Mohamed Salah Kritik UEFA soal Kematian Pesepak Bola Palestina

Israel telah membunuh 325 orang yang terkait sepak bola di Gaza. Eric Cantona dan Mohammed Salah mendesak UEFA dan dunia bersuara atas genosida Gaza.

10 Agt 2025 15:00 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

LIVERPOOL, MINGGU — Penyerang Liverpool yang juga andalan tim nasional Mesir, Mohamed Salah (33), mengkritik UEFA. Kritik dilancarkan setelah UEFA mengucapkan dukacita atas wafatnya Suleiman al-Obeid (41). Pesepak bola yang tinggal di Gaza itu dikenal juga sebagai ”Pele dari Palestina”.

Kritik dilontarkan Salah menjelang Sabtu (9/8/2025) tengah malam melalui media sosial. ”Bisakah Anda menyampaikan kepada kami bagaimana dia tewas, di mana, dan mengapa?” cuitnya.

Ia mengunggah ulang unggahan UEFA. Dalam unggahan pada Sabtu tersebut, UEFA yang merupakan asosiasi sepak bola Eropa mengucapkan dukacita atas wafatnya Obeid. UEFA menyebut Obeid membawa harapan pada saat-saat gelap.

Ini bukan suara pertama Salah atas dampak serbuan Israel ke Gaza. Beberapa waktu lalu, ia bersuara atas serangan dan blokade total Israel terhadap Gaza. Ia mengimbau pemimpin dunia bersatu mencegah pembantaian jiwa-jiwa tak bersalah.

Salah juga bukan bintang sepak bola pertama yang bersuara atas kematian Obeid. Mantan megabintang Manchester United, Eric Cantona, segera bersuara selepas kabar kematian Obeid tersiar.

”Israel baru saja membunuh bintang tim nasional Palestina, Suleiman al-Obeid yang sedang menanti bantuan di Rafah. Dia dikenal sebagai ’Pele dari Palestina’. Berapa lama lagi kita akan membiarkan mereka melakukan genosida ini? Bebaskan Palestina,” tulis Cantona di media sosial.

Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengabarkan, Obeid tewas pada 6 Agustus 2025 di Rafah, Gaza. Ia tewas ditembak kala sedang menanti pembagian bantuan.

Palestinian player Suleiman al-Obeid (L) during a West Asian Football Federation Championship (WAFF) match in the Jordanian capital, Amman, on June 20, 2007 [Khalil Mazraawi/AFP]

Banyak korban

Sejak Israel menyerbu Gaza pada Oktober 2023, 662 atlet Palestina dan keluarganya tewas. Korban termutakhir adalah Obeid, ayah dua putra dan tiga putri.

Klub Khadamat al-Shati di Gaza menjadi awal karier Obeid. Setelah itu, ia pindah ke Al-Amari di Tepi Barat. Ia tampil 24 kali bersama tim nasional Palestina. Sepanjang kariernya, ia membukukan 100 gol.

Sejak Israel menyerang Gaza, 325 orang yang menjadi bagian sepak bola Gaza tewas. Mereka termasuk pemain, pelatih, wasit, serta pengurus asosisasi dan tim sepak bola, menjadi bagian dari 321 korban tewas.

Timnas Palestina tergabung dalam kelompok Asia Barat. Sementara Israel, meski secara geografis berada di Timur Tengah, malah bernaung di bawah UEFA sejak 1994. Timnas dan klub sepak bola Israel rutin bertanding di kompetisi dan turnamen yang dinaungi UEFA.

Berbeda dari Rusia, Israel tetap bisa ikut beragam kompetisi dan turnamen yang dinaungi UEFA. Padahal, sejak Israel menyerbu Gaza pada 2023, telah banyak desakan agar Israel dikeluarkan atau setidaknya ditangguhkan dari UEFA. Hal itu merujuk pada nasib Rusia yang dilarang bertanding di bawah FIFA atau UEFA sejak menyerbu Ukraina.

Seperti Rusia di Ukraina, Israel masih terus menyerbu Palestina di Tepi Barat dan Gaza. Serangan Israel pada 9-10 Agustus 2025 menewaskan 35 warga Gaza yang sedang antre mendapat bantuan makanan. Serangan Israel juga melukai setidaknya 304 orang Gaza yang sedang mengantre bantuan makanan.

Pada Minggu (11/8/2025), serangan Israel menewaskan sejumlah orang yang mengantre pembagian bantuan di Koridor Netzarim. Koridor itu diciptakan Israel sejak menyerbu Gaza hampir dua tahun lalu. Koridor itu membagi Gaza menjadi sisi utara dan selatan.

Sementara di Khan Younis, serangan Israel menewaskan empat orang. Israel menggunakan pesawat nirawak dalam serangan di Khan Younis. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari