TIMUR TENGAH

Meski AS-Iran Baku Tembak, Trump Sebut Perundingan Jalan Terus

AS-Iran sama-sama menuding ada pelanggaran gencatan senjata di Selat Hormuz. Trump menyebut serangan itu sebagai ”tepukan ringan” dan perundingan jalan terus.

08 Mei 2026 09:13 WIB · Internasional

US NAVY/Sade' Anita Wallace

Oleh Luki Aulia

FLORIDA, JUMAT — Baku tembak Amerika Serikat-Iran kembali terjadi di dekat Selat Hormuz. Meski Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata dan upaya perundingan berlanjut, pasar tak percaya.

Komando Tengah (CENTCOM) AS pada Jumat (8/5/2026) dini hari membenarkan adanya baku tembak itu. Komando operasi yang bermarkas di Florida, AS, itu menyebut Iran terlebih dulu menyerang kapal-kapal perang AS. Kapal-kapal itu dari Selat Hormuz ke Teluk Oman kala serangan terjadi pada 7 Mei 2026.

Rudal dan kapal cepat serbu Iran dinyatakan mengarah ke tiga kapal perang AS. Kapal perang itu adalah USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan UU Mason. Seluruhnya tak terkena serangan.

Lalu, AS menyerang lokasi dan perangkat peluncuran rudal, pesawat nirawak, dan kapal serbu Iran. Selain itu, serangan juga dilancarkan ke lokasi pemantauan dan kendali operasi Iran. ”CENTCOM tidak menginginkan eskalasi, tetapi tetap berada di posisi siap melindungi pasukan AS,” sebut CENTCOM.

Bagi Iran, masalah awalnya adalah kehadiran kapal perang dan pesawat militer AS di kawasan. Kala Trump mengumumkan ”Proyek Kebebasan” untuk mengawal kapal-kapal melintasi Selat Hormuz, Iran sudah menganggapnya sebagai pelanggaran gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April 2026.

Tak sampai dua hari, Trump mengumumkan Proyek Kebebasan dihentikan. Belakangan terungkap, seperti disiarkan NBC dan The Wall Street Journal, penghentian itu antara lain karena faktor Arab Saudi dan Kuwait.

Map detailing the Operation EPIC FURY ceasefire timeline from April 7, 2026, to May 5, 2026. (Courtesy Photo)
Arleigh Burke-class guided-missile destroyer USS Rafael Peralta (DDG 115) enforces a maritime blockade against an Iranian-flagged ship attempting to sail toward an Iranian port, April 24, 2026. (U.S. Navy photo)

Arab Saudi-Kuwait menolak pesawat AS melintasi atau beroperasi dari wilayah udara mereka. Sebab, mereka tak mendapat jaminan AS akan melindungi Arab Saudi-Kuwait kalau Iran menyerang dengan alasan ada pesawat AS menyasar Iran dari kedua negara itu. Padahal, akses pada wilayah udara Kuwait dan Arab Saudi amat penting untuk kelancaran operasi ke Iran.

”Insiden-insiden ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintahan Trump telah secara resmi mengumumkan berakhirnya Proyek Kebebasan, risiko eskalasi tetap tinggi dan dapat dengan mudah meningkat menjadi perang skala penuh; terutama jika kepemimpinan Iran menyimpulkan bahwa AS menggunakan gencatan senjata dan pertukaran diplomatik sebagai kedok untuk secara bertahap meningkatkan tekanan pada Teheran,” kata peneliti Iran di SWP Berlin, Hamidreza Azizi.

Secara terpisah, Pusat Kendali Operasi Gabungan Arthesh, Khatam Al-Anbiya, menyebut AS menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. AS juga menyerang sejumlah lokasi di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm. Arthesh adalah militer reguler Iran dan terpisah dari Garda Revolusi Iran (IRGC).

Menurut Iran, AS lebih dulu menyerang kapal Iran dekat Selat Hormuz. ”Laporan lokasi serangan AS menunjukkan wilayah operasi CENTCOM semakin mendekati wilayah Iran,” kata Azizi seraya menyebut pencegatan terhadap kapal-kapal Iran sebelumnya dilakukan AS di Samudra Hindia.

Selain AS, Iran menuding ada negara lain terlibat dalam baku tembak pada Kamis malam waktu setempat. Meski tak secara spesifik menyebut negara tertentu, sejumlah pihak menduga yang dimaksud Iran adalah Uni Emirat Arab (UEA).

Sejak memulai pembalasan atas serangan AS-Israel, Iran berulang kali menyasar berbagai lokasi di UEA. Iran berkilah menyasar fasilitas dan kepentingan AS di UEA.

Bahkan, pada Jumat pagi waktu setempat, artileri pertahanan udara UEA dilaporkan menangkis rudal dan pesawat nirawak. Abu Dhabi tak menyebut asal serangan. Seperti sebelumnya, pemerintah UEA tetap meminta warga tidak merekam serangan dan puing rudal atau pesawat nirawak yang jatuh.

Meski sudah saling serang lagi, Trump kepada ABC, Kamis (7/5/2026), mengatakan gencatan senjata masih berlaku. Trump tak menganggap serius baku tembak itu. ”Itu hanya ’tepukan’ ringan saja. Kita akan menghancurkan mereka dengan lebih keras dan lebih brutal jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan,” ujarnya.

TOPSHOT - A handout picture released by the Marine Nationale (French Navy) on May 6, 2026 shows the flight deck of the French Navy's flagship aircraft carrier Charles de Gaulle transiting the Suez Canal en route to the southern Red Sea to pre?position for a possible mission to restore navigation in the Strait of Hormuz. Washington believes it is close to reaching an agreement with Iran to reopen the Strait of Hormuz and end the war, US news outlet Axios reported, citing two US officials. (Photo by Handout / Marine Nationale / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / MARINE NATIONALE (FRENCH NAVY)" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Media-media pemerintah Iran kemudian melaporkan situasi kini kembali normal. Ini bukan pertama kalinya kedua pihak saling baku tembak sejak gencatan senjata dimulai. AS telah mengajukan proposal untuk secara resmi mengakhiri konflik.

Namun, proposal itu tidak membahas tuntutan utama AS agar Iran menangguhkan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz. Kerangka kerja yang diusulkan akan berlangsung dalam tiga tahap, yakni secara resmi mengakhiri perang, menyelesaikan krisis Selat Hormuz, dan meluncurkan jendela waktu 30 hari untuk negosiasi mengenai kesepakatan yang lebih luas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, Iran akan mengomunikasikan posisinya kepada mediator Pakistan setelah membuat keputusan. Sebelum baku tembak terjadi lagi, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sempat menyampaikan dengan nada optimistis bahwa AS dan Iran akan mencapai gencatan senjata jangka panjang.

Juru bicara Kemlu Pakistan, Tahir Andrabi, mengatakan, Menlu Pakistan Ishaq Dar sudah berbicara melalui telepon dengan Menlu Iran Abbas Araghchi. ”Kami mengharapkan kesepakatan secepatnya,” ujarnya.

Sejumlah Kapal Tanker yang Bisa Melewati Selat Hormuz

Kapal terjebak

Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (IMO) mengatakan sekitar 1.500 kapal terjebak di Teluk karena blokade Iran di Selat Hormuz. Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez kepada Konvensi Maritim Amerika di Panama mengatakan, selain 1.500 kapal, ada sekitar 20.000 awak yang juga terjebak.

”Para awak yang terdampar ini orang-orang tidak bersalah yang bekerja setiap hari untuk kepentingan negara lain tetapi jadi ikut terjebak akibat situasi geopolitik di luar kendali mereka,” kata Dominguez kepada para eksekutif industri dan perwakilan IMO.

Akibat sekitar 30 serangan terhadap kapal, ada 10 pelaut yang tewas. IMO mendesak agar menghindari pengiriman kapal ke Teluk supaya tidak menambah jumlah korban jiwa di kalangan pelaut atau kerugian ekonomi lebih lanjut.

Dalam perkembangan regional lainnya, pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon dijadwalkan dilanjutkan pekan depan di Washington, AS. Menurut rencana akan diadakan pada 14-15 Mei 2026. Ini akan menjadi pertemuan ketiga dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, bursa AS bereaksi negatif atas perkembangan di Timur Tengah. Sejumlah indeks di bursa AS segera terkoreksi selepas terdengar kabar serangan itu. Harga minyak juga kembali naik.

Pasar gelisah pada peluang eskalasi lanjutan. Mereka tak begitu saja menerima pernyataan Trump bahwa perundingan masih diupayakan. Sebab, sampai sekarang belum ada kejelasan kapan AS-Iran akan kembali berunding. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar