Metamorfosis Nurul Iqamah dan Makna Cukup dari Panjat Tebing

Meski berat, Nurul Iqamah berani berkata cukup pada kariernya sebagai atlet panjat tebing. Keberanian itu membawanya pada dunia baru yang terbentang sebagai pelatih.

06 Des 2025 07:02 WIB · Olahraga

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Oleh Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa

Masih satu jam lagi menuju waktu latihan pada Senin (1/12/2025) siang, tetapi Nurul Iqamah sudah bergegas ke lapangan parkir Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, tempat berdirinya papan-papan panjat. Semua sudah Nurul siapkan, termasuk payung jika terjadi hujan saat latihan. Dengan jaket bertuliskan Indonesia di punggungnya, Nurul lantas menghampiri dan menyapa para pemanjat lead dan boulder yang memang berlatih lebih dulu.

Namun, hingga waktu latihan nomor speed tiba, Nurul tak melakukan pemanasan. Bahkan, ketika atlet speed lain sudah mulai menaiki dinding panjat, Nurul ”hanya” duduk sembari mencatat. Hingga latihan rampung, perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat, ini masih sibuk dengan catatannya.

Jika beberapa tahun terakhir kita intens melihat tim panjat tebing Indonesia beraksi di perlombaan atau berlatih di pemusatan latihan, tentu akan janggal melihat kegiatan Nurul saat ini. Kejanggalan itu pula yang sebenarnya dirasakan Nurul dengan peran barunya sebagai asisten pelatih.

Quote

Kenapa enggak manjat lagi? Sulit menjelaskannya, karena memang rumit.

Perubahan memang kerap kali menciptakan rasa janggal dan tidak nyaman. Perasaan itu tetap ada bahkan jika perubahan itu diinisasi sendiri seperti yang dialami Nurul.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

”Di satu sisi gereget masih ingin manjat. Awal-awal pensiun, hampir semua orang yang ketemu Nurul itu tanya, ’Kenapa pensiun? Kenapa enggak manjat lagi?’ Sulit menjelaskannya, karena memang rumit,” kata Nurul yang memutuskan pensiun pada November 2024.

Tak cuma sulit menjelaskan keputusannya, Nurul juga sebenarnya tak langsung bisa melepas peran lama dan menerima peran baru. Bukan perkara mudah tidak lagi berstatus atlet, apalagi Nurul telah menjalani karier itu selama hampir 20 tahun.

Nurul memulainya pada usia 11 tahun, menandai debut di turnamen dengan ikut kompetisi kelompok umur di Bali pada 2006. Tujuh tahun berselang, Nurul debut di kompetisi internasional dengan tampil di Kejuaraan Asia Remaja di Surabaya.

Awalnya, Nurul adalah atlet boulder. Sesekali, peraih perak speed relay putri di Asian Games Hangzhou 2022 ini bermain di nomor lead. Baru pada 2017, dia belajar speed karena saat itu ada nomor kombinasi yang mengharuskan atlet bisa di tiga nomor tersebut.

Anggota Tim Nasional Panjat Tebing Indonesia diperkenalkan di Stadion Mandala Krida, Yogakarta, Sabtu (30/3/2019). Dari kiri ke kanan; Chairul Ummi, Salsabilah, Aries Susanti Rahayu, Nurul Iqamah,  Aspar Jaelolo, Temi Teli Lasa, Fathur Roji,  Alfian M Fajri, dan Rivaldi Ode Wijaya.

Nurul juga merupakan bagian dari tim panjat tebing Indonesia ketika cabor ini pertama kali dilombakan di Asian Games pada edisi Jakarta-Palembang 2018. Para atlet putri lain sudah pensiun lebih dulu, termasuk Aries Susanti Rahayu yang sempat dijuluki ratu panjat tebing Indonesia. Kini, dengan pensiunnya Nurul, Rajiah Sallsabillah menjadi satu-satunya atlet putri bagian skuad Asian Games 2018 yang tersisa di pelatnas panjat tebing.

Selama hampir dua dekade itu, Nurul berpengalaman tampil di berbagai kompetisi, baik ajang tunggal maupun multicabang. Dia juga menorehkan beragam prestasi, termasuk medali perunggu di seri Piala Dunia Chamonix 2023 dan tiga medali emas dari Kejuaraan Asia 2016 dan 2019.

Nurul tercatat mengikuti 32 seri Piala Dunia, serangkaian kompetisi yang diadakan Federasi Panjat Tebing Internasional sepanjang tahun di berbagai lokasi di seluruh dunia. Selain itu, dia juga ikut turnamen-turnamen lain, salah satunya ajang kualifikasi ke Olimpiade Paris 2024.

Pada seri kualifikasi terakhir di Budapest, Juni 2024, Nurul sudah terpikir untuk mengakhiri kariernya. Namun, pelatih tim panjat tebing Indonesia, Hendra Basir, memintanya bertahan hingga akhir tahun. Nurul baru benar-benar menutup kariernya di level internasional di NEOM IFSC Masters di Neom, Arab Saudi, pada November 2024.

Pemanjat tebing putra nomor speed Indonesia, Nurul Iqamah, berpose setelah berlatih berlatih di pemusatan latihan panjat tebing di halaman parkir Hotel Santika Premiere, Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/11/2023).

”Bukan soal kami udah enggak mau ngatlet, kalau bahasanya Bang Hendra itu, alam sudah meminta berhenti, katakanlah usianya sudah lebih tua. Walau orang lain bilang, masih muda atau masih belum masuk kategori yang tua sekali untuk berhenti jadi atlet, tapi kami harus belajar berkata cukup,” kata Nurul.

Dengan sifat manusia yang selalu menginginkan lebih, tak mudah memaknai kata cukup dan mempraktikkannya. Namun, katanya, mencintai diri sendiri memampukan seseorang berkata cukup. Di panjat tebing, Nurul menemukan cinta untuk diri sendiri itu dan membuatnya kuat untuk tahu saatnya berhenti.

Tak mudah awalnya. Nurul bahkan harus berulang kali berdialog dengan diri sendiri untuk menerima keputusan itu. Baru pada pertengahan tahun ini, Nurul perlahan bisa benar-benar melepas status lama.

”Kadang sampai bilang ke diri sendiri, aku berhenti bukan di titik paling rendah, aku masih bisa bersaing dan mewakili Indonesia. Karena memang ada perasaan tidak rela, belum menerima, dan itu perlu waktu,” ujar Nurul.

Pemanjat putri Indonesia Rajiah Sallsabillah (tengah) dan Nurul Iqamah (kanan) saat naik podium nomor speed putri Piala Dunia Panjat Tebing IFSC 2023 seri Chamonix, Perancis, Minggu (9/7/2023). Rajiah meraih emas usai menaklukkan pemanjat Perancis Victoire Andrier. Sementera itu, Nurul meraih perunggu. (DOKUMENTASI PP FPTI)

Beruntung, kata Nurul, dalam proses transisi yang tak mudah itu, orang-orang terdekat memberikan dukungan. Dukungan dari Hendra, yang juga mantan atlet panjat, dan memahami sulitnya masa transisi, misalnya, semakin menguatkan Nurul. Dalam setiap latihan, Hendra bahkan sering meminta Nurul tetap memanjat.

Sebagai atlet, ada ego dan tuntutan untuk selalu mendorong diri dan meraih prestasi. Melepas status atlet berarti sebenarnya juga melepas tekanan yang bertahun-tahun diberikan secara intens itu. Hal itu melegakan bagi Nurul.

Meski begitu, menjadi pelatih pun bukan tanpa tekanan. Mata Nurul lebih terbuka untuk memahami bahwa tekanan sebenarnya bisa ada di mana saja, hanya bentuknya yang berbeda-beda.

”Sekarang pas jadi pelatih, setiap atlet Indonesia tampil, deg-degan. Gelisah setengah mati, keringet dingin, mual. Saat jadi atlet, tentu kita berharap yang terbaik buat atlet lain sesama Indonesia, tapi kami enggak sefokus itu memperhatikan. Kami juga bisa mengurangi rasa gugup itu dengan joging atau pemanasan. Kalau jadi pelatih, kan, duduk doang, sulit juga mau mengalihkannya,” ujarnya.

Pemanjat tebing putri Indonesia, Nurul Iqamah (kiri), berlomba di seri Piala Dunia 2023 Salt Lake City, Amerika Serikat, Mei 2023.

Namun, Nurul juga menyadari bahwa itulah tantangan baru yang harus dihadapinya. Nurul juga senang karena dengan peran baru ini, dia belajar mengemban tanggung jawab dan ”memomong” atlet meski beberapa di antaranya adalah teman berlatih dulu. Dia juga belajar untuk jadi ”penyambung” lidah pelatih dan atlet.

”Satu yang juga menyenangkan, yaitu belajar memahami karakter atlet, karakter manusia, yang berbeda-beda. Karena ketika kita tahu karakternya, kita tahu juga harus bersikap seperti apa dan memperlakukannya bagaimana,” ujar Nurul.

Seperti proses metamorfosis, Nurul berubah untuk menuju fase selanjutnya dalam karier di dunia panjat tebing. Setahun sudah berlalu dan proses panjang nan berliku itu bisa dijalaninya karena diawali keberanian berkata cukup pada diri sendiri.

Sampaikan dukungan Anda untuk atlet Indonesia

Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari