Modifikasi cuaca di Jakarta berhasil mengurangi curah hujan sebesar 50-60 persen dari prediksi yang dirilis sebelum dilakukan penyemaian awan.
05 Feb 2025 12:37 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Operasi modifikasi cuaca yang digelar di Jakarta sejak 1 Februari 2025 diklaim berhasil mengurangi intensitas hujan tinggi dan potensi cuaca ekstrem. Pengurangan curah hujan mencapai 50-60 persen dari prediksi awal.
Ketua Sub-Kelompok Logistik dan Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta sekaligus juru bicara pelaksanaan kegiatan operasi modifikasi cuaca (OMC) tahun 2025, Michael Sitanggang, mengatakan, berdasarkan akumulasi curah hujan di wilayah Jabodetabek yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), OMC Jakarta berhasil mengurangi curah hujan 50-60 persen dari prediksi yang dirilis sebelum penyemaian awan.
Modifikasi cuaca akan terus dilakukan hingga 6 Februari 2025 sebagai respons prakiraan cuaca ekstrem. Operasi modifikasi cuaca berpusat di Bandara Halim Perdanakusuma menggunakan pesawat Cessna TNI Angkatan Udara.
Penerbangan setiap hari berbeda-beda, tergantung kondisi cuaca dan hasil pengamatan dan supervisi pihak BMKG. Adapun pada Selasa (4/2/2025), penerbangan dilaksanakan sebanyak dua sorti dengan menggunakan 1.600 kilogram bahan semai NaCl. Target sasarannya wilayah barat-barat daya dan barat daya-barat laut.
”Untuk kemarin, penyemaian pertama pada pukul 09.30-11.55 WIB dilakukan di wilayah barat-barat daya area Banten-perairan Selat Sunda. Sementara penyemaian kedua dilakukan pada pukul 14.05-16.10 WIB di wilayah barat daya hingga barat laut Jakarta,” kata Michael, Rabu (5/2/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/05/9ea8f6b6eff565032cef5e473122ff78-WhatsApp_Image_2025_02_02_at_20.11.49.jpeg)
Sementara itu, total bahan semai NaCl yang sudah terpakai hingga hari keempat mencapai 3.200 kg.
Ia memastikan pengelola bandara dan TNI AU telah menjamin kegiatan OMC ini tidak terkendala penerbangan komersial dan militer. Hal ini lantaran OMC telah diputuskan menjadi prioritas kegiatan penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma.
Selain bekerja dengan TNI TNI AU, pelaksanaan OMC kali ini juga bekerja sama dengan BMKG serta PT Rekayasa Atmosphere Indonesia.
Adapun Pemerintah Provinsi Jakarta sebelumnya mengalokasikan anggaran untuk program modifikasi cuaca dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2025. Namun, Penjabat Gubernur Jakarta Teguh Setyabudi belum memberikan keterangan terkait besaran anggaran tersebut.
Modifikasi cuaca akan terus dilakukan hingga 6 Februari 2025 sebagai respons prakiraan cuaca ekstrem. Operasi modifikasi cuaca berpusat di Bandara Halim Perdanakusuma menggunakan pesawat Cessna TNI Angkatan Udara.
Pelaksana Tugas Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan, berdasarkan analisis prakiraan cuaca, secara umum di wilayah Jawa bagian barat, khususnya Jabodetabek, pada siang hingga dini hari ini berpotensi terjadi hujan ringan-sedang.
”Potensi hujan dipengaruhi dari aktivitas MJO (Madden-Julian Oscillation) di kuadran lima yang membentuk pertumbuhan awan di wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek,” ucapnya.
Budi menambahkan, penentuan lokasi penyemaian hari ini dilihat dari prediksi angin di wilayah Jabodetabek. Hal ini juga melihat prediksi angin di wilayah Jabodetabek dari barat-barat laut, dengan kecepatan 5-48 knot.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/01/4cbad0b7f87cc7368f4a2f104265ec27-WhatsApp_Image_2025_02_01_at_05.50.02.jpeg)
”Sedangkan pada lapisan 925-500 hPa bertiup dari arah barat daya-barat laut, dengan kecepatan angin berkisar 5-48 knot dan kelembaban berkisar 40-100 persen, sehingga dapat dikatakan sasaran hari ini di wilayah barat, barat daya, dan barat laut,” ujarnya.
Kemudian, Budi juga menunjukkan peningkatan curah hujan signifikan di Jawa akibat kelembaban udara yang meningkat dan pengaruh fenomena La Nina.
”Fenomena La Nina yang berstatus lemah cenderung meningkatkan curah hujan. Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation yang aktif di barat Indonesia mendukung pembentukan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan lebat,” katanya.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Rini Kustiasih