Milisi-milisi Irak Pro-Iran Dikerahkan ke Suriah, Bantu Assad Rebut Aleppo

Dua sumber tentara Suriah mengakui, kekurangan personel militer menjadi salah satu penyebab terpukulnya pasukan Pemerintah Suriah hingga mundur dari Aleppo.

02 Des 2024 18:48 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

AMMAN, SENIN — Milisi-milisi Irak dukungan Iran dikerahkan ke Suriah untuk menopang serangan balasan tentara pemerintah Presiden Bashar al-Assad terhadap pasukan posisi yang menguasai Allepo, kota terbesar kedua di negara itu. Seorang pejabat milisi Irak dan lembaga pemantau perang menyebutkan, mereka dikerahkan melalui pintu perbatasan Bou Kamal, Minggu (1/12/2024) malam.

Milisi-milisi Irak itu diperkirakan dikirim ke Aleppo untuk membantu pasukan Suriah mengusir oposisi dan merebut kembali Aleppo. Organisasi pemantau berbasis di London, Inggris, Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR), Senin (2/12/2024), menyebutkan, sekitar 200 milisi Irak naik kendaraan-kendaraan pikap memasuki Suriah via Bou Kamal.

Seorang pejabat senior tentara Suriah kepada kantor berita Reuters mengungkapkan, para milisi Irak yang dikirim masuk Suriah itu antara lain anggota Hashd al Shaabi, Kataib Hezbollah, dan Fatemiyoun. ”Ada pengerahan kekuatan baru yang dikirim untuk membantu kawan-kawan kami di garis pertempuran di wilayah utara,” ujarnya.

Milisi-milisi Syiah memegang peran penting dalam membantu tentara Assad menghadapi pasukan oposisi dalam perang saudara di Suriah. Selain dari Irak, mereka juga didatangkan dari Lebanon, yakni Hezbollah. Sebelum perang Gaza, Hezbollah hadir secara mencolok dan memperkuat posisi tentara Suriah di area Aleppo.

Menurut dua sumber tentara Suriah lainnya, kekurangan personel militer menjadi salah satu penyebab mundurnya pasukan Suriah dari Aleppo. Seperti diberitakan, pasukan oposisi Suriah secara mengejutkan merebut dan menguasai Aleppo dari tangan pasukan Assad, Sabtu (30/12/2024).

Syria Opposition

Pada Minggu (1/12/2024), militer Suriah dengan dukungan Iran dan Rusia melancarkan serangan balasan di sekitar Idlib, Suriah barat laut, untuk menghadang gerak maju pasukan oposisi yang merebut Kota Aleppo.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi, seusai menemui Presiden Suriah Bashar al-Assad di Damaskus, menyatakan siap mendukung serangan balasan. Namun, tidak dijelaskan bentuk dukungan Iran kepada Suriah.

Iran telah mengalami serangan Israel di Iran dan perwakilan diplomatiknya di Suriah dalam setahun terakhir. Pada saat yang sama Iran juga mengadakan kerja sama militer dengan Rusia yang sedang berperang di Ukraina.

Para pemimpin Arab, termasuk Raja Jordania Abdullah II dan Presiden Uni Arab Emirat Sheikh Mohamed bin Zayed al-Nahyan, juga menelepon Assad untuk menyatakan solidaritas dan dukungan.

Iran menjadi sekutu politik dan militer pemerintahan Assad dalam menghadapi perlawanan kelompok-kelompok oposisi sejak 2011. Serangan terhadap pasukan Pemerintah Suriah, pekan lalu, dimotori kelompok Hayat Tahrir al-Sham yang melancarkan serangan supit urang—menjepit dari dua arah—ke posisi pasukan pemerintah di Kota Aleppo dan wilayah sekitar kota Idlib, dekat perbatasan Turki.

Fighters seize a Syrian Army tank on the international M5 highway in the area Zarbah which was taken over by anti-government factions on November 29, 2024, as Hayat Tahrir al-Sham (HTS) jihadists and allied groups continue their offensive in Syria's northern Aleppo province against government forces. The jihadists along with Turkey-backed factions launched this week a shock offensive against Syrian regime troops and sparked the deadliest battle the country has seen in years, with the violence killing so far 242 people, according to the Syrian Observatory for Human Rights. The war monitor said most of the victims were combatants on both sides but also including civilians. (Photo by Rami al SAYED / AFP)

Kehadiran milisi Kurdi

Konflik semakin rumit ketika pasukan Kurdi juga terlibat dalam pertempuran. Kantor berita Turki, Anadolu, melaporkan, kelompok Partai Pekerja Kurdistan (PKK) Kurdi pada Sabtu (30/11/2024) menguasai Bandar Udara Aleppo dan Kawasan Industri Aleppo yang ditinggalkan pasukan Suriah.  

Kelompok Kurdi berseberangan dengan Turki. Sementara Amerika Serikat semasa perang Irak menjalin hubungan erat dengan kelompok Kurdi dan berhubungan baik di Suriah.

Kelompok oposisi Suriah sebagian berpangkalan di dekat Turki dan memiliki hubungan baik dengan Turki.

Pada Minggu (1/12/2024), pasukan Suriah membangun garis pertahanan di utara kota Hama, yang berjarak 60 kilometer selatan kota Idlib. Mereka mulai melancarkan serangan balasan terhadap kelompok oposisi.

Organisasi bantuan kemanusiaan pro-oposisi Helm Putih dan SOHR melaporkan, serangan udara militer Suriah mengakibatkan 25 orang tewas di Idlib dan Aleppo. Total korban sejak konflik kembali pecah yaitu 412 orang, sebanyak 61 orang di antaranya warga sipil.

Militer Rusia yang memiliki pangkalan udara di Suriah, yakni di Latakia, dan pangkalan angkatan laut di Tartus, Latakia, juga terlibat mendukung pasukan Suriah sejak tahun 2015.

Seperti dikutip laman Middle East Eye (MEE), peneliti pada lembaga think tank Athlantic Council, Amerika Serikat, Omer Ozkizilcik, mengatakan, upaya pasukan Rusia menggempur kelompok oposisi tidak cukup mampu menghentikan pasukan oposisi menyerbu Aleppo.

Quote

Kekuatan utama Rusia saat ini difokuskan pada perang Ukraina. Serangan yang dilancarkan militer Rusia di Suriah tidak cukup untuk membendung serangan kelompok oposisi.

”Kekuatan utama Rusia saat ini difokuskan pada perang Ukraina. Serangan yang dilancarkan militer Rusia di Suriah tidak cukup untuk membendung serangan kelompok oposisi,” kata Ozkizilcik.

Sebaliknya, Wakil Komandan Misi Rusia di Suriah, Kolonel Oleg Ignasyuk, dalam wawancara dengan Russia Today (RT), Jumat (29/11/2024), mengatakan, serangan udara Rusia sudah menghantam posisi lawan di Idlib dan Aleppo.

Perang di Suriah dikhawatirkan membuat kekuatan kawasan, yakni Rusia dan Turki, terlibat lebih dalam karena masing-masing memiliki sekutu politik dari faksi yang berbeda di Suriah.

Kelompok oposisi menguasai hampir seluruh Aleppo pada Sabtu (30/11/2024) dan provinsi di sekitarnya. Menteri Urusan Air Suriah Moataz Qattan mengatakan, pemberontak menguasai pasokan air ke kota Allepo dan memutus aliran air.

Komandan pasukan oposisi, Kolonel Hassan Abdughani, mengatakan, mereka mendesak maju di perdesaan sekitar kota Idlib dan provinsi di sekitarnya. Mereka mengklaim memasuki kota Hama, tetapi belum ada konfirmasi kebenaran informasi tersebut.

Di kota Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, berbagai kendaraan militer ditinggalkan pasukan Suriah. Situasi kota terlihat aman dan tidak ada tanda kepanikan warga. Warga mengambil foto dan berpose dengan berbagai kendaraan militer tersebut.

Sementara di tenggara kota Aleppo, jalan utama menuju kota dipenuhi warga yang berusaha meninggalkan zona pertempuran. Berbagai pompa bensin juga tutup karena kehabisan bahan bakar yang diserbu warga yang hendak mengungsi. Sementara pasukan oposisi merampas amunisi dan peluru artileri yang ditinggalkan pasukan Suriah.

People fleeing from Lebanon arrive on the Syrian side of the border with Lebanon in Jdeidat Yabus in southwestern Syria on September 25, 2024. Human Rights Watch warned on September 25 that Israeli strikes on Lebanon were putting civilians "at grave risk", urging an international investigation into hostilities in the country and in northern Israel. (Photo by LOUAI BESHARA / AFP)

Pasukan oposisi sesumbar akan terus menyerang dan merebut ibu kota Damaskus. Situasi di kota Damaskus terlihat tenang dan warga beraktivitas normal.

Stasiun TV pro-Pemerintah Suriah, Al Mayaden, melaporkan, pasukan oposisi juga mendekati kota Tel Rifaat di dekat kota Aleppo yang dikuasai milisi Kurdi, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), dukungan Amerika Serikat.

Tel Rifaat berada di Suriah timur laut yang dikuasai SDF. Pasukan oposisi meminta SDF meninggalkan wilayah dekat Aleppo dan mundur ke basis kekuasaan SDF di timur laut Suriah.

Meski kelompok Kurdi Suriah berseberangan dengan Pemerintah Suriah, mereka juga menentang kelompok oposisi yang disebut didukung Turki. Kelompok oposisi dukungan Turki ini menjadi seteru kelompok Kurdi di Suriah, Iran, dan Turki.

Para pejabat Turki mengatakan, serangan kelompok oposisi semula ditujukan untuk melindungi daerah yang mereka kuasai. Namun, mereka bergerak maju karena pasukan Suriah mulai mundur secara bertahap.

Seorang perempuan petempur anggota milisi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) Kurdi dukungan AS mengacungkan isyarat tangan berisi pesan "kemenangan (victory)" di dekat ladang minyak Omar di Provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, 23 Maret 2019. TOPSHOT - A female fighter of the US-backed Kurdish-led Syrian Democratic Forces (SDF) flashes the victory gesture while celebrating near the Omar oil field in the eastern Syrian Deir Ezzor province on March 23, 2019, after announcing the total elimination of the Islamic State (IS) group's last bastion in eastern Syria. (Photo by Delil souleiman / AFP)

Utusan Khusus PBB untuk Suriah Geir Pedersen mengatakan, serangan kelompok oposisi membahayakan keamanan kawasan dan mendesak ditempuhnya jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik Suriah.

Sikap Washington

Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat Jake Sullivan mengatakan kepada televisi CNN bahwa Washington memantau perkembangan di Suriah. Saat ini ada 900 prajurit AS di wilayah Suriah timur laut Suriah. Mereka ditempatkan di wilayah itu tanpa izin Pemerintah Suriah. Menurut Sullivan, keberadaan pasukan AS di sana untuk menjaga jangan muncul kembali kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Menurut Pemerintah AS, kelompok Hayat Tahrir al-Sham masuk kategori kelompok teroris. ”Amerika Serikat sangat khawatir terhadap organisasi tersebut dan target mereka,” kata Sullivan.

Di lain pihak, AS tidak merasa prihatin terhadap keberadaan Pemerintahan Assad yang didukung Rusia dan Iran, dua negara seteru AS.

Menurut kantor berita Suriah, SANA, dan SOHR, pasukan Suriah menyerang balik dan menekan kedudukan kelompok perlawanan di Provinsi Hama. Dilaporkan, pemerintah memasok berbagai perlengkapan dan peluncur roket. Adapun serangan udara Suriah dan Rusia menyasar depot amunisi dan kantong kekuatan kelompok perlawanan.

Radio Sham FM melaporkan, militer Suriah menembak jatuh pesawat nirawak yang dioperasikan kelompok oposisi.

Televisi Pemerintah Suriah melaporkan, pasukan Suriah menewaskan hampir 1.000 pemberontak dalam tiga hari terakhir tanpa memberikan rincian serangan balik yang dilakukan.

Serangan balasan pemerintah di kota Aleppo mengakibatkan 25 orang tewas, dengan 14 orang di antaranya warga sipil perempuan dan anak-anak.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H, Muhammad Samsul Hadi