Ousmane Dembele masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan untuk para tim lawan PSG. Teka-teki itu kini menatap Inter Milan dalam final Liga Champions.
31 Mei 2025 08:00 WIB · Olahraga
Belum genap setahun, nuansa batin para penggemar Paris Saint-Germain sudah berubah soal kepergian penyerang Kylian Mbappe. Sang megabintang sempat memberikan patah hati massal untuk kota Paris saat pergi pada musim panas lalu, tetapi kehilangan itu saat ini mulai dirayakan.
Bagi PSG, kehilangan Mbappe merupakan musibah terbaik yang pernah dialami. Bagaimana tidak, efek kupu-kupu yang terjadi sangat mengejutkan. Penyerang Ousmane Dembele yang selama ini berada di bawah bayang-bayang Mbappe justru menjadi sosok pengganti yang lebih berpengaruh.
Tidak akan ada Dembele versi saat ini jika Mbappe tidak pergi. Pelatih kepala Luis Enrique mengubah posisi Dembele, dari sayap ke tengah, untuk mengisi lubang yang ditinggalkan Mbappe. Bimsalabim, Dembele yang sering membuang peluang tiba-tiba menjadi pencetak gol ulung.
Mbappe pergi ke Real Madrid bersama kontribusi 44 gol dalam semusim. Siapa sangka, Dembele mampu menghasilkan 33 gol di semua kompetisi pada musim ini. Jumlah itu sudah melampaui total golnya selama lima musim terakhir, termasuk saat masih membela Barcelona (2019-2023).
”Bermain sebagai ’nomor 9’ membuat saya lebih dekat dengan gawang,” kata Dembele saat ditanya bagaimana perubahan posisi berpengaruh drastis terhadap performanya. ”Saat melewati satu pemain, saya sudah berada di depan gawang dan tinggal fokus mencetak gol,” lanjut pemain 27 tahun itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/31/c8f84790a25935d3262870d2febe329d-APTOPIX_Germany_Soccer_Champions_League_Final.jpg)
Menariknya, berbeda dengan Mbappe, kontribusi Dembele lebih dari sekadar gol. Dia merupakan pusat dari sistem permainan ala Enrique. Jika banyak orang mengagumi kemampuan lini tengah PSG yang sangat cair membangun serangan, ada peran besar Dembele di dalamnya.
Pemain tim nasional Perancis itu memang ditugaskan sebagai penyerang tengah. Namun, di lapangan, dia diberikan kebebasan bergerak. Mulai dari bergeser kedua sisi sayap sampai mundur ke lini tengah. Ketika Dembele sudah membantu ke tengah, sangat sulit menghentikan serangan PSG.
Arsenal adalah salah satu tim terbaik, jika bukan yang terbaik, dalam menekan tinggi lawan ketika tanpa bola. Saat berhadapan dengan PSG di semifinal Liga Champions, jebakan mereka sering jebol. Dembele berhasil mengacaukan sistem bertahan agresif ala manajer Mikel Arteta tersebut.
Peran krusial Dembele terlihat pada laga pertama saat PSG bertandang ke Stadion Emirates. PSG membawa pulang kemenangan 1-0 dari London berkat gol Dembele pada menit ke-4. Menariknya, sang penyerang menjadi eksekutor sekaligus arsitek dalam gol tersebut.
Dembele mundur ke lini tengah untuk memberikan opsi umpan. Para pemain bertahan Arsenal tidak siap. Setelah mendapatkan bola dan melihat pertahanan lawan terbuka, Dembele mengoper ke sisi sayap. Beberapa detik kemudian, dia mencetak gol dari umpan silang Khvicha Kvaratskhelia.
Sekali mungkin kebetulan, tetapi tidak jika terjadi berkali-kali. Dembele melakukan hal nyaris serupa saat mencetak gol ke gawang Liverpool dalam laga 16 besar di Stadion Anfield. Dia juga mengorkestrasi peluang sendiri dari lini tengah, lalu mengeksekusi sendiri di kotak penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/30/cd9ee65a620051f4263a5254f83bd992-wires_photo_32_.jpg)
Bedanya, Dembele menahan lajunya ketika gol versus Arsenal. Alih-alih masuk kotak penalti yang sudah terdapat banyak pemain, dia menunggu dan menembak dari luar kotak penalti. Adapun pada gol ke gawang Liverpool, dia berlari ke arah gawang untuk menerima umpan silang Bradley Barcola.
Kelebihan terbesar Dembele bukanlah tembakan keras, insting gol, ataupun sprint cepat, melainkan kecerdasan. Dia memahami ruang dan waktu dengan sangat baik untuk menempatkan diri. Kelebihan itu pula yang membuat Enrique untuk memberikan kebebasan bergerak kepadanya.
Pemain yang pernah dibeli Barca seharga 135 juta euro itu sangat sulit dibaca karena tidak punya kaki lemah. Dia bisa menggunakan kaki kiri dan kanan dengan sama baik. Lihat saja statistik tembakannya di Liga Champions, sebanyak 24 kali dari kaki kanan dan 36 kali dari kaki kiri.
Menurut Enrique, ada pendekatan khusus dalam metamorfosis Dembele. Dia fokus terhadap hal lain yang bisa disumbang sang pemain. ”Kami tidak mencari pencetak gol (dalam dirinya) karena itu akan memberikan tekanan. Kami lebih ke menjadikannya masalah (untuk tim lain),” katanya.
Metamorfosis Dembele merupakan salah satu faktor terbesar kesuksesan PSG musim ini, termasuk lolos ke final Liga Champions. Dia sudah berkontribusi 12 gol di turnamen itu (8 gol dan 4 asis). Jumlah tersebut menjadi rekor baru klub dalam semusim kompetisi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/31/a9de2638c098afc3cd2509a982e8f6fc-wires_photo_2025_05_31T025430.724.jpg)
Dembele masih menjadi teka-teki yang belum bisa dipecahkan tim-tim lawan PSG. Dia akan kembali memunculkan masalah serupa di final Liga Champions nanti. Inter Milan harus menyiapkan strategi untuk meredam Dembele jika ingin pulang dengan trofi ”Si Kuping Lebar”.
Inter dengan formasi 3-5-2 punya keleluasaan untuk menekan Dembele. Salah satu dari tiga bek tengah bisa terus menempel agresif Dembele hingga ke lini tengah. Pendekatan bertahan seperti itu sempat dilakukan saat Inter menyingkirkan Barcelona di semifinal.
Strategi ala Pelatih Simone Inzaghi itu menghasilkan dua hal sekaligus. Selain menghentikan serangan lawan, mereka juga bisa memulai transisi serangan balik dari situasi tersebut. Intinya, hidup Inter akan lebih mudah jika bisa meredam Dembele sepanjang laga. Begitu pula sebaliknya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .