Makanan Mi Banglahdes’e menjalar di Medan, Sumatera Utara, hingga kota besar lain. Hidangan berbahan baku mi instan ini diciptakan Bang Lah dari Aceh.
26 Jan 2025 08:00 WIB · Gaya Hidup
Mi Bangladesh lahir dari kreasi orang Aceh untuk memenuhi selera orang Kota Medan. Cita rasa mi Bangladesh rupanya mendapat tempat di hati banyak orang. Kini, mi Bangladesh dapat dengan mudah dicicipi di berbagai kota di Indonesia.
Menjelang malam, Warkop Agem Senyum di Kawasan Multatuli Medan, Sumatera Utara, kian ramai. Pesanan Mi Banglahdes’e menjalar dari satu meja ke meja lain. Warung itu dikenal sebagai pelopor Mi Banglahdes’e, mi instan dengan tambahan bumbu rempah racikan khas Aceh.
Suasana di Warkop Agem Senyum kian riuh setelah dipadati para pengunjung, Kamis (23/1/2025) malam. Mereka memadati kursi kayu panjang yang berhadap-hadapan mengapit meja di warung dua lantai di kawasan perniagaan itu. Pengunjung didominasi karyawan-karyawan muda yang baru pulang kerja, pengusaha,juga mahasiswa.
Mi Banglahdes’e harus disajikan dengan cepat. Jadi harus dimasak sekaligus dalam jumlah banyak, tetapi harus tetap enak.
Setelah pesanan Mi Banglahdes’e diterima, segera juru masak beraksi. Mi instan dibuka satu per satu dari kemasannya lalu dimasukkan ke dalam kuali besar. Dua kardus mi instan total 80 bungkus lalu dimasak sekaligus.
“Mi Banglahdes’e harus disajikan dengan cepat. Jadi harus dimasak sekaligus dalam jumlah banyak, tetapi harus tetap enak,” kata sang juru masak, Wanda, sambil tertawa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/24/f153d001-4b13-4265-8ad8-5a1d05e11fcb_jpg.jpg)
Wanda bersama seorang juru masak lainnya tak henti-henti memasak Mi Banglahdes’e dalam tiga kuali besar. Karena dapurnya berada di depan warung kopi (warkop), aksi mereka menjadi tontotan para pengunjung.
Setelah mi direbus sebentar, sang koki memasukkan bumbu bawaan mi instan itu. Lalu, bumbu Banglahdes’e racikan dari berbagai macam rempah dicampurkan. “Ini bumbu rahasia kenikmatan Mi Banglahdes’e,” kata Wanda.
Hanya sekitar lima menit, puluhan porsi Mi Banglahdes’e sudah selesai dimasak. Namun, pesanan lainnya sudah menanti sang juru masak. Tak heran, dalam sekejap, berkardus-kardus tumpukan mi instan sudah ludes. Mi Banglahdes’e itu segera meluncur ke meja-meja pengunjung.
Mi Banglahdes’e langsung disantap panas-panas. Bumbu rempah khas Aceh yang cukup pedas dan menggetarkan lidah menciptakan the next level of mi instan. Mi Banglahdes’e bisa disantap dengan porsi biasa, tetapi bagi yang sudah ketagihan biasanya memesan porsi jumbo. Di meja juga sudah tersedia “nasi kucing” sebagai tambahan bagi mereka yang punya perut “karet”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/24/8395c63d-1c9d-48c8-a00d-ce98062680f8_jpg.jpg)
Ada juga yang memesan tambahan puding berupa telur setengah matang yang dituangkan langsung ke dalam mangkok mi sehingga membuat mi lebih berlemak dan berprotein.
Juru masak Aceh
Manajer Warkop Agem Senyum Muhammad Mirza mengatakan, Mi Banglahdes’e diciptakan oleh juru masak Aceh untuk masyarakat urban Kota Medan yang cerewet soal makanan. Mi instan pun harus enak, pedas, fresh from the oven, dan harganya tetap terjangkau. “Solusinya adalah Mi Banglahdes’e,” kata Mirza.
Di Warkop Agem Senyum, Mi Banglahdes’e dijual Rp 15.000 per porsi dan Rp 20.000 untuk porsi jumbo.
Menurut Mirza, Mi Banglahdes’e dirintis dua orang pemiliknya, yakni Agem dan Maimun. Mereka mempunyai dua warkop yang berhadap-hadapan di kawasan Multatuli yakni Warkop Senyum Ketawa (Agem) yang dibangun sekitar sejak 1990-an lalu Warkop Agem Senyum pada 2021.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/24/30c9ddb8-c08e-4513-bf42-0a8f56e298ba_jpg.jpg)
Mi Banglahdes’e menjadi menu andalan warung itu. Nama itu diambil dari ayah mereka yang bernama Banglah yang tinggal di Desa Empeh (Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh). Mereka lalu menyingkat menjadi Banglahdes’e atau Banglah dari Desa Empeh. “Jadi Mi Banglahdes’e tidak ada hubungan sama sekali dengan Negara Bangladesh,” kata Mirza.
Mirza menyebut, Mi Banglahdes’e juga berbeda dengan Mi Aceh. Selain bahan baku mi memang berbeda, bumbu-bumbunya juga mempunyai perbedaan.
Mi Banglahdes’e pun kini merebak di berbagai warkop khas Aceh di Medan dan menjalar ke berbagai kota. Beberapa warung menyebutnya dengan nama Mi Bangladesh sehingga namanya merujuk pada Negara Bangladesh.
Di Warkop Agem Senyum, seorang karyawan swasta, Rosmauli Turnip (35), yang baru pulang dari kantor asyik mengobrol dengan rekan-rekannya. Mereka menyantap Mi Banglahdes’e hingga berkeringat. “Mi Banglahdes’e tetap enak dan ramah di kantong walaupun di akhir bulan,” kata Rosmauli.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/24/f225b5e4-f531-4b08-834e-a1b63536283a_jpg.jpg)
Rosmauli dan teman-temannya sering berburu mi instan saat pulang kerja. Menurut dia, Mi Banglahdes’e adalah salah satu mi instan dengan level yang lebih tinggi karena menambahkan bumbu rempah yang nikmat dan pedas. Kenimatan Mi Banglahdes’e pun menghangatkan suasana obrolan masyarakat urban Kota Medan.
Polemik
Saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (25/1/2025), antropolog Universitas Negeri Medan, Erond Litno Damanik, menceritakan, Mi Bangladesh merebak di Medan sejak 2019. Awalnya, Mi Bangladesh muncul di Multatuli, sebuah kawasan perbelanjaan di Medan.
Di Medan, Mi Bangladesh bersaing dengan Mi Aceh Titi Bobrok yang sudah berdiri sejak awal 1990-an. Hanya saja, Mi Aceh Titi Bobrok tidak berkembang dan hingga sekarang hanya memiliki satu outlet saja.
Mi Agam Bangladesh saat ini menyebar di berbagai penjuru Medan dengan tempat penjualan yang besar dan luas. Mereka juga menyajikan aneka kopi, teh, jus, kerupuk, kue, mi dan penganan ringan lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/11/69e03a78-5565-4ef5-8951-dea6e072df1c_jpg.jpg)
Dari namanya, Mi Agam Bangladesh dipastikan pengembangnya berasal dari Aceh. Agam merupakan sebutan untuk anak laki-laki bagi orang Aceh.
Masyarakat di sana menjamakkan dengan panggilan Banglah (Des). Warung itu populer di Lhokseumawe dan selalu ramai. Di kampungnya, etalasenya sangat besar dan luas. Kami sudah ke sana di tahun lalu.
Pendirinya bernama Abdul Arsyad yang berasal dari desa Delima, Lhokseumawe, Aceh. Dia sudah berjualan mi di Multatuli sejak 1989. Abdul Arsyad dipanggil dengan nama Bang Lah.
“Masyarakat di sana menjamakkan dengan panggilan Banglah (Des). Warung itu populer di Lhokseumawe dan selalu ramai. Di kampungnya, etalasenya sangat besar dan luas. Kami sudah ke sana di tahun lalu,” tutur Erond.
Sayangnya, lanjut Erond, nama Bangladesh dicatut orang Aceh lainnya yang bukan keturunan Abdul Arsyad. Orang tersebut mendirikan warung Mi Agam Bangladesh di Medan. Dia berhasil mengembangkan usahanya hingga masuk ke beberapa kawasan perbelanjaan elite, termasuk plaza, bahkan sampai ke Jakarta. Keturunan Abdul Arsyad hanya membuka kedai Mi Bangladesh di Lhokseumawe.
Hal itu sempat menjadi polemik karena ada yang menyebut warung Mi Bangladesh merupakan khas Medan, bukan Aceh. Sepertinya, polemik itu tidak terlalu dipedulikan penikmat Mi Bangladesh, yang terpenting makan enak.
Di luar polemik itu, mi Bangladesh terus menyebar ke banyak kota. Di Jakarta dan sekitarnya, tidak terlalu susah mencari mi Bangladesh. Warung atau kedai di Makassar, Surabaya, dan Bandung, misalnya, juga menyediakan makanan pedas gurih ini.
Dari tangan orang Aceh, mi Bangladesh menyapa lidah-lidah orang di berbagai penjuru Indonesia.
Penulis:
Prayogi Dwi Sulistyo, Nikson SinagaEditor:
Moh. Hilmi FaiqPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase