Tawaran Rusia itu datang di kala Ukraina belum juga mau setuju dalam perundingan kesepakatan logam tanah jarang dengan Washington.
25 Feb 2025 21:26 WIB · Internasional
MOSKWA, SELASA — Rusia menawarkan mineral logam tanah jarang kepada Amerika Serikat. Hal ini terjadi saat Ukraina masih terus menunda menyepakati perjanjian jual beli mineral berharga yang diajukan Washington.
Kremlin mengatakan, Rusia memiliki banyak endapan logam tanah jarang yang dibutuhkan AS. Rusia juga membuka kesempatan menjalin kesepakatan dan kerja sama dengan AS terkait mineral berharga tersebut.
”Amerika membutuhkan logam tanah jarang. Kami memiliki banyak logam tersebut,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov di Moskwa, Rusia, Selasa (25/2/2025).
Menurut Peskov, Rusia sebenarnya memiliki rencana sendiri untuk mengembangkan sumber daya strategis tersebut. Namun, ada prospek yang cukup luas untuk kerja sama di sektor itu.
Sehari sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin membuka tawaran kepada AS untuk kerja sama dalam eksplorasi endapan logam tanah jarang di Rusia. Ia juga membuka kemungkinan kesepakatan untuk menyediakan pasokan aluminium ke pasar domestik AS, berdasarkan kesepakatan ekonomi masa depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/20/4529e52197e03d248207c43b7b339847-d11ed268028f4f5cb7c16c992f6955e9_0_de9ee8adc03041ac91c54607b03e3f8c.jpg)
Sebelum pernyataan Putin itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa transaksi pembangunan ekonomi utama dengan Rusia akan berlangsung.
Dalam waktu dua jam setelah pernyataan Trump tersebut, Putin menggelar rapat dengan para menteri dan penasihat ekonominya mengenai logam tanah jarang.
Menurut Peskov, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menormalisasi hubungan antara Moskwa dan Washington sebelum kesepakatan ekonomi apa pun dapat dicapai. Pertama-tama, penyelesaian krisis Ukraina menjadi prioritas.
”Dan kemudian, terutama karena Amerika sendiri juga telah membicarakannya, sudah saatnya untuk mempertimbangkan kemungkinan proyek yang terkait dengan kerja sama perdagangan, ekonomi, dan investasi,” ujar Peskov.
Tanah jarang adalah sekelompok 17 logam yang digunakan untuk membuat magnet yang mengubah daya menjadi gerakan. Material ini vital untuk teknologi masa kini, mulai dari kendaraan listrik, telepon seluler, sistem rudal, hingga barang elektronik lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/11/d8b93c8c8941d240d9d590b71f889612-000_36XD4B9.jpg)
Berdasarkan data Survei Geologi AS, Rusia memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kelima di dunia setelah China, Brasil, India, dan Australia.
Apalagi, Rusia telah menduduki wilayah di Ukraina timur dan selatan yang mempunyai cadangan besar litium dan mineral lainnya. Litium merupakan material utama untuk pembuatan baterai listrik.
Peskov mengatakan, Rusia siap untuk membuat kesepakatan tanah jarang itu dengan AS, ketika saatnya tiba untuk kemauan politik.
Untuk mengatakan bahwa kami mempercayai Amerika, kami harus melakukan perjalanan serius. (Dmitry Peskov)
Namun, Peskov memperingatkan bahwa Rusia masih membutuhkan waktu untuk membangun kembali hubungannya dengan AS. Sebab, AS telah memberlakukan sanksi ekonomi berat pada Rusia sejak konflik Ukraina berlangsung.
”Untuk mengatakan bahwa kami memercayai Amerika, kami harus melakukan perjalanan serius. Kami harus mengambil banyak langkah kecil terhadap satu sama lain, yang akan memfasilitasi pemulihan kepercayaan. Banyak yang rusak. Ini tidak dapat dipulihkan dalam semalam,” katanya.
Tawaran Rusia itu datang di kala Ukraina belum juga mau setuju dalam perundingan kesepakatan logam tanah jarang dengan Washington. Hampir dua pekan berlalu, Kyiv belum juga bersedia menyepakati kesepakatan yang diajukan Washington.
Tawaran Washington itu akan memberikan AS akses ke mineral penting Ukraina. Mineral penting itu disebut sebagai bayaran Ukraina atas bantuan yang diberikan Washington ke Kyiv sejak dimulainya perang pada tahun 2022. Menurut Trump, nilainya lebih dari 180 miliar dollar AS dalam bentuk barang.
Sementara itu, Ukraina masih menahan menyepakati perjanjian itu karena masih meminta jaminan keamanan atas perjanjian dengan AS tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy awalnya kesal atas tawaran Washington itu. Ia mengatakan bahwa kesepakatan yang diajukan Washington itu tak memberi cukup jaminan keamanan untuk Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/854a6399846e115829b53c858923239b-000_36XK4QG.jpg)
Menurut Zelenskyy, pihaknya masih menegosiasikan tawaran untuk tahap akhir bersama AS. ”Kami membuat kemajuan besar. Tetapi, kami menginginkan kesepakatan ekonomi yang lebih baik yang akan menjadi bagian dari sistem jaminan keamanan sejati untuk Ukraina,” kata Zelenskyy dalam unggahannya di media sosial X, Minggu (23/2/2025).
Pada Senin, Putin mengatakan, negosiasi AS-Ukraina tersebut bukan masalah bagi Rusia. Di hari yang sama, Trump mengatakan bahwa ia berharap AS dan Ukraina akan segera mencapai kesepakatan mengenai mineral tanah jarang.
Trump mengatakan, Zelenskyy diperkirakan mengunjungi Washington pekan ini atau pekan depan untuk menandatangani kesepakatan tersebut. Di Kyiv, Ukraina menyatakan penyusunan perincian perjanjian soal mineral berharga itu dengan AS itu sudah di tahap finalisasi.
”Tim Ukraina dan AS berada dalam tahap akhir negosiasi mengenai perjanjian mineral. Negosiasi telah sangat konstruktif, dengan hampir semua perincian utama telah diselesaikan,” kata Wakil Perdana Menteri Ukraina Olga Stefanishyna pada X.
Zelenskyy mengatakan, ia ingin mendapatkan jaminan keamanan konkret dari AS sebagai imbalan atas pemberian akses Washington ke sumber daya penting negaranya.
”Kami berkomitmen untuk menyelesaikan ini dengan cepat untuk melanjutkan penandatanganannya,” kata Stefanishyna menambahkan dalam unggahannya itu.
Ia berharap, Trump dan Zelenskyy akan menandatangani kesepakatan di Washington untuk menunjukkan komitmen yang mengikat selama beberapa dekade mendatang.
Namun, Trump tidak mengatakan apakah kesepakatan itu akan mencakup jaminan keamanan dari AS. Hal itu ia sampaikan setelah ia bertemu dengan para pemimpin Kelompok Tujuh (G7) untuk sesi virtual pada peringatan tiga tahun invasi Rusia ke Ukraina.
Trump didampingi oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron di Gedung Putih untuk pertemuan tersebut. Keduanya mengadakan pembicaraan bilateral untuk membahas situasi di Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/25/c6489f679181995b0e57291918ed683a-AFP_36YL4PY.jpg)
Pembicaraan tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian masa depan hubungan transatlantik. Trump mengubah kebijakan luar negeri AS, meninggalkan Eropa dan mendekati Rusia untuk segera mengakhiri perang di Ukraina.
”Kita perlu memiliki jaminan untuk perdamaian yang solid,” kata Macron di awal pertemuan bilateral dengan Trump. ”Ini juga momen yang sangat penting bagi Eropa,” ujarnya menambahkan.
Macron datang untuk membujuk Trump berpihak ke Ukraina. Pembicaraan dengan Macron itu terjadi setelah Trump mengguncang Eropa dengan kritik bertubi-tubi terhadap Zelenskyy.
(AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul Hadi