Tekan Beban Bantargebang, Jakarta Perlu Punya Minimal Tiga RDF ”Plant”

Tempat pengolahan sampah jadi bahan bakar atau RDF ”plant” dengan kemampuan hingga 2.500 ton sampah per hari diyakini dapat mengurangi beban TPST Bantargebang.

25 Feb 2025 19:29 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

JAKARTA, KOMPAS - Jakarta mesti punya setidaknya tiga tempat pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau RDF Plant berkapasitas 2.500 ton per hari guna mengurangi beban Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Bantargebang. Namun, dampak keberadaannya perlu dimitigasi agar tidak merugikan warga sekitar.

Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno menyampaikan hal itu sesuai meninjau tempat pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Rorotan, Jakarta Utara, Selasa (25/2/2025) sore. Ia mengecek kesiapan peralatan dan sistem sebelum pengoperasian awal serta peresmian pada April 2025.

Keberadaan RDF Plant dengan kemampuan mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari diyakini dapat mengurangi beban Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat. Meski demikian, dampak keberadaannya harus dimitigasi agar tak merugikan warga. Alternatif pengolahan sampah lain juga harus dipertimbangkan karena produksi sampah Jakarta sudah mencapai 8.000 ton per hari.

"Kalau bikin RDF Plant lagi harus di wilayah administratif lain, misalnya Jakarta Barat, supaya merata karena kapasitas pengolahan sampahnya terbatas. Minimal Jakarta punya tiga RDF Plant," ujar Rano.

Dalam tinjauannya, politisi PDI-Perjuangan ini juga mengecek penanganan keluhan bau oleh warga sekitar RDF Plant Rorotan. Salah satu keluhan datang dari warga Jakarta Garden City yang berjarak kurang dari 5 kilometer dari RDF Plant.

Selasa sore itu tercium bau di dalam kompleks RDF Plant Rorotan. Bau ini samar-samar hingga kuat tergantung kencangnya angin.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno ketika meninjau RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara, Selasa (25/2/2025).

Menurut Rano, ada beberapa mesin yang baru terpasang dan masih diuji coba. Akan tetapi, pengelola terus berbenah agar bau bisa seminimal mungkin dan RDF Plant bisa diresmikan pada April nanti. "Sampah pasti bau, tetapi diupayakan agar tidak jadi masalah," kata Rano.

Ia menjanjikan akses jalan ke RDF Plant diperbesar menjadi dua jalur. Hal ini untuk mengantisipasi kepadatan hingga kemacetan akibat lalu lalang truk pengangkut sampah yang berukuran besar.

Selain itu, solusi pengelolaan sampah perkotaan yang lain bakal dijajaki. Apalagi, produksi sampah harian sudah mencapai 8.000 ton.

Pada saat yang sama, kapasitas RDF Plant Bantargebang hanya 2.000 ton sampah per hari. Itu sudah termasuk 1.000 ton sampah lama dari zona tidak aktif TPST Bantargebang.

Di sisi lain saat ini setiap hari masuk 7.200-7.700 ton sampah ke TPST Bantargebang. Sementara daya tampungnya tetap sama sejak mulai beroperasi pada 1989 sehingga pengurangan beban menjadi sangat penting.

"Semua potensi dicoba untuk selesaikan masalah sampah, banjir, dan kemiskinan kota. Salah satunya wacana pulau sampah, seperti Singapura," ucap Rano.

Pekerja menyortir sampah baru yang akan diproses menjadi refuse derived fuel (RDF) di kawasan Fasilitas Landfill Mining dan Refuse Derived Fuel Plant TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Selasa (27/6/2023). Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono melepas 20 truk berisi bahan bakar alternatif atau RDF yang akan dikirimkan menuju pabrik semen yakni PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk (Indocement) dan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI). Pengiriman ini merupakan tindak lanjut perjanjian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan perusahaan semen yang akan menggunakan RDF sebagai bahan bakar alternatif. RDF ini merupakan salah satu solusi untuk mengurangi sampah yang menumpuk di Bantargebang. Sekitar 7.500 ton sampah dari Jakarta dikirimkan setiap harinya ke Bantargebang. Fasilitas RDF Plant ini bisa mengolah 2.000 ton sampah per hari yang terdiri dari 1.000 ton sampah lama dan 1.000 ton sampah baru. Mesin tersebut dapat menghasilkan sekitar 700 ton RDF per hari. Fakhri Fadlurrohman (Z19) 27-06-2023

RDF Plant

RDF Plant Rorotan akan melayani 16 kecamatan. Seluruh kecamatan di Jakarta Utara; Cempaka Putih, Kemayoran, Johar Baru, dan Senen di Jakarta Pusat; dan Cakung, Pulogadung, Duren Sawit, Jatinegara, Matraman, dan Makassar di Jakarta Timur.

Fasilitas tersebut dirancang untuk mengolah 2.500 ton sampah baru per hari. Hasilnya sebagai berikut, 35-40 persen menjadi produk RDF, 1-2 persen berupa material daur ulang, seperti logam, dan 15 persen residu, seperti beling, kerikil, pasir, dan keramik, serta sisanya berupa air lindi dan kadar air yang menguap saat proses pengeringan.

Operasionalnya dilengkapi dengan teknologi pengendalian bau. Terdapat deodorizer untuk menetralkan bau amonia dan hidrogen sulfida melalui proses oksidasi.

RDF Plant juga dilengkapi filter karbon aktif untuk menyerap partikel bau yang tersisa. Kemudian, cyclone dan wet scrubber untuk menyaring gas hasil pembakaran sebelum dilepas ke lingkungan serta sistem pengolahan air limbah untuk mengelola residu cair dari proses pengolahan sampah.

"Saat uji coba deodorizer-nya belum sempurna. Kami tambahkan cairan penghilang bau dan isi filter karbon aktif. Cerobong asapnya juga sudah dikembangkan agar tidak banyak terbuang keluar dan berwarna hitam. Kami jamin keamanannya," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Asep Kuswanto.

Di samping itu, kini telah dipasang stasiun pemantau kualitas udara di kawasan RDF Plant dan Jakarta Garden City. Tujuannya untuk mengontrol dampak operasional dan bentuk keterbukaan informasi.

"Kami pantau kualitas udaranya. Ini jaminan karena sejauh ini belum ada wacana uang kompensasi bau bagi warga sekitar, seperti di Bantargebang," kata Asep.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan