NILAI TUKAR RUPIAH

Terapresiasi, Rupiah Dibayangi Sentimen Moody’s

Rupiah bergerak mengikuti dinamika, baik dari pasar keuangan global maupun domestik. Salah satu risiko dari domestik ialah kredibilitas yang disorot oleh Moody’s.

09 Feb 2026 11:52 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS – Nilai tukar rupiah dalam perdagangan pasar spot pada Senin (9/2/2026) pagi sedikit menguat ke level Rp 16.866 per dolar AS. Penguatan ini sejalan dengan melemahnya indeks dolar AS terhadap mata uang utama. Di sisi lain, pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi risiko kredibilitas.

Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,06 persen menjadi Rp 16.866 dibandingkan penutupan pasar sebelumnya. Rata-rata rupiah diperdagangkan dalam kisaran Rp 16.860-Rp 16.877 per dolar AS.

Apresiasi mata uang ”Garuda” tersebut sejalan dengan melemahnya indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY). Pada saat yang sama, DXY melemah 0,04 persen ke level 97,59 dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, DXY cenderung menurun, berada di bawah level 98 sejak sesi perdangan sebelumnya. Meski demikian, dolar AS masih memiliki daya tarik sebagai aset yang aman (safe-haven) dalam sepekan ke depan.

”Data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi, seiring dengan penjualan besar-besaran di sektor teknologi dan penurunan tajam aset kripto, memicu pergerakan menuju aset aman,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin.

infografik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Kurs Rupiah terhadap Dolar AS dalam Lima Tahun Terakhir

Saat ini, investor tengah menantikan laporan tenaga kerja AS yang tertunda dan rilis inflasi minggu depan untuk memproyeksikan kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sekitar 50 basis poin sepanjang 2026.

Di sisi lain, Andry melanjutkan, nilai tukar rupiah pada perdagangan 6 Februari 2026 terdepresiasi 0,21 persen ke level Rp 16.866 per dolar AS. Dengan demikian, rupiah sepanjang tahun kalender berjalan melemah 1,05 persen.

”Kami memperkirakan rupiah terhadap dolar AS pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp 16.845-Rp 16.920,” ujarnya.

Quote

Obligasi tetap didukung oleh carry dan ekuitas oleh aliran domestik. Namun, sensitivitas pasar valuta asing dan tekanan yield global menjaga premi risiko tetap volatil menegaskan pentingnya stabilisasi BI dan eksekusi reformasi untuk menambatkan kepercayaan investor.

Ekonom senior di Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, dalam kajiannya menilai, pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi gejolak tinggi akibat risiko kredibilitas. Ini menyusul koreksi prospek peringkat kredit Pemerintah Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Ratings, 5 Februari 2026.

Moody’s menegaskan peringkat Indonesia tetap di level Baa2 atau investment grade. Kendati demikian, Moody’s merevisi prospek kredit Indonesia, dari stabil menjadi negatif. Mereka menyoroti risiko prediktabilitas kebijakan dan tata kelola, bukan kelemahan makro.

”Obligasi tetap didukung oleh carry dan ekuitas oleh aliran domestik. Namun, sensitivitas pasar valuta asing dan tekanan yield global menjaga premi risiko tetap volatil menegaskan pentingnya stabilisasi BI (Bank Indonesia) dan eksekusi reformasi untuk menambatkan kepercayaan investor,” ujarnya.

Pegawai perusahaan penukaran uang asing Valuta Artha Mas di ITC Kuningan, Jakarta, menghitung dan melihat kondisi lembaran uang dollar AS, Rabu (19/11/2025). Setelah selama dua hari sebelumnya tertekan, hari ini, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia, rupiah menguat 28 poin dari hari sebelumnya menjadi Rp 16.732 per dollar AS. *** Local Caption ***

Menurut dia, revisi prospek menjadi negatif oleh Moody’s mencerminkan sensitivitas investor terhadap koherensi kebijakan dan komunikasi, alih-alih fundamental makroekonomi Indonensia. Maka, kerangka stabilisasi pasar valas oleh BI dan besarnya cadangan devisa tetap menjadi jangkar utama kepercayaan pasar.

Sebelumnya, Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan, penurunan peringkat dari Moody’s berisiko membuat arus modal investasi asing keluar dari pasar keuangan domestik. Akibatnya, aliran modal masuk pun berkurang.

Selain itu, penurunan prospek peringkat juga berisiko mengakibatkan Indonesia harus membayar suku bunga lebih tinggi untuk mendapatkan pinjaman dana. Alhasil, beban utang pun semakin tinggi dan peningkatan biaya pinjaman tersebut dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

”Saat ini, nilai rupiah semakin tertekan terhadap dolar AS. Maka, ini (penurunan prospek peringkat) akan memicu rupiah tembus Rp 18.000 per dolar AS dan dapat meningkatkan inflasi dan biaya impor,” katanya saat dihubungi pada Kamis.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul