HAJI 2026

Mitigasi Konflik Timur Tengah, Kemenhaj Siapkan Perubahan Rute hingga Penundaan Pemberangkatan Haji

Presiden Prabowo meminta agar keselamatan jemaah menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan terkait penyelenggaraan ibadah haji.

11 Mar 2026 11:05 WIB · Politik & Hukum

Kompas/Reny Sri Ayu Arman

Oleh Iqbal Basyari

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Haji dan Umrah menyiapkan sejumlah skenario penyelenggaraan ibadah haji untuk mengantisipasi dinamika konflik di Timur Tengah. Opsi yang disiapkan antara lain perubahan rute penerbangan hingga kemungkinan penundaan keberangkatan jemaah.

Sejumlah skenario yang disiapkan pemerintah itu menurut rencana akan dibahas bersama DPR pada Rabu (11/3/2026) ini.

Keberangkatan kloter pertama jemaah haji Indonesia saat ini masih direncanakan berlangsung pada 22 April. Namun, berbagai langkah mitigasi tetap disiapkan pemerintah apabila eskalasi konflik berpotensi membahayakan keselamatan jemaah.

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, Presiden Prabowo Subianto meminta agar keselamatan jemaah menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan terkait penyelenggaraan haji. Karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi kemungkinan perubahan situasi di kawasan.

Dahnil Anzar Simanjuntak

”Pesan Presiden satu, fokus beliau adalah ingin memastikan keselamatan jemaah haji. Itu yang paling penting,” ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa malam.

Menurut Dahnil, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi perkembangan situasi. Skenario tersebut akan dibahas bersama DPR serta kementerian dan lembaga terkait sebelum diambil keputusan lebih lanjut.

Salah satu opsi yang disiapkan adalah perubahan rute penerbangan menuju Arab Saudi apabila jalur tertentu dinilai tidak aman. Pemerintah membuka kemungkinan penggunaan rute alternatif yang dinilai lebih aman bagi perjalanan jemaah. Rute alternatif yang dipertimbangkan salah satunya melalui jalur selatan atau wilayah Afrika.

”Kalau kemudian itu memang terjamin penerbangannya, keamanan penerbangannya, maka kita siapkan rute penerbangannya berubah,” katanya.

Adapun penerbangan jemaah haji Indonesia menuju Arab Saudi umumnya menempuh perjalanan jarak jauh yang melintasi sejumlah wilayah udara di kawasan Asia Selatan hingga Timur Tengah. Karena itu, dinamika konflik di kawasan tersebut dapat memengaruhi jalur penerbangan yang dinilai aman oleh otoritas penerbangan internasional.

Petugas melambaikan tangan ke arah pesawat yang membawa Calon Jamaah Haji Kloter 1 Jawa Timur yang akan menuju ke tanah suci di Terminal 2 Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (4/6/2022). Pemberangkatan kloter pertama ini menjadi kali pertama dilakukan setelah dua tahun ditiadakan akibat pandemi Covid-19. Sebanyak 449 jamaah kloter 1 berasal dari Tuban dan Bojonegoro. Embarkasi Surabaya akan berangkatkan lebih dari 17 ribu Calon Jamaah Haji. KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA (BAH) 04-06-2022

Dalam kondisi normal, penerbangan langsung dari Indonesia menuju Arab Saudi memerlukan waktu 9-11 jam, tergantung titik keberangkatan. Namun, apabila sebagian wilayah udara dinilai tidak aman, maskapai dapat mengalihkan jalur penerbangan melalui rute yang lebih jauh.

Pengalihan rute tersebut dapat membuat waktu tempuh menjadi lebih panjang serta meningkatkan biaya operasional penerbangan. Meski demikian, pemerintah menegaskan, faktor keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan rute perjalanan.

Skenario penundaan

Selain perubahan rute, lanjut Dahnil, pemerintah juga menyiapkan skenario penundaan pemberangkatan apabila situasi konflik dinilai membahayakan keselamatan jemaah. Opsi tersebut disebut sebagai langkah mitigasi apabila kondisi keamanan tidak memungkinkan pelaksanaan perjalanan.

”Kalau kemudian membahayakan keselamatan, maka skenario untuk menunda bisa jadi muncul apabila keselamatan warga negara kita terancam,” tuturnya.

Para jemaah umrah asal Indonesia mengantre masuk ke pesawat untuk pulang ke Tanah Air di terminal Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi pada Minggu (1/3/2026).

Di sisi lain, lanjut Dahnil, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk sementara menunda keberangkatan umrah. Imbauan tersebut disampaikan setelah koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri yang memantau perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah.

Saat ini sekitar 43.000 anggota jemaah Indonesia tercatat sedang melaksanakan umrah di Arab Saudi. Sebagian jemaah sebelumnya mengalami kendala kepulangan karena penerbangan transit dan mahalnya harga tiket.

Ia menyebutkan, sekitar 2.000 anggota jemaah terdampar (stranded) karena kesulitan mendapatkan penerbangan lanjutan. Kondisi tersebut umumnya terjadi pada penerbangan dengan rute transit, sedangkan penerbangan langsung relatif tidak mengalami kendala.

Pemerintah juga mencatat adanya penurunan jumlah jemaah yang berangkat umrah dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan tersebut dipengaruhi pertimbangan keselamatan di tengah dinamika konflik di kawasan Timur Tengah.

Para Petugas Penyelanggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengikuti upacara penutupan pendidikan dan latihan (diklat) PPIH Arab Saudi di Lapangan Markas Komando Daerah Angkatan Udara (Makodau) I, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (30/1/2026).

Sebelumnya, anggota Komisi VIII DPR, Muhamad Abdul Azis Sefudin, meminta pemerintah menyiapkan langkah mitigasi komprehensif untuk mencegah dampak buruk ketegangan geopolitik terhadap penyelenggaraan ibadah haji 2026. Ia meminta agar keamanan dan kepastian perjalanan jemaah menjadi prioritas.

”Hari ini ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, harus segera dimitigasi. Yang paling utama adalah keamanan dan kepastian jemaah kita saat berangkat dan pulang dari Tanah Suci,” katanya.

Legislator dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu juga menyinggung pengalaman penyelenggaraan haji tahun sebelumnya yang terdampak situasi geopolitik di kawasan Teluk. Ia mengatakan, pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran agar mitigasi dilakukan lebih dini.

”Kita sudah punya pengalaman tahun lalu ketika ada ketegangan di Qatar yang berdampak pada keterlambatan kepulangan jemaah. Hal-hal seperti ini tidak boleh terulang dan harus dimitigasi sejak awal,” ujarnya.

Ia mengingatkan, eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk Iran, harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam menyusun perencanaan penyelenggaraan haji. Oleh karena itu, mitigasi risiko geopolitik menjadi bagian penting dalam perencanaan haji tahun ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iqbal Basyari
 | 

Editor:

Anita Yossihara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti