Preferensi terhadap Messi atau Ronaldo ternyata berkaitan dengan orientasi politik seseorang. Indonesia termasuk negara yang condong memilih Ronaldo.
20 Jun 2026 09:58 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
AP
Di warung kopi, ruang kelas, kantor, hingga media sosial, perdebatan tentang siapa yang lebih hebat antara pesepak bola Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo seolah tidak pernah berakhir. Perdebatan itu kembali memanas saat berlangsungnya Piala Dunia 2026 kali ini.
Sebagian orang memuja Messi sebagai seniman lapangan hijau yang pendiam, sederhana, dan mengutamakan permainan kolektif. Sebagian lain mengagumi Ronaldo sebagai simbol kerja keras, disiplin, ambisi, dan kemenangan individu.
Namun, bagaimana jika pilihan itu bukan sekadar soal sepak bola?
Sebuah penelitian internasional yang melibatkan lebih dari 10.000 responden di 26 negara menemukan bahwa preferensi terhadap Messi atau Ronaldo ternyata berkaitan dengan orientasi politik seseorang. Orang yang mengidentifikasi diri sebagai lebih liberal cenderung menyukai Messi, sementara mereka yang lebih konservatif cenderung memilih Ronaldo.
Temuan tersebut berasal dari studi yang dipimpin oleh Saifuddin Ahmed dari Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, dan dipublikasikan dalam Social Science Research Network (SSRN), repositori penerbit akademik Elsevier edisi Mei 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/21/561458c7-a5f7-4875-8960-851252d12774.jpeg)
Bagi Ahmed, hasil ini menunjukkan bahwa identitas politik tidak hanya memengaruhi pilihan di bilik suara, tetapi juga merembes ke wilayah budaya populer yang tampaknya jauh dari politik. ”Jika identitas politik bahkan dapat memengaruhi pilihan terhadap ikon sepak bola global, itu menunjukkan betapa dalamnya proses penyelarasan identitas tersebut bekerja,” kata Ahmed dalam keterangan yang dikeluarkan kampusnya pada Jumat (19/6/2026).
Penelitian ini tidak meminta responden menilai kemampuan teknis kedua pemain. Yang diukur adalah tingkat kesukaan terhadap citra dan persona mereka secara keseluruhan.
Di sinilah menariknya. Messi dan Ronaldo bukan hanya atlet. Mereka telah berkembang menjadi simbol budaya global.
Messi kerap dipersepsikan sebagai sosok yang tenang, rendah hati, tidak banyak bicara, dan mengutamakan tim. Ia jarang menampilkan kemewahan hidup atau membanggakan pencapaian pribadi. Banyak penggemarnya melihat Messi sebagai representasi bakat alami yang bekerja secara senyap.
Sebaliknya, Ronaldo membangun citra yang sangat berbeda. Ia secara terbuka merayakan pencapaiannya, menunjukkan disiplin ekstrem, kebugaran tubuh, gaya hidup mewah, dan semangat kompetisi yang nyaris tanpa batas. Ia menjadikan dirinya merek global yang identik dengan kesuksesan individu.
”Messi dan Ronaldo mewakili arketipe yang berbeda. Yang satu dibangun di atas kreativitas yang tenang dan alami, yang lain pada dominasi individu dan penegasan diri,” kata Ahmed.
Perbedaan citra inilah yang diduga membuat orang tertarik pada figur yang paling sesuai dengan nilai-nilai yang mereka yakini.
Selama dua dekade terakhir, ilmuwan sosial menemukan bahwa identitas politik semakin memengaruhi pilihan yang tampaknya tidak berhubungan dengan politik. Di Amerika Serikat, misalnya, penelitian menunjukkan bahwa orientasi politik berkaitan dengan pilihan media, makanan, kendaraan, hingga produk konsumen yang dibeli. Partai politik perlahan berubah menjadi identitas budaya.
Bagi generasi muda, memilih pemain sepak bola favorit mungkin tanpa sadar juga menjadi bagian dari cara mereka mendefinisikan diri.
Studi Ahmed menunjukkan bahwa fenomena serupa mungkin terjadi secara global. Bahkan ketika obyek yang dinilai sama, dua bintang sepak bola yang dikenal di seluruh dunia, pandangan politik tetap muncul sebagai prediktor paling kuat dibandingkan usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pendapatan.
Temuan ini sejalan dengan berkembangnya penelitian yang menunjukkan bahwa identitas politik kini berfungsi sebagai ”identitas sosial”, yakni cara seseorang mendefinisikan dirinya dan kelompoknya dalam masyarakat. Pilihan budaya kemudian menjadi salah satu cara mengekspresikan identitas tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/09/9f3c14f38c09fb17142faaed258cef83-20251109YGA07.jpg)
Temuan Ahmed dan tim tentang Messi dan Ronaldo bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orientasi politik turut memengaruhi pilihan budaya, mulai dari jenis pengalaman wisata, hiburan, hingga produk yang dikonsumsi sehari-hari.
Penelitian oleh Bryan Buechner dan koleganya di Journal of Association for Consumer Research tahun 2022 menemukan bahwa ideologi politik memengaruhi preferensi konsumsi budaya. Dalam empat studi berbeda dari jurnal di Universitas Chicago ini, kelompok liberal lebih menyukai pengalaman budaya yang bersifat global dan beragam, sementara kelompok konservatif lebih menyukai pengalaman yang lebih lokal dan familiar. Peneliti menjelaskan bahwa perbedaan tersebut berkaitan dengan tingkat fleksibilitas kognitif yang berbeda di antara kedua kelompok.
Sementara itu, penelitian tahun 2025 dalam jurnal Communication & Sport menunjukkan bahwa identitas politik memengaruhi bagaimana penggemar olahraga menafsirkan isu-isu yang muncul dalam dunia olahraga. Semakin kuat identifikasi politik seseorang, semakin besar kemungkinan ia memandang isu olahraga melalui lensa politik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/21/0d18882c-3c7f-45b6-9d36-4d918c7d02ae_jpg.jpg)
Penelitian ini menggunakan teori identitas sosial (social identity theory), teori yang juga sangat berguna untuk menjelaskan fenomena Messi-Ronaldo. Menurut teori ini, manusia secara alami membentuk kelompok ”kami” dan ”mereka”. Awalnya teori ini digunakan untuk menjelaskan konflik antarkelompok, tetapi kini banyak dipakai untuk memahami fanatisme olahraga.
Salah satu hasil paling menarik dari penelitian Ahmed adalah bahwa hubungan antara ideologi politik dan pilihan pemain jauh lebih kuat pada generasi muda. Pada responden berusia muda, kecenderungan liberal-Messi dan konservatif-Ronaldo terlihat jelas. Namun, pengaruh tersebut melemah drastis pada kelompok usia yang lebih tua hingga nyaris menghilang.
Para peneliti menduga generasi muda tumbuh dalam era media sosial dan polarisasi politik yang lebih kuat dibandingkan generasi sebelumnya. Akibatnya, identitas politik lebih mudah melekat pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, bagi generasi muda, memilih pemain sepak bola favorit mungkin tanpa sadar juga menjadi bagian dari cara mereka mendefinisikan diri.
Penelitian ini juga menemukan faktor lain yang cukup mengejutkan. Mereka yang lebih sering memperoleh berita dari platform video pendek seperti Tiktok, Instagram Reels, atau Youtube Shorts cenderung lebih menyukai Ronaldo.
Temuan ini tidak sepenuhnya mengherankan. Ronaldo adalah salah satu figur paling dominan di media sosial dunia. Ia memiliki ratusan juta pengikut dan secara konsisten membangun citra visual yang kuat tentang tubuh atletis, latihan keras, mobil mewah, serta berbagai simbol kesuksesan personal. Karakter semacam itu sangat cocok dengan logika platform video pendek yang mengutamakan visual, emosi cepat, dan personal branding.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/c443c6b2eaaf8535f3986ac0b3c28c9c-wires_photo_2025_12_14T115240.142.jpg)
Sebaliknya, Messi relatif lebih tertutup. Ia jarang tampil sebagai pemengaruh kehidupan pribadi dan lebih banyak dikenal melalui performanya di lapangan.
Penelitian ini tidak membuktikan bahwa Tiktok membuat orang menyukai Ronaldo. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa pola konsumsi media dan preferensi terhadap figur publik saling berkaitan.
Faktor psikologis juga ikut berperan. Responden dengan tingkat harga diri lebih tinggi cenderung lebih menyukai Ronaldo dibandingkan Messi. Selain itu, kecenderungan nilai-nilai otoritarian juga berasosiasi dengan preferensi terhadap Ronaldo.
Menurut para peneliti, orang dengan harga diri tinggi mungkin lebih mudah mengidentifikasi diri dengan figur yang memancarkan keunggulan, dominasi, dan kepercayaan diri. Mereka melihat Ronaldo bukan sekadar pemain sepak bola, melainkan simbol pencapaian yang ingin mereka raih.
Sebaliknya, daya tarik Messi tampaknya lebih terkait dengan apresiasi terhadap kreativitas, refleksi, dan kerja kolektif. Penelitian menemukan bahwa kemampuan refleksi kognitif memiliki hubungan lemah tetapi konsisten dengan preferensi terhadap Messi.
Secara global, 11 negara dalam survei lebih menyukai Ronaldo, 8 negara lebih menyukai Messi, sementara 7 negara tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Indonesia termasuk negara yang relatif condong ke Ronaldo bersama sejumlah negara di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa faktor budaya lokal sangat penting. Di Indonesia, popularitas Ronaldo telah terbentuk sejak awal 2000-an ketika ia menjadi bintang muda Manchester United. Kunjungan kemanusiaannya ke Aceh pascatsunami 2004 juga meninggalkan kesan mendalam bagi banyak penggemar sepak bola Indonesia. Selain itu, dominasi siaran Liga Inggris selama bertahun-tahun turut memperkuat basis penggemarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/20/89610fae155032328ea9f2783d66b2aa-pilihan_negara.png)
Sementara itu, Korea Selatan menjadi negara dengan preferensi paling kuat terhadap Messi. Menariknya, hal itu lebih disebabkan rendahnya penilaian terhadap Ronaldo dibandingkan tingginya penilaian terhadap Messi. Banyak pengamat mengaitkannya dengan kekecewaan publik setelah Ronaldo tidak bermain dalam laga ekshibisi yang sangat dinantikan di Seoul pada 2019.
Bagaimanapun perdebatan Messi versus Ronaldo sering dianggap sebagai hiburan ringan bagi penggemar sepak bola. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa pilihan tersebut dapat menjadi jendela untuk melihat bagaimana identitas politik, psikologi, media sosial, dan budaya populer saling berkelindan.
Di era ketika politik merembes ke hampir semua ruang kehidupan, bahkan pertanyaan sederhana, ”Siapa GOAT (Greatest Of All Time) menurutmu?”, mungkin tidak hanya berbicara tentang sepak bola.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan