Kontribusi Senyap untuk Tanah Air (8)

Berkarier di luar negeri bukan berarti mengabaikan Indonesia begitu saja. Sebagian diaspora Indonesia tetap peduli dan berkontribusi dari jauh secara senyap.

04 Des 2024 06:01 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Melati Mewangi, Insan Alfajri, Stefanus Ato, Pandu Wiyoga, Sarie Febriane

Keputusan diaspora Indonesia berkarier di luar negeri masih dipandang sinis bagi sebagian orang. Padahal, meski jauh dari Tanah Air, mereka tetap kembali ke kampung halamannya dengan caranya sendiri. Ada kontribusi yang mereka dedikasikan untuk masyarakat luas.

Singapura terasa melambat pagi itu. Mungkin karena hari libur. Para pekerja ”Negeri Singa” rehat sejenak dan punya waktu luang menerima tamu di rumah, termasuk Ainun Najib. Ia termasuk warga Indonesia yang telah puluhan tahun merantau di sana.

Saat Kompas mendatangi rumahnya di Bukit Batok, Minggu (27/10/2024) pagi, Ainun masih belanja di pasar. Tak lama berselang, ia muncul bersama istri dan dua anaknya. Ainun dan istri berjalan kaki, sementara dua anak mereka menggenjot sepeda mini.

Lelaki asal Gresik, Jawa Timur itu mengenakan peci hitam, dan logat bicara Jawa Timur an. ”Selamat datang di Singapura, mari masuk,” ujarnya sambil bersalaman.

Di tahun 2020, Ainun dan beberapa rekan menginisiasi gerakan KawalCovid19 yang bertujuan membagikan informasi tentang Covid-19 secara akurat berbasis data di lapangan.

Keprihatinan ini muncul setelah melihat kondisi masyarakat yang bingung karena ketidakpastian informasi Covid-19. ”Waktu itu simpang siur, banyak informasi yang tidak berbasis sains. Jadi kami kumpulin orang-orang profesional di bidangnya,” kata Ainun.  

Oleh karena Ainun tidak berdomisili di Indonesia, koordinasi tim KawalCovid19 dilakukan melalui grup Whatsapp. Dia tidak sendirian, banyak sukarelawan yang terlibat di dalamnya. Di balik gerakan ini ada dokter-dokter dan ahli epidemiolog yang ’ditodong’ untuk menulis artikel-artikel di laman kawalcovid19.id.   

Ainun Najib saat ditemui di rumahnya di Bukit Batok, Singapura, Minggu (27/10/2024). Ainun adalah jebolan olimpiade matematika yang lanjut kuliah di Singapura lewat beasiswa Asean Undergraduate Scholarship.

Sejak 2003, ia merantau ke Singapura untuk studi S-1 Computer Engineering di Nanyang Technological University. Jurusan ini bukan tujuan awalnya. Meski begitu, ia tetap lanjut dengan studi itu hingga membuatnya piawai dalam dunia teknologi dan data. Tak heran jika dia menggagas sejumlah gerakan yang berkaitan dengan bidang tersebut. Dia juga menginisiasi gerakan KawalPemilu dan KawalMasaDepan.  

Gerakan KawalMasaDepan masih berkaitan dengan pandemi Covid-19. Tujuannya membantu anak yatim/piatu yang orangtuanya meninggal akibat pandemi Covid-19. Siapa pun bisa memberikan donasi dan menjadi orangtua asuh.  

Tangkapan layar dari laman Kawal Covid-19 yang diinisiasi oleh Ainun Najib.

Sensor gempa  

Di Amerika Serikat, ada Oki Gunawan yang punya kisah mirip Ainun Najib. Sebagai research staff member IBM TJ Watson Research Center AS, Oki banyak menghasilkan penelitian dan paten sejak 2008. Namanya harum di mancanegara dengan berbagai penelitiannya. Misalnya, dia berhasil mengembangkan teori Efek Hall yang merupakan misteri selama 140 tahun pada 2019. Berbagai penghargaan di dalam dan luar negeri telah dikantonginya.   

Hidup dan bekerja di luar negeri, juga tak lantas membuat Oki lupa akan Indonesia. Risetnya justru berkaitan dengan Indonesia, yakni sensor gempa.   

Pada kurun tahun 2018-2019 beberapa wilayah di Indonesia dilanda gempa bumi. Sebagai bagian dari program CSR, Kantor IBM di Indonesia mengontak IBM pusat di Amerika Serikat untuk membantu program asistensi teknologi untuk mengevaluasi teknologi kegempaan di Indonesia.   

Gayung bersambut Oki dikontak kantornya dan dikirim ke Indonesia untuk menjelaskan penelitian dan paten teknologi itu ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Oki dan tim mulai melakukan riset ini sejak 9 tahun lalu. Berawal dari riset mencari fenomena baru di alam berkaitan dengan fisika dan elektro. Oki berhasil menemukan efek punuk unta (camelback effect).

Oki Gunawan, fisikawan Indonesia yang berkiprah di pusat penelitian Thomas J Watson milik perusahaan teknologi asal Amerika Serikat International Business Machines. Ia menerima Anugerah Kehormatan Inovator 2019 Teknologi Semikonduktor dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi di Jakarta, Senin (9/12/2019).

Wujudnya berupa dua keping magnet dan sebatang grafit yang bisa mengambang di antara keduanya. Ini berpotensi dikembangkan menjadi sensor gempa jenis baru karena lebih sensitif dalam mendeteksi frekuensi getaran.     

Pada 2023, Oki dan timnya menandatangani perjanjian transfer teknologi termasuk lisensinya. Sensor gempa akan diproduksi Institut Teknologi Del (IT Del) dan mitra-mitranya.   

Selama ini, harga alat deteksi gempa cukup mahal. Dia mengembangkan sensor jenis baru yang lebih sensitif dan harganya murah untuk mendeteksi gempa.   

”Indonesia bisa memproduksi sensor gempa sendiri dalam waktu dekat. Kami harapkan bisa benar membantu proses dan aktivitas pemantauan gempa dan mitigasi gempa di Indonesia,” katanya.  

Suatu riset membutuhkan usaha keras dan kreativitas peneliti untuk bisa menghasilkan sesuatu. Ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi harus dilatih terus-menerus. Menurut Oki ekosistem riset di AS amat kental terlihat sejak berada di bangku sekolah, terutama bangku kuliah.  

Infografik Kekuatan dan Kelemahan Inovasi Indonesia 2024

Oki mencontohkan, seorang mahasiswa yang melakukan penelitian dituntut kreatif menelurkan ide baru. Bahkan para profesor di sana sering menantang mahasiswa agar lebih kreatif dan lebih kritis dalam berpikir. Mahasiswa juga harus membuat laporan rutin untuk dievaluasi bersama dengan profesornya.   

Sementara di dunia kerja, lanjut Oki, riset bukan hanya untuk menghasilkan publikasi artikel ilmiah, tetapi bisa sampai dipatenkan, sehingga menjadi kekayaan intelektual. Orang-orang dan perusahaan justru berlomba melakukan riset dan penemuan baru.   

”Riset bukan untuk menulis paper atau menjadi profesor. Kita ingin benar-benar menghasilkan produk yang berguna bagi masyarakat,” tegas Oki.  

Berdasarkan laporan World Intellectual Property Organization (WIPO) terkait Global Innovation Index (GII) tahun 2023, AS berada di peringkat ke-3 dari 50 negara ekonomi berpendapatan tinggi. Dibandingkan tahun 2021, AS turun satu tingkat.   

Pilar ”knowledge and technology outputs” di Amerika Serikat berada di kedua setelah ”market sophistication dan business sophistication”. Komponen ”knowledge and technology outputs” meliputi, antara lain paten, artikel ilmiah, sitasi dokumen, pertumbuhan produktivitas tenaga kerja, penyebaran pengetahuan, penerimaan kekayaan intelektual, dan ekspor teknologi tinggi.   

Anak-anak mengikuti kegiatan edukatif dengan bimbingan sukarelawan dari Yayasan Literasi Desa Tumbuh di Dusun Betakan, Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (2/11/2024).
Anak-anak mengikuti kegiatan edukatif dengan bimbingan sukarelawan dari Yayasan Literasi Desa Tumbuh di Dusun Betakan, Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (2/11/2024).
Sukarelawan dari Yayasan Literasi Desa Tumbuh mendampingi anak-anak membaca buku cerita di Dusun Betakan, Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (2/11/2024).

Literasi desa tumbuh   

Soal berkarier di luar negeri yang tak membatasi kontribusi bagi Tanah Air, juga dijalankan Noor Huda Ismail. Pria asal Yogyakarta ini bekerja sebagai visiting fellow di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU).  

Meski Huda berdomisili di Singapura, tetapi ia tetap ’kembali’ ke kampung halamannya di Moyudan, Yogyakarta, dengan menginisiasi Yayasan Literasi Desa Tumbuh. Tujuan awalnya, guna memberdayakan masyarakat sekitar melalui Omah Betakan, sebuah tempat penginapan, kafe, dan ruang terbuka tempat kumpulnya komunitas.  

Pengalamannya keliling luar negeri memperkaya pandangannya bahwa di beberapa negara pemerintahnya menyubsidi desa. ”Mimpiku ke depan adalah pembangunan itu di desa. Kalau kamu orang kota, nanya dong orang desa itu kebutuhannya apa,” kata Huda  

Seiring waktu, yayasan berkembang dengan hadirnya perpustakaan dan pelatihan seni untuk warga sekitar. Pembangunan perpustakaan dan ruang berkumpulnya sudah dilakukan sejak 2020. Lalu, kegiatan untuk anak-anak desa secara rutin baru aktif dibuka pada Mei 2024. Audiensnya adalah anak-anak sekitar kampung yang dikumpulkan setiap Sabtu pagi.  

Pengamat terorisme Noor Huda Ismail saat ditemui di rumahnya yang berada di Pasir Ris, Minggu (27/10/2024). Huda bekerja sebagai peneliti di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU).

Mereka melakukan banyak aktivitas, antara lain belajar, bermain, membaca buku bersama, latihan menari, latihan bermain musik, dan berinteraksi sosial dengan sesama. Ada sekitar 40 anak yang ikut bergabung.   

Sebagian sukarelawan yang mengoordinasi acara adalah mahasiswa-mahasiswa di Yogyakarta. Mereka giat untuk mencari ide kegiatan yang akan dilakukan setiap Sabtu sehingga anak-anak mendapatkan ilmu baru. Mereka percaya pengetahuan dan pembelajaran yang diberikan menjadi bekal bermanfaat bagi mereka di masa depan.   

Kisah Ainun, Oki, dan Huda membuktikan bahwa mereka tetap peduli Indonesia meski di luar negeri. Mereka tetap berkontribusi bagi dengan caranya masing-masing.


Kerabat Kerja

Penulis:

Melati Mewangi, Insan Alfajri, Stefanus Ato, Pandu Wiyoga, Sarie Febriane
 | 

Editor:

Sarie Febriane, Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase