Inter boleh saja sudah memenangi banyak trofi bergengsi. Namun, menaklukkan Stadion Metropolitano adalah enigma terbesar bagi ”Nerazzurri”.
27 Nov 2025 06:06 WIB · Olahraga
AP Photo/Manu Fernandez
MADRID, KAMIS — Kesempurnaan Inter Milan di kancah Eropa menemui perhentian terakhirnya. ”Nerazzuri” kembali gagal menyibak enigma terbesar mereka, yaitu menaklukkan Stadion Metropolitano markas Atletico Madrid. Inter sudah melewatkan 12 laga tanpa kemenangan di stadion ini, termasuk saat takluk 1-2, Kamis (27/11/2025) dini hari WIB.
”Saya pikir kami bermain bagus, tidak mudah bermain di stadion ini dengan para penggemar seperti itu. Sepak bola tidak selalu adil, kami harus terus bekerja keras dan kemudian hidup terus berjalan,” kata bek Inter, Yan Bisseck, seusai laga.
Padahal, sebelum laga, Pelatih Inter Cristian Chivu begitu berapi-api mengutarakan ambisinya menyudahi kesialan timnya setiap kali bertandang ke markas Atletico itu.
Meski baru saja menelan kekalahan dalam Derbi della Madonnina melawan rival sekota AC Milan, kesempurnaan Inter di Eropa jadi alasan terbesar optimisme Chivu. Dalam empat laga fase liga Liga Champions Eropa, Inter selalu menang dengan melesakkan 11 gol dan hanya sekali kebobolan.
Namun, tren positif Inter tidak berarti apa-apa di Metropolitano. Tidak perduli berapa banyak trofi bergengsi yang Inter menangi atau seberapa impresif performa mereka, Metropolitano senantiasa jadi neraka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/f4cc1a906ed27e3cbd42f26d911f2634-1000034176.jpg)
Penderitaan itu bahkan sudah dialami Inter saat laga baru memasuki menit kesembilan. Julian Alvarez membuat puluhan ribu fans Atletico bersorak lewat golnya dari jarak dekat, memanfaatkan kelengahan barisan pertahanan Inter.
Chivu menerapkan formasi dasar 3-5-2 yang berubah menjadi 5-3-2 saat bertahan (out of possession). Adapun saat sedang menguasai bola atau membangun serangan dari bawah, Chivu menginstruksikan para pemainnya membentuk pola 4-2-3-1 dengan Hakan Calhanoglu dan Nicolo Barella berduet di posisi gelandang bertahan.
Ambisi untuk mengakhiri kutukan di Metropolitano ditambah tertinggal satu gol sejak awal laga mendorong Calhanoglu dan rekan-rekannya meningkatkan intensitas serangan. Upaya itu sukses menekan Atletico yang pada akhirnya lebih fokus mempertebal pertahanan.
Hanya saja, basis Inter dalam membangun serangan ditekankan pada upaya memperkuat penguasaan bola. Strategi itu terbaca oleh Atletico yang segera menerapkan penjagaan berbasis individu (man to man marking).
Alhasil, para pemain Inter kesulitan mengalirkan bola ke depan. Bola memang lebih banyak beredar di bidang permainan Atletico. Namun, jarang ada operan-operan progresif dari Calhanoglu ataupun pemain Inter lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/ebf5492d2b41323426aebec52ec9a932-1000034183.jpg)
Hal itu menjadi penyebab rendahnya nilai harapan gol (expected goal/xG) Inter kendati menguasai jalannya laga pada babak pertama. Dengan 57 persen penguasaan bola, Inter hanya sanggup melepaskan tiga tembakan tepat sasaran dengan nilai xG hanya sebesar 0,37. Inter kalah efisien dari Atletico yang hanya mencatatkan nilai xG sebesar 0,29, tetapi mampu mencetak satu gol.
”Kami punya rencana untuk mencoba menahan mereka. Di babak pertama, kami pikir kami bisa menyulitkan mereka lewat serangan balik. Tetapi, mereka punya peluang penting untuk mencetak gol. Kami bertahan dengan cukup baik,” kata Pelatih Atletico Diego Simeone, dalam wawancara bersama Prime Video seusai laga.
Sadar penguasaan bola saja tidak akan membawa timnya menaklukkan Metropolitano, Chivu mengubah pendekatan pada babak kedua. Ia tetap meminta para pemainnya mengontrol jalannya laga dengan penguasaan bola. Tetapi, jelang memasuki area sepertiga akhir, para pemain Inter diminta lebih berani mengambil risiko melepaskan umpan-umpan progresif.
Upaya itu berbuah peluang emas dari Barella di awal babak kedua. Alih-alih lebih lama dalam menyirkulasikan bola sembari melihat celah, Inter memilih langsung melepaskan umpan ke area kotak penalti Atletico. Peluang Barella berawal dari skema seperti itu yang sayangnya masih membentur mistar gawang Juan Musso.
Lewat pendekatan yang lebih berani mengambil risiko, Inter mampu menyamakan kedudukan melalui Piotr Zielinski pada menit ke-54. Gol pemain timnas Polandia tersebut berawal dari kombinasi umpan pendek dengan Ange-Yoan Bonny di area kotak penalti Atletico yang diakhiri dengan sepakan mendatar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/618d79dcb71f75f0a30d493e4a37d5de-1000034175.jpg)
Jangankan menang, meraih hasil imbang di Metropolitano saja sudah begitu sulit bagi Inter. Setelah gol Zielinski, Atletico makin agresif mencoba untuk kembali unggul. Namun, kedisiplinan barisan pertahanan Inter yang dikomandoi Manuel Akanji mementahkan serangan bertubi-tubi Atletico.
Gol yang ditunggu-tunggu para suporter Atletico akhirnya muncul pada waktu tambahan. Antoine Griezmann, lewat eksekusi sepak pojok, mengarsiteki gol kemenangan Atletico yang dicetak kapten Jose Maria Gimenez melalui sundulan.
Dengan waktu tersisa hanya beberapa detik, sangat sulit bagi Inter untuk mewujudkan keajaiban. Benar saja, Metropolitano masih tetap tidak tersentuh dan seakan menjadi enigma abadi bagi Inter.
”Ini mengecewakan. Kalah seperti ini di menit terakhir sungguh tidak menyenangkan. Kami hampir mendapatkan hasil imbang, tetapi kekalahan ini justru membuat kami kecewa,” ujar Zielinski dikutip dari Sky Sport.
Kekalahan ini membuat Inter turun dari peringkat ketiga ke keempat dalam klasemen sementara fase liga. Inter sama-sama mengoleksi 12 poin dengan Bayern Muenchen di peringkat ketiga. Namun, Muenchen yang pada laga lainnya kalah 1-3 dari Arsenal berhak menempati posisi ketiga lantaran lebih unggul dari segi produktivitas atas Inter dengan mengoleksi 15 gol dalam lima laga. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto