Pada Juli-November 2024, minyak goreng mengalami inflasi beruntun. Bahkan, pada November 2024, tingkat inflasi komoditas itu tertinggi sepanjang 11 bulan terakhir.
02 Des 2024 14:30 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Minyak goreng mengalami inflasi beruntun dalam lima bulan terakhir. Hal itu menyebabkan komoditas berbahan baku dalam negeri itu berkontribusi terhadap tingkat inflasi umum dan inti.
Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (2/12/2024), merilis, tingkat inflasi bulanan dan tahunan pada November 2024 masing-masing 0,3 persen dan 1,55 persen. Komoditas utama yang berkontribusi terhadap inflasi bulanan itu adalah bawang merah, tomat, emas perhiasan, daging ayam ras, dan minyak goreng.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, minyak goreng termasuk dalam delapan komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi pada November 2024. Minyak goreng juga memberikan kontribusi terhadap inflasi inti November 2024 yang sebesar 0,17 persen bersama dua komoditas lain, yakni emas perhiasan dan kopi bubuk.
Pada bulan tersebut, minyak goreng mengalami inflasi sebesar 2,17 persen secara bulanan. Andilnya terhadap inflasi umum sebesar 0,03 persen secara bulanan.
”Tingkat inflasi minyak goreng yang mencapai 2,17 persen pada November 2024 itu merupakan inflasi tertinggi komoditas tersebut sepanjang Januari-November 2024,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta.
Tingkat inflasi minyak goreng yang mencapai 2,17 persen pada November 2024 itu merupakan inflasi tertinggi komoditas tersebut sepanjang Januari-November 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/02/fb281d29bd5340ee86535e2603686ec5-Screenshot_2024_12_02_111917.png)
BPS mencatat, pada Januari-November 2024 atau selama 11 bulan, minyak goreng mengalami sembilan kali inflasi dan dua kali deflasi. Pada Juli-November 2024, minyak goreng mengalami inflasi secara beruntun, yakni 0,3 persen pada Juli, 0,39 persen pada Agustus, 0,38 persen pada September, 0,78 persen pada Oktober, dan 2,71 persen pada November.
Adapun berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag), pada 29 November 2024, harga rerata nasional Minyakita Rp 17.100 per liter, minyak goreng kemasan premium Rp 21.500 per liter, dan minyak goreng curah Rp 17.900 per liter. Sejak 1 Juli 2024, harga rerata Minyakita naik 4,91 persen, minyak goreng kemasan premium 2,38 persen, dan minyak goreng curah 12,58 persen.
Kenaikan tertinggi terjadi pada minyak goreng curah lantaran Kemendag mengeluarkan minyak tersebut dari program Minyak Goreng Rakyat (MGR). Dengan begitu, dalam program tersebut, para eksportir minyak sawit dan sejumlah produk turunan hanya wajib memasok kebutuhan dalam negeri (DMO) berupa Minyakita.
Kemendag juga tidak lagi mengatur harga eceran tertinggi (HET) Minyakita. Kemendag hanya mengatur HET Minyakita yang ditetapkan Rp 15.700 per liter. Namun, sejak Juli 2024 hingga akhir November 2024, harga Minyakita terus naik di atas HET.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/11/2305d7b2-53be-4028-a358-8c7923375c21.jpg)
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah pekan lalu, Kantor Staf Presiden (KSP) menyorot kenaikan harga minyak goreng, terutama Minyakita atau minyak goreng kemasan sederhana program MGR. KSP bahkan meminta Kemendag menjinakkan harga Minyakita.
Deputi III Bidang Ekonomi KSP Edy Priyono menduga, kenaikan harga Minyakita bisa disebabkan oleh produksi kurang atau masalah distribusi. Salah satu indikatornya adalah disparitas harga Minyakita antardaerah rendah, yakni 4,42 persen.
”Kami sudah mengecek data dan lapangan. Hanya tiga provinsi, yakni DI Yogyakarta, Bangka Belitung, dan Riau, yang harga Minyakita-nya sesuai atau di bawah HET. DKI Jakarta dan Jawa Barat yang ada di depan kita saja harga Minyakita-nya di atas HET,” kata Edy.
Dalam Rapat Koordinasi Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga Minyak Goreng pada 28 November 2024, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan, harga Minyakita relatif stabil dan pasokannya tidak mengalami masalah. Harga rerata nasional Minyakita Rp 17.100 per liter.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/05/ae899a329a7496bea733d0066190a87e-HnfsFTAZmxGGDi4FzhCwp5nKGhaZEx3KEbTdTk43.jpg)
Menurut Budi, harga tersebut memang masih di atas HET, tetapi gapnya tidak terlalu tinggi. Di beberapa daerah, Minyakita dijual masih sesuai dengan HET. Kenaikan harga Minyakita itu hanya terjadi di beberapa wilayah di Indonesia timur karena permintaan meningkat.
”Oleh karena itu, daerah-daerah tertentu yang mengalami kenaikan harga Minyakita akan segera mendapat kiriman pasokan sebagai respons tingginya permintaan. Jadi, dari pasokan, tidak ada masalah,” kata Budi melalui siaran pers di Jakarta.
Budi menjamin Kemendag akan memastikan stabilitas pasokan dan harga Minyakita di seluruh daerah di Indonesia pada Natal dan Tahun Baru 2024/2025, bahkan Ramadhan-Lebaran 2025. Kemendag akan meningkatkan pengawasan secara intensif ke jaringan distribusi dan menindak para pelaku yang menjual Minyakita tidak sesuai dengan HET.
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
FX Laksana Agung Saputra