Ekonomi boleh lesu, tetapi urusan mobil premium tak pernah sepi peminat. Bagi sebagian pengunjung, harga mobil premium tak jadi soal.
03 Agt 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Di tengah riuh promo, potongan harga, dan peluncuran model mobil baru di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, sudut mobil premium tampak tak kalah ramai. Dengan harga sampai miliaran rupiah, keputusan membeli mobil premium lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan gaya hidup dan prestise.
Deretan lampu sorot menyapu bodi mobil-mobil premium yang berjajar rapi di lapak-lapak jenama di pameran GIIAS 2026, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, Minggu (2/8/2026).
Di pameran otomotif terbesar Indonesia itu, hampir semua jenis kendaraan tersedia. Mobil listrik, hibrida, sport utility vehicle (SUV), hingga multi-purpose vehicle (MPV) premium berlomba menarik perhatian.
Di sudut mobil premium itu, persaingan tidak semata-mata berlangsung lewat perang harga, tetapi juga melalui teknologi, kenyamanan kabin, fitur keselamatan, hingga pengalaman berkendara.
Harga mobil yang berjajar di situ memang berkisar dari Rp 500 juta hingga mendekati Rp 10 miliar. Namun, bagi sebagian pengunjung, harga bukan masalah. Yang dicari adalah simbol kenyamanan, prestise, sekaligus rasa pencapaian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/02/b1494fa74cf4cfc80c5a03574fcdde4b-IMG_20260802_185103.jpg.jpeg)
Mobil-mobil premium itu tidak hanya menjadi pajangan yang dikagumi. Dengan serius, pengunjung membuka setiap pintu, mengamati detail interior, menguji kenyamanan kursi, hingga berdiskusi panjang dengan tenaga penjual.
Pemandangan itu salah satunya terlihat di booth Toyota. Di antara lalu lalang pengunjung, A Baladitya (35) bersama pasangannya menghabiskan waktu yang cukup lama melihat-lihat Toyota Alphard.
Tangan Baladitya atau biasa disapa Adit itu beberapa kali mengusap bodi kendaraan itu sebelum masuk ke kabin, mencoba duduk di kursi depan, kemudian berpindah ke kursi baris kedua. Sesekali, ia keluar untuk memperhatikan bagian belakang ketika pintu geser elektrik terbuka.
”Alphard sudah jadi incaran saya dua tahun terakhir. Ini masih menimbang. Pilihan lainnya masih Toyota juga,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/02/07293e4199cc1ef9b5c5085550ba1e50-IMG_20260802_184854.jpg)
Pilihan lain yang dimaksud adalah Toyota Land Cruiser 300 HEV dan Toyota Land Cruiser 300 GR-S HEV yang turut diperkenalkan pada GIIAS tahun ini.
Saat ditanya mengenai rencana pembayaran, apakah secara tunai atau melalui fasilitas pembiayaan, Adit hanya membalas dengan senyum. Kendaraan yang sedang dipertimbangkannya itu berada pada kisaran harga Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar.
Di booth lain, Willy (54) juga tampak serius memilih mobil premium. Setelah mengunjungi pameran pada hari pertama pembukaan, Kamis (30/7/2026), ia kembali lagi pada Minggu.
Kunjungan kedua itu dimanfaatkannya untuk memantapkan pilihan. Daftar incarannya cukup beragam, mulai dari Lexus LM 350h 7-Seater, Toyota Land Cruiser 300 GR-S HEV, Mazda 6e Fastback, hingga BMW iX3.
”Saya lebih suka model sedan, tapi sepertinya saya harus mengalah untuk keluarga. Saya cari mobil besar dengan kursi lebih banyak,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/02/67105c67aed31a8fc2af63305d1c357a-IMG_20260802_185239.jpg)
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Di garasi rumahnya telah terparkir sebuah sedan. Kini kebutuhan keluarga menjadi pertimbangan utama. Kapasitas kabin, jumlah kursi, serta kenyamanan perjalanan bersama anak-anak dan satu cucu menjadi faktor yang menggeser preferensinya.
Apakah pilihannya akan jatuh pada Lexus LM 350h 7-Seater yang dibanderol sekitar Rp 2 miliar atau Land Cruiser terbaru, Willy belum dapat memastikan. ”Belum tahu, saya lihat yang lainnya dulu. Tapi, yang pasti bukan sedan lagi. Takut dimarahi anak,” katanya sambil tertawa.
Setiap lini mobil premium menawarkan nilai-nilai kenyamanan dan kemewahan yang menggiurkan bagi sebagian orang. Toyota, misalnya, menghadirkan Land Cruiser 300 HEV dengan varian VX.R dan GR-S, serta first preview All-New Land Cruiser FJ, sebagai SUV premium yang memadukan quality, durability, dan reliability (QDR) dengan kapabilitas off-road, kenyamanan, serta kemewahan yang menjadi ciri khasnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/02/590ac0c27c8c762061d509e530be899c-IMG_20260802_185418.jpg)
Land Cruiser 300 VX.R HEV, misalnya, dirancang bagi pelanggan yang mengutamakan kenyamanan dan kemewahan khas Land Cruiser. Sementara Land Cruiser 300 GR-S HEV menghadirkan tampilan yang lebih sporty serta karakter petualangan yang kuat, tanpa menghilangkan kesan mewahnya.
”Bagi kami, menghadirkan kendaraan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan mobilitas, melainkan juga rasa bahagia di balik setiap perjalanan,” ujar Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), Hiroyuki Oide.
Begitu pula dengan BMW Group Indonesia yang memperkenalkan model terbarunya untuk mempertegas segmen otomotif premiumnya di Indonesia. President Director BMW Group Indonesia Peter Medalla menuturkan, di saat merayakan 25 tahun perjalanan di Indonesia, BMW memperkenalkan New BMW iX3 yang menandai menandai dimulainya era baru bagi BMW.
New BMW iX3 bukan hanya kendaraan listrik terbaru, melainkan representasi dari generasi baru BMW yang menghadirkan desain progresif, inovasi digital, dinamika berkendara, serta teknologi elektrifikasi terbaru, tanpa mengorbankan sheer driving pleasure (kenikmatan dalam berkendara).
Pemerhati budaya pop dan otomotif Novaldy Prawhesmara menilai, daya tahan segmen premium tidak semata-mata ditopang kualitas produk, tetapi nilai simbolik yang melekat pada jenama tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/30/0d66123f4ac4b5b4537d10a2f7652bd6-20260730TOK12.jpg)
Fenomena ini dikenal sebagai veblen effect, yakni kondisi ketika permintaan terhadap suatu barang tetap tinggi, bahkan meningkat. Sebab, harganya mahal dan dianggap merepresentasikan status sosial.
”Kalau kita bicara segmen premium, konsumen tidak lagi membeli karena fungsi semata. Mereka membeli simbol, eksklusivitas, dan status yang melekat pada produk tersebut,” ujar Novaldy.
Fenomena itu terlihat pada berbagai produk otomotif premium. Harga yang tinggi justru memperkuat persepsi eksklusif. Kondisi itu membuat merek-merek premium seperti Mercedes-Benz, BMW, Lexus, dan Audi percaya diri menghadapi dinamika pasar.
Beberapa jenama itu memiliki basis pelanggan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun dan direferensikan melalui pengalaman penggunaan, rekomendasi keluarga, hingga jejaring bisnis dan profesional.
”CEO berbicara dengan CEO lain, pebisnis bertemu pebisnis lain. Referensi terbentuk dengan sendirinya. Mereka tidak terlalu bergantung pada iklan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/30/ea74e466dbcd7a619b262a4179a1a5e5-20260730TOK9.jpg)
Terlebih, di Indonesia, mobil masih dipandang sebagai simbol pencapaian ekonomi. Banyak konsumen kelas menengah-atas yang mulai membeli mobil premium bekas sebagai bentuk penghargaan atas pencapaian karier sekaligus investasi jangka panjang. Tidak sedikit dealer resmi yang membuka divisi khusus penjualan mobil premium bekas untuk melayani pasar tersebut.
Permintaan terhadap kendaraan premium juga datang dari sektor jasa, seperti taksi premium, layanan antar-jemput bandara, hingga perusahaan penyewaan kendaraan.
Segmen itu melayani konsumen yang belum mampu memiliki mobil premium, tetapi ingin menikmati pengalaman berkendara dengan kendaraan kelas atas.
”Ada orang yang ingin merasakan naik Alphard atau Mercedes-Benz tanpa harus memilikinya. Ini pasar yang berbeda, yaitu experience market,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/30/87399ea673e8c80c17b752af23d243a1-20260730TOK6.jpg)
Fenomena itu terlihat pada penggunaan kendaraan premium untuk perjalanan bisnis ataupun wisata. Sebagian pelanggan bersedia membayar lebih mahal demi kenyamanan, citra profesional, atau sekadar memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah perjalanan panjang.
”Kalimat sederhana seperti ’saya ingin merasakan bagaimana rasanya naik mobil premium’ sebenarnya sudah menjelaskan mengapa pasar ini tetap hidup. Tidak semua orang harus memiliki produknya untuk menjadi bagian dari ekosistem premium,” ujar Novaldy.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto