Iga Swiatek tampil bukan dengan kemampuan terbaiknya pada laga pertama di final WTA 2024. Dia harus meningkatkan level permainan untuk mempertahankan gelar.
04 Nov 2024 11:44 WIB · Olahraga
Oleh Yulia Sapthiani - [email protected]
RIYADH, MINGGU — Iga Swiatek melewati tantangan sulit pada pertandingan pertamanya dalam penyisihan Grup Oranye turnamen final WTA di Riyadh, Arab Saudi. Namun, dengan performanya pada laga itu, Swiatek akan sulit menggeser Aryna Sabalenka dari puncak peringkat dunia.
Kemenangan pertama itu didapat saat melawan Barbora Krejcikova di King Saud University Indoor Arena, Minggu (3/11/2024). Swiatek menang dengan skor 4-6, 7-5, 6-2 setelah bertanding selama 2 jam 33 menit. Adapun pada pertandingan lain di grup yang sama, Cori ”Coco” Gauff mengalahkan sesama petenis Amerika Serikat, Jessica Pegula, 6-3, 6-2, dengan durasi setengahnya dari pertandingan Swiatek melawan Krejcikova.
Berdasarkan hasil tersebut, Coco memimpin Grup Oranye diikuti Swiatek, Krejcikova, dan Pegula. Mereka dan empat petenis lain di Grup Ungu bersaing dengan format round robin untuk memperebutkan ranking dua teratas setiap grup, sebagai syarat lolos ke semifinal.
Peserta turnamen ini adalah delapan petenis terbaik berdasarkan prestasi sepanjang 2024 dengan pengecualian ada pada Krejcikova. Petenis Ceko ini sebenarnya hanya menempati peringkat ke-12 daftar peringkat final WTA, di bawah Emma Navarro, Daria Kasatkina, Daniel Collins, dan Paula Badosa yang masing-masing berada di urutan ke-8 hingga ke-11.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/04/89e49cb20106433f09ce63ed7d43f955-AFP_36LH2ZQ.jpg)
Namun, pada 2024, WTA menerapkan peraturan baru, yaitu tiket final WTA diprioritaskan untuk juara Grand Slam yang berada di peringkat ke-9 hingga ke-20. Krejcikova pun berhak tampil karena berstatus juara Wimbledon.
Bagi Swiatek, pertandingan melawan Krejcikova menjadi yang pertama dalam rentang dua bulan. Petenis dengan lima gelar juara Grand Slam itu tak berkompetisi sejak kalah pada perempat final Amerika Serikat Terbuka untuk mengevaluasi performanya yang menurun setelah menjuarai Perancis Terbuka.
Swiatek bahkan mengganti Pelatih Tomasz Wiktorowski dengan mantan pelatih Naomi Osaka, Wim Fisette, sejak Oktober. Maka, meski latihan tetap dilakukan dengan rutin, dia perlu beradaptasi kembali dengan atmosfer kompetisi. Apalagi, final WTA hanya diikuti delapan petenis.
”Saya sedikit lupa dengan rasanya berkompetisi. Berbeda dengan latihan, dalam pertandingan ada tekanan dan emosi. Saya harus beradaptasi kembali. Namun, saya senang bisa melaluinya dan cukup sabar untuk tampil lebih baik,” tutur Swiatek yang kehilangan set pertama 4-6 dan tertinggal 0-3 pada set kedua sebelum akhirnya menang.
Meskipun Swiatek membutuhkan waktu lama untuk bangkit, Krejcikova menilai bahwa petenis berusia 23 tahun itu tetap solid. ”Melawan Iga, Anda harus bermain lebih baik dari dia selama dua set, sementara saya kehilangan momentum,” ujar Krejcikova.
Krejcikova memiliki penilaian positif terhadap Swiatek. Namun, Swiatek akan berada dalam bahaya jika tak bisa menaikkan level permainan dan konsisten pada kemampuan terbaiknya. Dia tak hanya akan kehilangan gelar final WTA yang didapatnya di Meksiko pada 2023, tetapi kehilangan peluang menjadi petenis nomor satu dunia pada akhir 2024.
Swiatek harus mempertahankan gelar jika ingin menyalip Aryna Sabalenka pada posisi teratas. Namun, skenario ini akan buyar jika Sabalenka memenangi semua pertandingan di Grup Ungu. Tiga kemenangan di fase penyisihan telah cukup untuk membuatnya bertahan di puncak peringkat hingga akhir tahun. Hal itu sangat dimungkinkan terjadi karena Sabalenka tampil begitu konsisten. Dia memenangi 21 dari 22 pertandingan terakhir.
Saya sedikit lupa dengan rasanya berkompetisi. Berbeda dengan latihan, dalam pertandingan ada tekanan dan emosi. Saya harus beradaptasi kembali. (Iga Swiatek)
Setelah mengalahkan Zheng Qin Wen, Sabtu (2/11/2024), Sabalenka akan berhadapan dengan Jasmine Paolini, Senin (4/11/2024). Laga ini menjadi pertemuan antara petenis yang memenangi pertandingan pertama karena Paolini menang atas Elena Rybakina, juga pada Senin.
”Kami berdua bertarung memperebutkan posisi itu (petenis nomor satu dunia akhir tahun) dan kami sudah sering berada di posisi tersebut. Saya hanya ingin fokus pada pertandingan,” ujar Swiatek.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/04/54978c5d33cdce45b0fdaaaafa3d97ae-AFP_36LG83G.jpg)
Sementara Coco merasa puas dengan penampilannya saat mengalahkah Pegula. Coco memasuki lapangan dengan posisi yang lebih tinggi dari lawannya dalam peringkat dunia. Namun, Coco (peringkat ketiga) tertinggal dalam statistik pertemuan dengan temannya yang berperingkat keenam itu. Coco tertinggal 1-4 dan kalah pada tiga pertemuan terakhir.
Tak pelak, dia bersyukur bisa mengalahkan Pegula dalam dua set. Apalagi, Coco tampil bersama pelatih baru, Matt Daly, setelah mengakhiri kerja sama dengan pelatih senior, Brad Gilbert.
”Secara umum, saya senang dengan performa saya. Kami bermain pada level tinggi dan saya bisa mendapat poin pada momen penting,” ujar Coco yang mencapai semifinal pada final WTA 2023.
Pada turnamen putra ATP Masters 1000 Paris, Alexander Zverev menjadi petenis Jerman kedua, setelah Boris Becker, yang menjadi juara. Zverev menambahkan gelar dari turnamen level Masters 1000 setelah mengalahkan petenis tuan rumah, Ugo Humbert, dengan skor 6-2, 6-2, pada final, Minggu (3/11/2024).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/04/3ee17414f8030a394d421b7f2b4aa0cf-AFP_36LE27F.jpg)
Gelar itu menjadi yang kedua dari Masters 1000 pada 2024, setelah juara di Roma Masters dan yang ketujuh dalam karier tenis profesional Zverev. Dia pertama kali mendapatkannya pada musim kompetisi 2017, yaitu dari Roma dan Kanada.
Dengan tujuh gelar juara tersebut, Zverev berada pada urutan kedelapan petenis dengan gelar juara Masters 1000 terbanyak. Hampir semua petenis dengan gelar lebih banyak telah pensiun dan akan pensiun, seperti Novak Djokovic sebagai pemilik gelar terbanyak, yaitu 40, diikuti Rafael Nadal (36) dan Roger Federer (28).
Zverev, yang akan tampil pada turnamen Final ATP di Turin, Italia, 10-17 November, menargetkan menjuarai Grand Slam pada 2025. ”Target juara Grand Slam tentu dimiliki semua petenis, termasuk saya. Maka, yang harus saya lakukan adalah terus mengembangkan kemampuan,” kata peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 itu.
Zverev sebenarnya menjadi petenis yang berkembang lebih dulu di antara angkatan ”Next Gen”, seperti Stefanos Tsitsipas, Daniil Medvedev, dan Andrey Rublev, tetapi belum pernah menjuarai Grand Slam. Prestasinya bahkan disalip oleh angkatan baru, yaitu Jannik Sinner yang telah dua kali menjuarai Grand Slam dan Carlos Alcaraz dengan empat gelar. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan