Di tengah perundingan AS-Iran, Presiden Trump belum mengendurkan tekanannya. Ia memberlakukan tarif 25 persen bagi negara yang berbisnis dengan Iran.
07 Feb 2026 11:33 WIB · Internasional
AFP/Brendan Smialowski
WASHINGTON, SABTU — Perundingan Amerika Serikat dengan Iran terkait program nuklir Teheran memberi sinyal positif. Perwakilan kedua negara saling bertukar pandangan dalam pertemuan di Muskat, Oman, Jumat (6/2/2026). Namun, sinyal positif itu belum meredakan tekanan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran.
Trump telah menandatangani perintah eksekutif untuk memberlakukan tarif sebesar 25 persen pada negara mana pun yang berbisnis dengan Iran. Langkah tersebut untuk mencegah sejumlah negara itu menjalin hubungan komersial dengan Iran, khususnya di bidang energi, logam, dan petrokimia. Komoditas tersebut selama ini menjadi sumber pendapatan utama Pemerintah Iran.
”Trump menandatangani perintah yang memberlakukan sanksi sekunder atas bisnis dengan Iran,” tulis keterangan Gedung Putih, Jumat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/07/3cd0d9da66900ce13c3b4737d05558c9-US_POLITICS_TRUMP_DEPARTURE_135846802.jpg)
”Kami juga mengadakan pembicaraan yang sangat baik tentang Iran. Kami akan bertemu lagi awal pekan depan,” kata Trump di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan menuju resor Mar-a-Lago miliknya di Florida, AS.
Akan tetapi, Trump memperingatkan akan ada konsekuensi jika tidak ada kesepakatan mengenai program nuklir Iran. Sebelum perundingan itu, Trump bahkan mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Iran.
Salah satu pemicunya adalah aksi represif aparat Iran terhadap para pengunjuk rasa di negara itu. Data Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS menyebutkan, 6.495 demonstran dipastikan telah tewas selama gelombang protes. Selain itu, 214 anggota pasukan keamanan dan 61 warga sipil juga meninggal.
Ketegangan dengan Iran juga membuat AS meningkatkan kekuatan militernya di Timur Tengah. Januari lalu, AS mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perang ke Laut Arab.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/07/80cad29d3f94bd349d3e54ff509c6cf6-TOPSHOT_US_IRAN_PROTEST_POLITICS_DEFENCE_135746552.jpg)
Pada Selasa (3/2/2026), jet tempur AS menembak jatuh pesawat nirawak (drone) Iran di Laut Arab. AS menyebutkan drone Shahed-139 milik Iran ditembak saat mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln. Pada hari yang sama, pasukan Iran mencoba menahan kapal tanker berbendera AS di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, pertemuan dengan AS di Muskat merupakan awal yang baik untuk bernegosiasi. Dalam pertemuan itu, AS diwakili Utusan Khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.
”Dalam suasana yang sangat positif, argumen kami dipertukarkan dan pandangan pihak lain dibagikan kepada kami,” ujarnya.
Iran hanya berfokus membahas program nuklirnya dalam pertemuan tersebut. Menurut Araghchi, kedua pihak bersepakat untuk melanjutkan negosiasi di waktu mendatang.
Iran telah memperingatkan negara-negara tetangganya yang menjadi tempat pangkalan AS bahwa mereka dapat berada di garis tembak jika terlibat dalam serangan.
”Ada pemahaman untuk melanjutkan pembicaraan. Koordinasi tentang bagaimana melanjutkan negosiasi akan diputuskan di ibu kota (Teheran). Jika proses ini berlanjut, saya pikir kita akan mencapai kerangka kerja yang baik,” jelasnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/06/7c14c8398faf8ab26894f44e4855c2b3-OMAN_IRAN_US_DIPLOMACY_135825074.jpg)
Araghchi berharap AS menahan diri untuk tidak melancarkan ancaman dan tekanan terhadap Iran. Hal ini bertujuan agar perundingan dapat berlanjut dalam waktu yang akan ditentukan.
AS dan negara Barat lainnya menuding program nuklir Iran bertujuan untuk membuat bom atom. Namun, Teheran telah berulang kali membantahnya dan menjelaskan program nuklir itu untuk tujuan penelitian dan pengembangan energi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/18/089da439-ea6b-4c95-ac45-fc9e0e33e13a.jpg)
Di sisi lain, AS menginginkan perundingan lebih luas, bukan sebatas program nuklir Iran. ”AS ingin memperluas pembicaraan yang mencakup rudal balistik Iran, dukungan untuk kelompok bersenjata di sekitar kawasan, dan perlakuan terhadap rakyat mereka sendiri,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Perundingan AS-Iran berlangsung dalam beberapa sesi. Komandan Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper, yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah, turut hadir dalam pertemuan itu.
Dari pagi hingga siang hari, perwakilan kedua negara bolak-balik di kediaman Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi. ”Kami bertujuan untuk bertemu kembali pada waktunya,” ujar Albusaidi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/06/80411a5e38b3db080aedd4d484712b80-Iran_US_Oman_135822537.jpg)
Berbagai pihak menunggu hasil negosiasi AS-Iran. Kegagalan perundingan itu dikhawatirkan memicu konflik luas yang melibatkan banyak negara. Pasokan utama minyak dari Timur Tengah pun berpotensi terganggu.
Iran telah bersumpah akan memberikan respons keras terhadap serangan apa pun. Iran telah memperingatkan negara-negara tetangganya yang menjadi tempat pangkalan AS bahwa mereka dapat berada di garis tembak jika terlibat dalam serangan. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji