625 metrik ton pada 2024.

CEO Vale Indonesia Febriany Eddy mengatakan, 2024 menjadi perjalanan yang penuh pencapaian, tantangan, sekaligus pelajaran berharga. ”Kami merayakan pencapaian dan mempertimbangkan tantangan yang telah kita atasi dan yang masih ada di depan. Tahun ini adalah tentang pertumbuhan, transformasi, adaptasi, dan menciptakan cerita yang lebih besar dan lebih bermakna,” ujarnya melalui siaran pers, Rabu (26/2/2025).

Jajaran direksi baru PT Vale Indonesia Tbk berfoto usai konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2023, di Jakarta, Senin (10/6/2024).

Catatan Trading Economics terjadi tren penurunan harga nikel dunia. Pada Januari 2023, harga nikel sekitar 28.000 dollar AS per ton, tetapi lalu perlahan turun hingga 16.000 dollar AS per ton pada akhir 2023. Harga nikel sebenarnya kembali naik dan mencapai 21.000 dollar AS per ton pada Mei 2024, tetapi kemudian kembali turun. Per 24 Februari 2025, harga nikel sekitar 15.000 dollar AS per ton.

Sebagai informasi, Vale Indonesia, dengan 34 persen saham kini dikuasai MIND.ID, menambang nikel laterit untuk menghasilkan produk akhir berupa nickel matte atau nikel kelas satu. Produk tersebut yang kemudian dikirim ke Jepang, dengan berbagai peruntukan, seperti baja nirkarat (stainless steel) dan untuk pelapisan (plating).

Pengamat pasar modal Hans Kwee menuturkan, kinerja Vale Indonesia memang turun, dengan penurunan pendapatan sebesar lebih dari 22 persen. ”(Ini) lebih karena harga nikel dunia turun. Penurunan laba yang 78 persen karena penurunan nilai wajar aset derivatif,” ujarnya Jumat (28/2/2025).

Sementara itu, Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis, Mineral Kritis, dan Hilirisasi Mineral Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Mohamad Toha berpandangan, nikel masih akan terus dibutuhkan. Logam, salah satunya dari nikel, menjadi salah satu produk pertambangan yang dibutuhkan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara di dunia.

Quote

Logam, salah satunya dari nikel, menjadi salah satu produk pertambangan yang dibutuhkan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara di dunia.

”Namun, itu dengan catatan. Supply-demand juga harus dikelola dengan baik. Saat ini, kebutuhan nikel dunia sebenarnya naik, tetapi harga turun karena terjadi kelebihan produksi. Sepanjang kita bisa menjaga agar produksi nikel tidak berlebih, tetap menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, maka harga nikel akan tetap menarik ke depan,” ujar Toha.

Sebagai catatan, Indonesia merupakan negara penghasil nikel terbesar di dunia. Menurut Global Critical Mineral Outlook 2024 yang diterbitkan International Energy Agency (IEA), pangsa pasar Indonesia dalam suplai produk tambang nikel (mined output) global meningkat dari 34 persen pada 2020 menjadi 52 persen pada 2023. Sementara produk olahan dan pemurnian (refined output) meningkat dari 23 persen pada 2020 ke 37 persen pada 2023.

Seiring gencarnya hilirisasi, fasilitas pengolahan dan pemurnian/smelter, pun tumbuh masif di Indonesia, terutama pada jalur produksi baja nirkarat dengan proses pirometalurgi. Kelebihan produksi nikel di Indonesia lantas berpengaruh pada penurunan harga. Pemerintah juga sempat hendak mengerem pembangunan jenis smelter itu dan mengarahkan pengolahan nikel dengan proses hidrometalurgi, untuk produksi bahan baku baterai kendaraan listrik.

Mixed hidroxyde precipitate (MHP), salah satu produk dari peleburan nikel (smelter) dengan teknologi high pressure acid leaching (HPAL), di kawasan penambangan dan industri pengolahan nikel grup Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Selasa (2/7/2024). Selain MHP, pengolahan nikel dengan HPAL juga menghasilkan cobalt sulfate dan nickel sulfat. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 2-7-2024

Divestasi

Sementara itu, salah satu pencapaian penting Vale Indonesia pada 2024 adalah penyelesaian proses divestasi, dengan dukungan dari pemerintah Indonesia serta para pemangku kepentingan utama, seperti MIND ID, Vale Canada Limited, dan Sumitomo Metal Mining Co. Tidak hanya memenuhi persyaratan regulasi, proses tersebut juga memperkuat hubungan strategis Vale Indonesia dengan negara.

Menurut Febriany, perpanjangan izin operasional menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK) tanpa pelepasan lahan juga menjadi tonggak penting. Hal tersebut juga mencerminkan komitmen Vale Indonesia dalam mendukung pemrosesan hilir sambil menegakkan praktik pertambangan berkelanjutan, dalam rangka mendukung pengembangan sumber daya yang bertanggung jawab.

Di samping itu, pada 2024, Vale Indonesia memperbarui peringkat risiko environment, social, and governance (ESG) dari Sustainalytics—perusahaan penilaian keberlanjutan perusahaan—menjadi risiko Sedang. Vale Indonesia pun menjadi satu-satunya perusahaan nikel di Indonesia yang meraih peringkat itu. Dengan posisi tersebut, keberlanjutan tidak hanya berupa konsep, tetapi juga praktik dalam operasional Vale Indonesia.

Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID Dilo Seno Widagdo menuturkan, kontribusi industri pengolahan logam dan pertambangan pada produk domestik bruto (PDB) mencapai 12 persen. Sebagai pemegang mandat hilirisasi, MIND ID pun mendorong peningkatan nilai tambah pada seluruh komoditas minerba. Total Foreign Direct Investment (FDI) ke sektor pengolahan logam dan pertambangan juga mencapai 28 persen pada 2024.

Dalam mendorong peningkatan nilai tambah, imbuh Dilo, peta jalan pengembangan mineral kritis dan mineral strategis menjadi salah satu aspek penting. MIND ID pun terus berupaya memperkuat pasar, baik domestik maupun ekspor, untuk menyerap produk-produk yang dihasilkan. ”Tugas kita tidak hanya berhenti di hilirisasi midstream, tetapi juga industrialisasi manufaktur sampai produk akhir,” ujarnya melalui siaran pers, Jumat (28/2/2025).

Tampak batubara yang dibongkar muat di North Pulau Laut Coal Terminal (NPLCT) batubara milik PT Arutmin Indonesia di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Kamis (26/10/2023). .

Batubara

Penurunan kinerja perusahaan sebagai dampak penurunan harga komoditas juga dialami PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Sepanjang 2024, perusahaan pertambangan dan pemasaran batubara tersebut menorehkan laba bersih sebesar 376 juta dollar AS atau menurun 25 persen dibandingkan torehan pada 2023. Itu tidak terlepas dari penuruan harga jual rata-rata sebesar 16 persen secara tahunan.

Namun, dengan volume penjualan yang meningkat 15 persen menjadi 24 juta ton pada 2024, penurunan pendapatan hanya 3 persen. ”Selama tahun 2024, perseroan memperkuat bisnis pertambangan batubara melalui peningkatan produksi tahunan melalui dua tambang baru yang mulai berproduksi pada tahun 2024, yaitu PT Graha Panca Karsa (GPK) dan PT Tepian Indah Sukses (TIS),” ungkap manajemen ITMG melalui siaran pers, Rabu (26/2).

Sebagai informasi, ITMG juga bergerak dalam jasa terkait sektor energi, antara lain dalam bidang kontraktor dan penjualan batubara. Perusahaan tersebut mengembangkan portofolio bisnis pada sektor energi terbarukan, serta menciptakan operasional bisnis yang lebih bertanggung jawab. Juga, menyelaraskan aktivitas bisnis dengan prinsip ESG.

Menurut data Trading Economics, harga batubara dunia sepanjang 2024 mampu bertahan di atas 120 dollar AS per ton. Namun, memasuki 2025, harga mulai anjlok. Bahkan, per 27 Februari 2025, harga batubara 100 dollar AS per ton. Adapun realisasi produksi batubara Indonesia, mengacu data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terus meningkat dari 564 juta ton pada 2020 menjadi 775 juta ton pada 2023.

Kompas Professional Mining

Laporan mendalam dan analisis tren industri untuk mendukung para profesional pertambangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari