SUKSESI

Mojtaba Khamenei, Sosok Misterius Penerus Kepemimpinan Iran

Jauh dari sorotan publik, Mojtaba justru ditunjuk menggantikan ayahnya. Dalam kondisi genting Iran seperti sekarang, ia pilihan logis.

09 Mar 2026 11:00 WIB · Internasional

AFP PHOTO/HANDOUT/KHAMENEI.IR

Oleh Luki Aulia

Sebelum terpilih menjadi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, nama Mojtaba Khamenei (56) jarang terdengar. Putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei ini tak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau ikut pemilihan umum. Ia tak pernah memegang jabatan di pemerintahan dan jarang berbicara atau tampil di depan umum.

Mojtaba juga tak pernah memberikan kuliah umum atau khotbah Jumat. Sampai-sampai banyak warga Iran belum pernah mendengar suaranya. Dalam dua tahun terakhir, Mojtaba bahkan seakan menghilang dari radar.

Namun, kini ia tampil bukan hanya sebagai otoritas puncak untuk keamanan dan politik Iran. Mojtaba juga menjabat panglima tertinggi angkatan bersenjata Iran.

Meski namanya jarang terdengar, dalam beberapa tahun terakhir mulai sering muncul desas-desus Mojtaba menjadi calon pengganti ayahnya. Ali Khamenei menjadi presiden Iran selama hampir delapan tahun, lalu memegang kekuasaan absolut sebagai pemimpin tertinggi selama 36 tahun.

Mojtaba tak pernah membahas masalah suksesi secara terbuka karena ini isu sensitif di Iran. Jika ia menjadi pemimpin tertinggi, banyak pihak menuding ia akan menghidupkan ”dinasti” di Iran. Padahal, sang ayah bersama pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini, berjuang menggulingkan dinasti Pahlavi melalui revolusi pada 1979.

Mohamed Reza Pahlavi dan istrinya, Permaisuri Farah Diba disambut oleh Presiden Prancis Charles de Gaulle dan istrinya Yvonne ke acara seremonial sebagai bagian dari kunjungan kenegaraan resmi, di Paris pada 12 Oktober 1961.

Mendiang Khamenei pun sudah mengindikasikan kepada para penasihat dekatnya bahwa dirinya tidak mau putranya menggantikannya. Sebab, ia tidak ingin peran sebagai pemimpin tertinggi menjadi turun-temurun. Ia mengingatkan, revolusi Iran tak menghendaki adanya dinasti, mengakhiri transfer kekuasaan secara turun-temurun, dan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat.

Prinsip ideologi Iran menyebutkan, pemimpin tertinggi harus dipilih berdasarkan kedudukan keagamaannya dan kepemimpinan yang sudah terbukti. Bukan melalui garis keturunan.

Namun, dipilihnya Mojtaba mengisyaratkan para ulama senior, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), dan politisi berpengaruh bersatu pada saat-saat kritis gara-gara perang.

Ini juga menandakan kubu garis keras Iran masih memegang kendali penuh. Seorang anggota Majelis Ahli, Mohsen Heidari Alekasir, mengatakan, Mojtaba dipilih berdasarkan arahan Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran harus ”orang yang dibenci musuh”.

Pilihan logis

Ahli Iran dan Islam di Syiah Universitas Johns Hopkins, Vali R Nasr, menduga, Mojtaba menjadi pilihan logis saat ini karena ia dianggap lebih siap ketimbang kandidat lain. Ia bisa cepat mengonsolidasikan kekuasaan dan menegaskan kendali atas sistem.

Ini karena Mojtaba selama bertahun-tahun telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam ayahnya. Ia juga membina hubungan dekat dengan IRGC. Ia dikenal punya pengaruh cukup besar di balik layar.

”Ia punya konstituen dan dukungan yang kuat di dalam IRGC, khususnya di kalangan generasi muda garis keras,” kata Kasra Aarabi, Kepala Penelitian IRGC di United Against Nuclear Iran, organisasi kebijakan di AS.

Meski Mojtaba jarang muncul dalam lingkungan diplomatik, para pengamat meyakini ia punya pengaruh strategis di balik layar dalam  mengoordinasikan kebijakan regional Iran di negara-negara seperti Suriah, Irak, Lebanon, dan Yaman. Pada 2010, namanya muncul dalam dokumen resmi pemerintah Barat yang menggambarkan ia tokoh berpengaruh dalam struktur pengambilan keputusan Iran.

Pada 2019, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepadanya sebagai bagian dari paket sanksi lebih luas yang menyasar Khamenei. AS pada waktu itu menyatakan Mojtaba berperan dalam meneruskan otoritas ayahnya dan memajukan kebijakannya melalui jaringan politik dan keamanan.

Bagi banyak pengamat, dimasukkannya nama Mojtaba dalam daftar sanksi menandakan pengakuan yang semakin meningkat di AS bahwa Mojtaba punya pengaruh signifikan di Iran.

Kebangkitan Mojtaba sebagai kandidat utama untuk suksesi didorong beberapa faktor strategis. Ia antara lain didukung ”jaringan kekuasaan tersembunyi”, dekat dengan IRGC, penyimpan rahasia negara, dan tidak ada pesaing kuat.

Foto yang dirilis oleh situs web resmi Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) Sepanews pada Senin (16/2/2026) menunjukkan anggota IRGC dan angkatan laut Iran mengambil bagian dalam latihan militer.

BBC News, Minggu (8/3/2026), menyebutkan, Mojtaba lahir pada 8 September 1969 di Kota Mashhad, pusat keagamaan penting di Iran.

Ia tumbuh selama periode perubahan politik besar di Iran. Pada waktu itu, ayahnya muncul sebagai ulama terkemuka yang menentang Shah Mohammed Reza Pahlavi. Mojtaba anak kedua dari enam bersaudara. Ia bersekolah di SMA Alavi di Teheran. Sekolah itu mendidik anak-anak para pejabat Iran.

Pada usia 17 tahun, Mojtaba bergabung dengan IRGC dalam Batalyon Habib sekitar tahun 1987 seusai SMA. Ia bertugas selama periode akhir perang Iran-Irak yang berlangsung pada 1980-1988. Hubungan dekat dengan IRGC masih terjalin sampai sekarang.

Pada 1999, Mojtaba belajar dengan ulama-ulama paling terhormat sekaligus konservatif di Qom. Mereka antara lain Ayatollah Mahmoud Hasehimi Shahroudi, Ayatollah Lotfollah Safi Golpaygani, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, seorang ideolog berpengaruh yang membimbing banyak tokoh politik konservatif di Iran.

Muslim Syiah meneriakkan slogan saat protes terhadap Amerika Serikat dan menunjukkan solidaritas dengan Iran di Lahore, Pakistan, Minggu (11/1/2026).

Qom adalah kota suci yang dianggap sebagai pusat penting teologi Syiah. Di sekolah itu, ia lantas mengajar kelas-kelas tingkat lanjut. Selama 15 tahun, ia mengajar dars-e kharej atau tingkat pengajaran sekolah tertinggi dalam yurisprudensi dan prinsip-prinsip Islam.

Pengajaran di tingkat ini secara tradisional berfungsi sebagai prasyarat untuk mencapai pangkat marja dan, secara tidak langsung, legitimasi keagamaan yang sering dikaitkan dengan Pemimpin Tertinggi Iran. Menurut laporan kantor berita di Qom, ia mencapai pangkat ulama Ayatollah pada 2022.

Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad Adel, putri dari politikus konservatif Iran, Gholam-Ali Haddad Adel. Pernikahan itu memperkuat hubungannya di dalam kalangan politik konservatif Iran.

Istri Mojtaba dan anaknya tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel bersama dengan mendiang Khamenei dan istrinya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh. Mojtaba selamat dari serangan itu, tetapi ia kehilangan ayah, ibu, saudara perempuan, saudara ipar, keponakan, istri, dan anaknya sekaligus. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji