Manajer MU Ruben Amorim menjanjikan perubahan setelah kalah memalukan dari Grimsby Town. Perubahan itu akan diperlihatkan dalam laga akhir pekan ini versus Burnley.
29 Agt 2025 17:03 WIB · Olahraga
MANCHESTER, JUMAT — Seusai ditaklukkan tim divisi empat, Grimsby Town, Manchester United seperti berada di dasar Palung Mariana. Mereka berada di titik terendah, tidak bisa lebih buruk lagi dari itu. Manajer MU Ruben Amorim pun tidak punya pilihan selain melakukan perubahan total.
Amorim meminta maaf kepada para penggemar setelah MU tersingkir di babak kedua Piala Liga Inggris, tengah pekan lalu. Dia berjanji, tim “Setan Merah” akan membayar kekecewaan itu dalam laga versus Burnley di Stadion Old Trafford, Manchester, Sabtu (30/8/2025) pukul 21.00 WIB.
Amorim terkejut karena MU kalah bersaing dengan Grimsby yang berada di urutan ke-1.304 dalam ranking tim versi Opta. “Saya rasa ini sedikit melampaui batas. Saya rasa ada sesuatu yang harus diubah. Anda tidak bisa lagi mengganti 22 pemain sekaligus (dengan pemain baru),” katanya.
Amorim menjanjikan perubahan pada akhir pekan nanti. Namun, tidak ada yang mengetahui isi kepala sang pria asal Portugal tersebut. Apalagi terlalu banyak hal yang harus diperbaiki MU saat ini, mulai dari komposisi pemain, kreasi peluang di kotak penalti, hingga skema bertahan bola mati.
Dalam laga versus Grimsby, saat tertinggal 0-2, Amorim sempat mengutak-atik papan taktik di bangku cadangan. Kegiatan itu disorot oleh para warga internet. Pertanyaan muncul, jika Amorim sangat tertarik dengan persoalan taktik, mengapa dia nyaris hanya bisa mengandalkan formasi 3-4-2-1?
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/28/8097db3828a61db6ca6910459a92e20e-Britain_Soccer_League_Cup_4_.jpeg)
MU bahkan tetap memainkan formasi tiga bek tengah itu ketika berhadapan dengan Grimsby yang sebenarnya tidak diperlukan. Cara tersebut nyaris hanya efektif saat melawan tim-tim besar, seperti saat MU berhasil menyulitkan Arsenal pada laga pembuka musim ini.
Amorim berkali-kali mengatakan, formasi di atas kertas tidak terlalu relevan dalam sepak bola modern. Sebab, pendekatannya akan sangat berbeda di lapangan. Ucapan itu benar adanya. Tim-tim lain dengan formasi awal 4-3-3 juga banyak yang mengubah struktur jadi tiga bek saat penguasaan bola.
Masalahnya, formasi 3-4-2-1 sejak awal laga mengharuskan Amorim untuk menurunkan tiga bek tengah sekaligus. MU pun terpaksa mensubsidi satu pemain bertipe ofensif. Amorim mengakali itu dengan menaruh gelandang serang Bruno Fernandes sebagai salah satu dari dua gelandang jangkar.
Hal tersebut menciptakan efek domino lebih besar. Selain tidak bisa maksimal dalam menjadi kreator serangan, sang kapten yang juga kurang piawai bertahan, juga sering diincar lawan saat tanpa penguasaan bola. Masalah itu terekspos saat MU ditahan imbang Fulham 1-1.
Gary Neville, mantan bek MU berkata, Amorim paling tidak harus mengubah komposisi dua pivot jika tetap ingin bermain dengan formasi 3-4-2-1. Fernandes semestinya dimainkan kembali sebagai gelandang serang. Posisi jangkar bisa diberikan kepada Kobbie Mainoo atau Manuel Ugarte.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/29/4635c4ca-7c37-40fa-8b2e-6fb5e5cde675_png.png)
“Jika ada saran yang bisa saya berikan, perbaiki lini tengah. Anda tidak bisa bermain tanpa lini tengah. Tiga bek tengah dan dua gelandang mereka sangat solid saat bermain rapat, tetapi harus dengan pemain tepat. Itu tidak bekerja dengan Fernandes dan (Mason) Mount,” ujar Neville dalam acara The Overlap.
Adapun MU selalu menggunakan komposisi pemain lini tengah yang sama dalam dua pertandingan awal liga, yaitu versus Arsenal dan Fulham. Fernandes berduet dengan Casemiro di posisi jangkar, sementara Mount berpasangan dengan Bryan Mbeumo di belakang penyerang Matheus Cunha.
Masalah kompleks MU juga terpampang di bawah mistar gawang. Dua kiper mereka, Andre Onana dan Altay Bayindir, menjadi titik lemah di belakang. Bayindir sempat salah mengantisipasi tendangan sudut Arsenal yang berbuah gol kemenangan lawan. Onana melakukan hal serupa versus Grimsby.
Menurut Opta, sejak musim 2023-24, para penjaga gawang MU mencatatkan blunder terbanyak yang berujung gol di seluruh kompetisi dibandingkan kiper tim-tim Liga Inggris lain (12 kali). Onana menyumbang sembilan di antaranya. Masalah itu akan sulit diselesaikan karena MU tidak aktif mencari kiper baru.
Amorim sangat membutuhkan hasil positif jika tidak ingin bernasib sama seperti manajer-manajer sebelumnya pasca era Sir Alex Ferguson. Adapun Amorim saat ini mencatatkan rasio kemenangan terburuk dari seluruh pelatih “Setan Merah” sejak 2013, yaitu 35,6 persen dari 45 laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/25/1b7facd74eab545708ef9833038cf71b-wires_photo_2025_08_25T022121.694.jpg)
Ralf Rangnick, mantan manajer interim MU, bahkan mencatat rasio kemenangan lebih baik dibandingkan Amorim (38 persen). Kemenangan atas tim promosi, Burnley, pun wajib diraih. Lewat tiga poin pertama di musim ini, tim asuhan Amorim bisa menciptakan momentum untuk bangkit. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra