PASKAH

Minggu Palma dalam Bayang-bayang Perang

Umat Kristiani di Lebanon merayakan Minggu Palma di tengah ancaman serangan Israel.

30 Mar 2026 10:16 WIB · Internasional

AP/Emilio Morenatti

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Umat Katolik dengan menggendong anak-anak mereka di pundak berbaris memanjang sambil mengipaskan daun palma dan daun zaitun saat mengikuti prosesi selama Misa Minggu Palma di Beirut, Lebanon, Minggu (29/3/2026). Suasana serupa dapat ditemui di banyak gereja kecil di pelosok Lebanon.

Di gereja yang lebih besar dan di pusat kota, seperti Gereja Our Lady of Hadat di Beirut atau Katedral Maronite Saint George, suasana terlihat lebih meriah. Prosesi Minggu Palma dirayakan di seluruh dunia, tak terkecuali di Lebanon, sebuah negara yang sedang dilanda perang.

Orang-orang tiba untuk misa Minggu Palma di Gereja Maronite Saint George di desa perbatasan Lebanon selatan Qlayaa pada Minggu (29/3/2026).
AFP

Serangan pertama Hizbullah pada 2 Maret lalu, yang menembakkan roket ke arah Israel sebagai balasan serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, telah membawa negara ini dalam kancah perang. 

Sebuah poster tiga tentara bersiaga dengan senapan serbu, lengkap dengan tulisan dalam bahasa Arab berbunyi ”Kehormatan, Pengorbanan, dan Kesetiaan” terpasang di tembok di dekat gereja. Misa hari itu berlangsung tenang dan penuh kegembiraan, jauh dari keseharian masyarakat Lebanon pada umumnya yang dilanda kecemasan dan ketakutan akan serangan Israel yang bisa datang sewaktu-waktu.

<p>Suasana misa Minggu Palma di Gereja Saint Maroun. (AFP)</p><p>Seorang perempuan Katolik berlutut di samping anjingnya di pintu masuk gereja untuk mengikuti misa Minggu Palma di Beirut, Lebanon, Minggu (29/3/2026). (AP/EMILIO MORENATTI)</p><p>Umat menggendong bayi saat misa Minggu Palma di Katedral Saint Thomas, Tyre, Lebanon, Minggu (29/3/2026). (AP/HUSSEIN MALLA)</p>

Suasana misa Minggu Palma di Gereja Saint Maroun. (AFP)

Seorang perempuan Katolik berlutut di samping anjingnya di pintu masuk gereja untuk mengikuti misa Minggu Palma di Beirut, Lebanon, Minggu (29/3/2026). (AP/EMILIO MORENATTI)

Umat menggendong bayi saat misa Minggu Palma di Katedral Saint Thomas, Tyre, Lebanon, Minggu (29/3/2026). (AP/HUSSEIN MALLA)

Meskipun demikian, gereja Katolik Maronit di dekat Dahiyeh, di pinggiran selatan Beirut, yang dulu padat penduduk dan telah lama dikuasai oleh Hizbullah kini kosong. Perintah evakuasi besar-besaran oleh Israel dan serangan udara yang terus-menerus membuat warganya menyingkir dari daerah ini. 

Di kota pesisir Tyre di Lebanon selatan, yang terisolasi karena pengeboman jembatan penghubung oleh Israel, denting lonceng gereja dan musik paduan suara yang merdu memenuhi udara. Umat sungguh-sungguh berdoa untuk perdamaian meskipun permusuhan sektarian sejak perang saudara 1975-1990 tidak pernah jauh dari kehidupan mereka.

Umat berlindung dari hujan di bawah payung saat tiba di sebuah gereja untuk menghadiri misa Minggu Palma di Beirut, Lebanon, Minggu (29/3/2026).
Umat mengambil foto putrinya di luar gereja saat mereka merayakan Minggu Palma di kota pelabuhan Tyre, Lebanon selatan, Minggu (29/3/2026).
Seorang perempuan berjalan di salah satu gang untuk menghadiri misa Minggu Palma di Katedral Saint Thomas di kota pelabuhan Tyre, Lebanon selatan, Minggu (29/3/2026).
Anak laki-laki memegang lilin dalam prosesi misa Minggu Palma di Katedral Saint Thomas di kota pelabuhan Tyre, Lebanon selatan, Minggu (29/3/2026).

Sekarang, umat gereja mengatakan bahwa semua warga Lebanon, apa pun agamanya, menderita akibat konflik yang semakin intens antara Israel dan Hizbullah. ”Saat ini tidak ada pengeboman, tetapi tidak ada seorang pun yang aman dari ini, bukan orang Kristen, bukan siapa pun,” kata Mahia Jamus, seorang mahasiswi berusia 20 tahun, di Beirut. Tidak ada yang terhindar dari dampaknya, tambahnya.

Di Tyre, ribuan penduduk tetap berada di rumah dan tempat penampungan meskipun ada perintah evakuasi dari Israel. Pada Minggu Palma, umat merasa terhibur dengan pelestarian tradisi kuno di tengah penderitaan di sekitar mereka.

<p>Misa Minggu Palma di Gereja Saint Maroun, Shiyah, Lebanon, Minggu (29/3/2026). (AFP)</p><p>Seorang imam memimpin misa Minggu Palma di Gereja Saint Maroun. (AFP)</p><p>Minggu Palma merupakan peringatan masuknya Yesus Kristus ke Jerusalem. Misa Minggu Palem di Katedral Maronite Saint George, Beirut. (AFP/DIMITAR DILKOFF)</p><p>Prosesi Minggu Palma di Katedral Maronite Saint George, Beirut. (AFP/DIMITAR DILKOFF)</p>

Misa Minggu Palma di Gereja Saint Maroun, Shiyah, Lebanon, Minggu (29/3/2026). (AFP)

Seorang imam memimpin misa Minggu Palma di Gereja Saint Maroun. (AFP)

Minggu Palma merupakan peringatan masuknya Yesus Kristus ke Jerusalem. Misa Minggu Palem di Katedral Maronite Saint George, Beirut. (AFP/DIMITAR DILKOFF)

Prosesi Minggu Palma di Katedral Maronite Saint George, Beirut. (AFP/DIMITAR DILKOFF)

”Di tengah perang, tragedi, dan kehancuran yang terjadi, kami berada di tanah kami,” kata Roseth Katra saat mengikuti misa di gereja batu berusia berabad-abad di Tyre. ”Hari ini adalah Minggu Palma dan kami merayakannya.” (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti