Mikroplastik Kembali Ditemukan di Tubuh Manusia, Kini di Jaringan Tulang

Studi dalam beberapa tahun terakhir menemukan mikroplastik di berbagai bagian tubuh manusia. Kini, partikel plastik juga ditemukan dalam jaringan tulang manusia.

21 Sep 2025 10:08 WIB · Sains & Teknologi

Oleh Pradipta Pandu Mustika

JAKARTA, KOMPAS — Berbagai hasil studi telah mengungkap bahwa partikel plastik berukuran mikro tidak hanya menumpuk di lingkungan, tetapi juga masuk ke tubuh manusia hingga organ terdalam, seperti jaringan jantung dan darah. Sebuah studi terbaru kembali menemukan adanya paparan mikroplastik di dalam tulang manusia.

Produksi plastik global yang mencapai lebih dari 400 juta ton tiap tahun kini menimbulkan ancaman yang semakin nyata. Sampah plastik telah mencemari pantai, sungai, dan palung laut terdalam di kedalaman 11.000 meter. Proses produksinya pun diperkirakan menghasilkan 1,8 miliar ton emisi gas rumah kaca per tahun yang memicu krisis iklim.

Dampak plastik terhadap kesehatan manusia kian terbukti melalui berbagai penelitian ilmiah sejak beberapa tahun terakhir. Para ahli menemukan bahwa partikel plastik tidak hanya menumpuk di lingkungan, tetapi juga masuk ke tubuh manusia.

Partikel berukuran sangat kecil itu mampu terlepas dari benda sehari-hari, seperti tirai, furnitur, pakaian, dan peralatan rumah tangga. Partikel tersebut kemudian melayang di udara, larut dalam air minum, menempel pada makanan, hingga akhirnya masuk melalui pernapasan, pencernaan, atau kontak dengan kulit.

Peneliti dari Ecoton menunjukkan sampel air Sungai Kalimas di Taman Petekan Riverside, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (8/7/2020). Pengambilan sampel air untuk meneliti kandungan mikroplastik dan uji kualitas air dari Sungai Kalimas. Dari hasil penelitian diketahui Sungai Kalimas tercemar oleh limbah microplastik dan klorin.Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Sejumlah studi dalam beberapa tahun terakhir mengungkap kehadiran mikroplastik pada berbagai bagian tubuh manusia, mulai dari darah, otak, plasenta, hingga air susu ibu. Kini, bukti terbaru menunjukkan partikel plastik juga ditemukan dalam jaringan tulang.

Penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Osteoporosis International, Juni 2024, meninjau 62 artikel ilmiah terkait mikroplastik dan tulang. Studi ini merupakan bagian dari proyek yang didukung Yayasan Penelitian Sao Paulo (FAPESP), sebuah lembaga riset di Brasil.

Hasil kajian menyebutkan, mikroplastik berpotensi merusak kesehatan tulang dengan berbagai cara. Salah satu contoh penting adalah kemampuannya untuk mengganggu fungsi sel punca sumsum tulang dengan mendorong pembentukan osteoklas, yaitu sel berinti banyak yang mendegradasi jaringan melalui proses yang dikenal sebagai resorpsi tulang.

Koordinator Laboratorium Studi Mineral dan Tulang dalam Nefrologi (Lemon) di Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Negeri Campinas (FCM-Unicamp) Rodrigo Bueno de Oliveira mengemukakan, dampak potensial mikroplastik pada tulang merupakan subyek studi ilmiah yang tidak dapat diabaikan dan perlu mendapat perhatian khusus.

Deteksi, konsentrasi, dan distribusi mikroplastik dan nanoplastik dalam tubuh manusia. Seberapa buruk mikro dan nanoplastik bagi kesehatan kita tergantung pada konsentrasinya.

”Sebagai contoh, studi in vitro dengan sel jaringan tulang telah menunjukkan mikroplastik mengganggu viabilitas sel, mempercepat penuaan sel, dan mengubah diferensiasi sel, selain memicu peradangan,” ujarnya seperti dikutip dari situs resmi FAPESP, Minggu (21/9/2025).

Oliveira menambahkan, penelitian pada hewan menunjukkan percepatan penuaan osteoklas dapat merusak struktur mikro tulang. Kondisi ini berpotensi menyebabkan displasia, yakni kelainan perkembangan tulang, yang pada akhirnya memicu kelemahan, deformitas, dan patah tulang patologis.

Meski mekanisme pasti dampak mikroplastik pada kekuatan dan mekanika tulang manusia belum sepenuhnya terungkap, data riset menunjukkan kecenderungan mengkhawatirkan. Mikroplastik yang terbawa dalam aliran darah diduga mampu mencapai jaringan terdalam, termasuk sumsum tulang, lalu memengaruhi metabolisme tulang.

Saat ini, Olivera bersama timnya tengah meneliti kaitan antara paparan mikroplastik dan memburuknya penyakit tulang metabolik. Riset dilakukan dengan memakai model hewan pengerat untuk mempelajari dampaknya terhadap kekuatan tulang paha.

Peningkatan osteoporosis

Menurut Yayasan Osteoporosis Internasional (IOF), kasus patah tulang akibat osteoporosis terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia di seluruh dunia. IOF memperkirakan, pada tahun 2050 jumlah kasus patah tulang akibat penyakit ini akan meningkat hingga 32 persen dibandingkan kondisi saat ini.

Meningkatkan kualitas hidup penderita osteoporosis dan mengurangi risiko komplikasi, seperti patah tulang, menjadi prioritas dalam layanan kesehatan.

Quote

Mikroplastik bisa menjadi salah satu penyebab lingkungan yang turut memperburuk kondisi tulang.

Upaya untuk mencegah mencakup olahraga fisik, pola makan seimbang, dan pengobatan farmakologis. Namun, faktor yang lebih sulit dikendalikan, termasuk mikroplastik, perlu diteliti lebih jauh.

Penyakit osteometabolik memang sudah dipahami dengan baik. Meski begitu, masih ada kesenjangan pengetahuan mengenai peran mikroplastik terhadap perkembangan penyakit tersebut. Kesenjangan inilah yang coba dijawab melalui riset Oliveira dan timnya.

”Tujuan kami adalah menghadirkan bukti ilmiah bahwa mikroplastik bisa menjadi salah satu penyebab lingkungan yang turut memperburuk kondisi tulang. Bukti ilmiah ini membantu menjelaskan proyeksi peningkatan jumlah patah tulang di masa mendatang,” kata Lauter E Pelepenko dari FCM-Unicamp yang turut terlibat dalam studi ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Pradipta Pandu Mustika
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari