Di balik laju pertumbuhan ekonomi yang kembali menembus 5 persen, denyut kehidupan rumah tangga belum sepenuhnya pulih. Konsumsi masyarakat kian tertatih.
06 Nov 2025 13:30 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS
Di balik laju pertumbuhan ekonomi yang kembali menembus 5 persen, denyut kehidupan rumah tangga Indonesia belum sepenuhnya pulih. Aktivitas produksi memang tercatat menggeliat, tetapi konsumsi masyarakat sebagai penopang utama ekonomi nasional justru masih tertatih. Terimpit minimnya kesempatan kerja dan daya beli yang kian tergerus.
Setelah tumbuh cukup mengesankan pada triwulan kedua yang lalu, kini ekonomi Indonesia kembali mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,04 persen pada triwulan III-2025. Terjaganya laju pertumbuhan di atas 5 persen itu didukung oleh hampir semua lapangan usaha pembentuknya. Dari 17 sektor pembentuk ekonomi yang dicatat oleh BPS, hanya sektor pertambangan yang mengalami kontraksi atau pertumbuhan minus. Adapun industri pengolahan masih tetap sebagai penyumbang utamanya dengan kontribusi 19,15 persen.
Dari sisi pengeluaran, semua komponen pembentuknya mencatatkan laju pertumbuhan positif. Ekspor menjadi kelompok pengeluaran dengan laju pertumbuhan terbesar di antara lainnya, yakni 9,91 persen. Hampir dua kali lipat dari laju pertumbuhan nasional. Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan nilai dan volume ekspor, baik barang maupun jasa, seperti komoditas lemak dan minyak nabati atau hewani, besi dan baja, serta mesin dan peralatan listrik pada kelompok barang. Sementara itu, ekspor jasa didukung oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara.
Meskipun begitu, laju pertumbuhan di atas 5 persen itu masih menyimpan sejumlah catatan krusial. Pasalnya, di balik pertumbuhan positif yang terjadi di hampir semua komponen pembentuknya, tanda-tanda perlambatan ekonomi kian diirasakan oleh masyarakat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/05/e2896f3ca2a9765eb34a3fab917ecc6f-20251105_H01_ARS_Laju_Pertumbuhan_Ekonomi_mumed.png)
Secara keseluruhan, laju pertumbuhan ekonomi triwulan ketiga tahun ini lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Jika ditelusuri lebih detail, kondisi serupa pun terjadi pada industri manufaktur. Meski masih tercatat sebagai penyumbang utama ekonomi nasional dan masih tercatat tumbuh positif, laju pertumbuhannya justru mengalami perlambatan, yakni dari 5,68 persen menjadi 5,54 persen.
Hal yang cukup mengkhawatirkan dari perlambatan industri itu sebagian besar menyasar pada industri nonmigas yang tergolong industri padat karya. Dengan demikian, menimbulkan dampak berganda (multiplier effect) cukup luas pada masyarakatnya. Sebagai contoh industri tekstil dan pakaian jadi, yang sejak awal tahun laju pertumbuhannya justru terus melemah. Malahan, industri alas kaki yang juga menyerap banyak tenaga kerja tercatat tumbuh minus.
Kondisi riil itu pun pada gilirannya turut memengaruhi perputaran ekonomi rumah tangga. Sama halnya dengan industri tekstil, konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar ekonomi nasional dari sisi pengeluaran juga sejatinya mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Alih-alih mendekat ke angka 5 persen, kini laju pertumbuhan pada triwulan III ini justru semakin bergeser ke bawah menjadi 4,89 persen dari triwulan sebelumnya sebesar 4,97 persen.
Kondisi itu menunjukkan bahwa momentum hari raya Lebaran 2025 yang berlangsung pada peralihan triwulan I ke triwulan II menjadi booster bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Hal ini menegasikan bahwa belanja-belanja masyarakat dan ekonomi secara nasional masih lebih banyak didorong oleh faktor musiman.
Melemahnya ekonomi rumah tangga pada triwulan III ini terjadi di berbagai lini belanja, mulai dari makanan dan minuman, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, kesehatan dan pendidikan, belanja akan kebutuhan hotel dan restoran.
Fakta itu mengonfirmasi catatan Bank Indonesia yang terdokumentasikan dalam Survei Keyakinan Konsumen yang beberapa bulan terakhir juga menunjukkan adanya penyusutan optimisme. Secara keseluruhan, indeks keyakinan konsumen sepanjang triwulan tiga (Juli-September) terus menyusut secara berkala. Kerapuhan ekonomi warga pada triwulan tersebut semakin terlegitimasi ketika Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang benar-benar menggambarkan kondisi saat itu juga semakin melemah tingkat optimismenya. Menyusut dari 106,6 menjadi 102,7 persen sepanjang periode pengamatan yang sama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/15/3a025e8bd5bce90bb3190de9b7ab0aae-20251015_DMS_Indeks_Kondisi_Ekonomi_Saat_Ini_mumed.jpg)
Jika ditelusuri lebih dalam, optimisme terhadap kondisi ekonomi sepanjang triwulan ketiga yang kian tergerus itu didorong oleh tingkat penghasilan yang tak sesuai harapan dan kebutuhan hingga kian menipisnya lapangan pekerjaan. Dalam memandang tingkat penghasilan, angka indeksnya terus merosot, dari 117,8 menjadi 112,9 sepanjang triwulan ketiga.
Selanjutnya, terhadap ketersediaan lapangan kerja, survei Bank Indonesia menemukan adanya pesimisme masyarakat. Sebab, angka indeksnya tak lagi mampu melampaui angka 100 sebagai garis tengah antara pesimisme dan optimisme. Angkanya pun semakin kecil, hingga menyentuh angka 92 pada September lalu. Sebuah gambaran riil bahwa kondisi ketenagakerjaan Indonesia relatif sulit menyerap angkatan kerja yang tersedia.
Hal itu pun tergambar jelas dari temuan baru BPS terkait perkembangan dunia lapangan kerja di Tanah Air. Gelombang PHK dan berbagai keluhan sulitnya lapangan kerja beberapa bulan belakangan terkonfirmasi oleh angka pengangguran yang tercatat meningkat pada Agustus 2025, jika dibandingkan kondisi awal tahun.
Kini jumlah penganggurannya sebanyak 7,46 juta orang atau naik sekitar 180.000 orang dibandingkan Februari 2025. Angka pengangguran terbukanya sebesar 4,85 persen. Tak hanya di perkotaan, angka pengangguran di perdesaan pun turut mengalami peningkatan. Namun, jika dibandingkan kondisi Agustus tahun lalu, angka pengangguran baru-baru ini tecatat menurun. Meskipun demikian, catatan terbaru menjadi sebuah sinyal perlunya perbaikan ekosistem ekonomi agar kesempatan dan peluang kerja baru semakin terbuka lebar.
Sebab, jika kondisi itu tak segera menemukan jalan keluarnya, berpotensi mengancam kinerja ekonomi secara keseluruhan. Bagi sebagian besar penduduk Tanah Air, pekerjaan masih menjadi satu-satunya sumber pendapatan lantaran finansial pasif masih belum marak di Indonesia. Jika sumber pemasukan pokok tak tersedia sebagaimana mestinya, belanja-belanja rumah tangga akan tertekan. Pada gilirannya, akan berdampak besar pada ekonomi nasional mengingat aktivitas konsumsi masyarakat masih menjadi penggerak utama ekonomi nasional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/29/f2c8f81ca65b78c316c14754ac06b72a-20251029_NNN_Pengangguran_Terbuka_mumed.png)
Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak cepat mengatur strategi agar ekonomi Indonesia tak kembali menyusut di pengujung tahun. Hal itu sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mewujudkan cita-cita pertumbuhan ekonomi 8 persen. Merujuk dokumen RPJMN 2025-2029, target awal sebelum menuju 8 persen pada 2029 adalah ekonomi nasional tumbuh 5,3 persen di tahun ini.
Jika merujuk catatan BPS selama dua tahun terakhir, setidaknya Indonesia harus mampu mencetak PDB berdasarkan harga konstan di angka Rp 14.530 triliun sepanjang tahun ini. Hal itu demi mewujudkan target yang sudah tercatatkan dalam RPJMN. Dengan demikian, Indonesia harus mampu mengumpulkan PDB sedikitnya Rp 3.900 triliun padat triwulan terakhir tahun ini. Dengan kata lain naik sekitar Rp 300 triliun dibandingkan triwulan III-2025 yang baru saja dirilis. Sebuah tantangan yang relatif tak mudah di tengah kondisi dunia yang masih penuh ketidakpastian.
Namun, melihat kecenderungan aktivitas belanja pemerintah yang biasanya masif di akhir tahun, mestinya bisa didesain untuk benar-benar mampu mendongkrak ekonomi nasional. Bukan hanya di atas kertas, melainkan idealnya dapat benar-benar mewujud secara riil dan mengalir ke kantong-kantong masyarakat.
Negara harus mampu kembali meyakinkan masyarakat bahwa cita-cita besar itu dapat tercapai tanpa menafikan kebutuhan riil warganya. Sejumlah lembaga dunia pun tampak lebih yakin memandang situasi ekonomi akhir tahun. Salah satunya terekam dalam rilis terbaru IMF yang menaikkan target pertumbuhan ekonomi global pada 2025 dari 3,0 persen menjadi 3,2 persen. Saatnya seluruh elemen bangsa bergandeng tangan untuk turut menjawab optimisme tersebut, terkhusus untuk pertumbuhan ekonomi di Tanah Air. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Agustina PurwantiEditor:
Budiawan Sidik APenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan