Lonjakan penumpang transportasi umum pada pertengahan 2025 menunjukkan peningkatan kesadaran warga bahwa layanan massal lebih efisien dibanding kendaraan pribadi.
02 Sep 2025 13:43 WIB · Metropolitan
Bagi banyak warga Ibu Kota, transportasi umum semakin dirasakan sebagai kebutuhan sehari-hari. Lonjakan jumlah penumpang pada pertengahan 2025 mencerminkan kesadaran masyarakat mengenai layanan transportasi massal jauh lebih efisien dibanding kendaraan pribadi kian meningkat.
Kirana (29), pegawai kantoran asal Rawamangun, Jakarta Timur, setiap hari mengandalkan transportasi umum untuk berangkat ke kantornya di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Baginya, transportasi umum adalah penopang utama aktivitas sehari-hari.
”Kalau saya harus bawa kendaraan pribadi, mungkin waktu tempuh bisa dua kali lipat karena macet. Belum lagi capek nyetir, cari parkir, dan biaya bensin. Dengan naik transportasi umum, saya lebih tenang dan hemat,” ujar Kirana, Selasa (2/9/2025).
Biasanya, Kirana memilih Transjakarta Koridor 4 (Pulo Gadung 2-Dukuh Atas 2). Dari Halte Rawamangun, ia bisa langsung menuju Dukuh Atas yang terintegrasi dengan kawasan perkantoran Sudirman.
Terkadang, ia juga memilih naik Transjakarta dari Rawamangun menuju Stasiun Jatinegara, lalu melanjutkan perjalanan dengan KRL menuju Stasiun Sudirman.
Menurut Kirana, meski busway memiliki jalur khusus, kenyataannya perjalanan kerap terhambat. Kendaraan pribadi yang masuk jalur, kemacetan di simpang padat, hingga antrean panjang di halte sering kali membuat perjalanannya molor. Tak jarang, ia harus berdesakan di dalam bus.
”Kadang memang penuh sekali, sampai harus berdiri dari awal perjalanan sampai akhir. Tapi, mau bagaimana lagi,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/01/042011957bd47811a12e5a6bfe2533e3-FAK_7079.jpg)
Situasi makin sulit ketika kerusuhan pada akhir Agustus 2025 berimbas pada rusaknya sejumlah halte Transjakarta. Jalur reguler yang biasa ia gunakan terpaksa dialihkan sehingga perjalanan ke kantor menjadi lebih lama.
”Biasanya bisa langsung turun di Dukuh Atas, tapi karena ada sebagian halte ditutup, saya harus muter dulu. Itu bikin waktu tempuh jadi lebih panjang,” katanya.
Pengalaman itu membuat Kirana sadar betapa rentannya mobilitas warga ketika fasilitas publik rusak. Baginya, halte atau stasiun bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga simpul penting yang menentukan kelancaran perjalanan ribuan orang setiap harinya.
Tren penggunaan transportasi umum yang terus meningkat juga terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta yang diunggah pada Senin (1/9/2025). Lonjakan signifikan jumlah penumpang pada Juli 2025 menunjukkan semakin banyak masyarakat yang beralih ke moda publik.
MRT Jakarta, misalnya, mencatat 4,35 juta penumpang sepanjang Juli 2025, naik 20,67 persen dibanding Juni dan meningkat 15,07 persen dibanding Juli 2024.
Secara kumulatif Januari-Juli 2025, jumlah pengguna mencapai 25,06 juta orang atau tumbuh 15,77 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi operasional, jumlah perjalanan MRT pada Juli 2025 tercatat 8.307 perjalanan, naik 6,60 persen atau bertambah 514 perjalanan dibanding Juni yang berjumlah 7.793 perjalanan. Meski demikian, jika dibandingkan dengan Juli 2024, jumlah perjalanan relatif stagnan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/18/2c83e52fb5d4c06f6743ffeab3766b71-20250818RZF08.jpg)
Secara kumulatif Januari-Juli 2025, total perjalanan MRT mencapai 55.195 perjalanan, sedikit turun 0,25 persen atau berkurang 141 perjalanan dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kendati frekuensi perjalanan tidak banyak berubah, lonjakan jumlah penumpang memperlihatkan tren peningkatan mobilitas warga yang memanfaatkan MRT Jakarta. Moda berbasis rel ini kian dipandang sebagai solusi transportasi yang cepat, efisien, dan mampu mengurai beban lalu lintas jalan raya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta menyebutkan, sepanjang Juli 2025 terdapat tiga relasi perjalanan favorit pelanggan, yakni Stasiun Blok M BCA-Stasiun Dukuh Atas BNI dengan 152.000 penumpang, Stasiun Dukuh Atas BNI-Stasiun Blok M BCA dengan 146.000 penumpang, serta Stasiun Senayan Mastercard-Stasiun Dukuh Atas BNI dengan 136.000 penumpang.
Secara konsisten, tren peningkatan keterangkutan (ridership) juga terlihat di lima stasiun utama, yaitu Dukuh Atas BNI, Bundaran HI Bank DKI, Lebak Bulus, Blok M BCA, Senayan Mastercard, dan Istora Mandiri.
Sepanjang Juli 2025, KRL Jabodetabek juga melayani 31.400.484 penumpang. Angka itu naik 7,39 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 29.240.516 orang. Volume tertinggi pada Juli 2025 tercatat pada Selasa (7/7/2025), yakni 1.192.018 penumpang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/17/57ae3b23b4a3c9e2e40ee466446a8222-20250817SETJ.jpg)
Transjakarta juga menunjukkan tren positif. Menurut data BPS DKI Jakarta, jumlah penumpang pada Juli 2025 mencapai 37,6 juta orang, naik 15,07 persen dibanding Juni 2025 yang berjumlah 32,6 juta penumpang.
Jika dibandingkan Juli 2024, jumlah ini juga tumbuh 5,94 persen dari posisi 35,5 juta penumpang. Secara kumulatif Januari-Juli, Transjakarta telah melayani 226,8 juta penumpang, naik 5,25 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan jumlah pengguna turut diimbangi penambahan armada. Dibandingkan Juli 2024, jumlah unit bus Transjakarta yang beroperasi naik 12,90 persen atau bertambah 570 unit.
Adapun sepanjang Januari-Juli 2025, jumlah operasional bus tercatat 33.302 unit, meningkat 7,17 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Sementara itu, LRT Jakarta mencatat 6.324 perjalanan sepanjang Juli 2025. Angka ini naik 3,33 persen dibanding Juni 2025 yang sebanyak 6.120 perjalanan. Namun, jika dibandingkan dengan Juli 2024, jumlah perjalanan tidak berubah atau sama persis.
Secara kumulatif, jumlah perjalanan LRT Jakarta hingga Juli 2025 tercatat 43.198 perjalanan, atau menurun tipis 0,57 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan operasional LRT relatif stabil, tetapi belum menunjukkan pertumbuhan berarti dari tahun ke tahun.
Dari sisi penumpang, tren bulanan memperlihatkan peningkatan. Total penumpang LRT Jakarta pada Juli 2025 mencapai 118.013 orang, naik 14,82 persen atau bertambah 15.236 orang dibanding Juni 2025 yang tercatat 102.777 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/20/17d200f9b6097d39a8e269504c2628c3-20250820rad01.jpg)
Namun, secara tahunan justru terjadi penurunan. Jumlah penumpang pada Juli 2025 turun 10,90 persen atau berkurang 14.443 orang dibanding Juli 2024 dari sebelumnya 132.456 orang menjadi 118.013 orang.
Penurunan tahunan ini mencerminkan tantangan mendasar yang masih dihadapi LRT Jakarta. Rute yang masih terbatas pada jalur Kelapa Gading-Velodrome membuat jangkauannya relatif kecil sehingga sulit bersaing dengan moda lain yang lebih luas dan terintegrasi.
Adapun secara kumulatif Januari-Juli 2025, total penumpang LRT Jakarta mencapai 692.075 orang. Angka ini hanya naik tipis 0,03 persen atau bertambah 222 orang dibanding periode yang sama tahun lalu yang berjumlah 691.853 orang.
Di sisi lain, pembangunan LRT Jakarta Fase 1B (Velodrome-Manggarai) tengah dikebut sebagai upaya memperluas jangkauan. Direktur Proyek LRT Jakarta Ramdani Akbar mengatakan, per 31 Juli 2025, progres konstruksi sudah mencapai lebih dari 61,79 persen, meningkat dari 52,78 persen pada Mei 2025.
Jalur baru sepanjang 6,4 kilometer ini akan menambah lima stasiun, yakni Pemuda Rawamangun, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai, dan ditargetkan beroperasi pada 2026.
Dengan tambahan rute ini, LRT Jakarta diharapkan mampu menarik lebih banyak penumpang, meningkatkan integrasi dengan moda lain, seperti KRL dan Transjakarta, serta mengurangi ketergantungan warga pada kendaraan pribadi.
”Proyek LRT Jakarta Fase 1B ini memang salah satu bagian dari gerak besar Kota Jakarta menuju kota global yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” kata Ramdani.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/19/fb38c238d6f760b1ad7d6496926b4ba3-20250819YGA02.jpg)
Selain itu, BPS DKI Jakarta juga mencatat perekonomian Ibu Kota mengalami deflasi sebesar 0,05 persen (month-to-month/mtm) pada Agustus 2025. Indeks Harga Konsumen (IHK) turun tipis dari 107,40 pada Juli menjadi 107,35 pada Agustus.
Kepala BPS DKI Jakarta Nurul Hasanudin mengatakan, tren ini berbalik dari kondisi Agustus 2024, yang justru mencatat inflasi 0,04 persen. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi DKI Jakarta mencapai 2,16 persen, sedangkan secara tahun kalender (year-to-date/ytd) tercatat sebesar 1,57 persen.
Deflasi pada Agustus terutama dipicu oleh turunnya harga di sejumlah kelompok pengeluaran utama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat turun 0,69 persen dengan andil terhadap deflasi sebesar -0,14 persen. Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki turun 0,20 persen (andil -0,01 persen), serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,06 persen.
Komoditas yang paling menekan inflasi, antara lain, tomat, cabai rawit, cabai merah, bawang putih, serta daging ayam ras. Pada kelompok transportasi, harga bensin sempat turun, tetapi dampaknya tertahan oleh kenaikan tarif jalan tol, angkutan laut, dan kereta api setelah berakhirnya program diskon tarif.
BPS juga mencatat tingkat hunian kamar (TPK) hotel bintang pada Juli 2025 mencapai 55,91 persen, naik 1,68 poin (yoy) dan 3,56 poin (mtm). Sebaliknya, TPK hotel nonbintang hanya sebesar 41,74 persen, turun 2,78 poin dibanding Juli 2024, meski naik 0,87 poin dari Juni 2025.
Menurut Nurul, data ini menunjukkan bahwa perekonomian Jakarta dinamis dengan pergerakan harga, kinerja perdagangan, dan mobilitas masyarakat yang saling berinteraksi.
”Secara keseluruhan, pergerakan harga, perdagangan luar negeri, hingga aktivitas transportasi menunjukkan dinamika yang saling memengaruhi perekonomian Jakarta,” ujar Nurul.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto