Pergantian tahun menuju 2025 ditandai oleh momen bersejarah di Eropa. Setelah menanti 13 tahun, Romania dan Bulgaria resmi bergabung zona tanpa perbatasan atau Schengen.
01 Jan 2025 09:20 WIB · Internasional
BUDAPEST, RABU — Romania dan Bulgaria menjadi anggota penuh zona Schengen tepat pada malam pergantian Tahun Baru, Rabu (1/1/2025). Keanggotaan penuh ini diperoleh dua negara Eropa Timur itu setelah 13 tahun penantian.
Austria dan negara anggota Schengen lainnya akhirnya mencabut keberatan mereka terhadap bergabungnya dua negara bekas komunis dengan tingkat ekonomi paling lemah di wilayah Uni Eropa tersebut.
Keberatan Austria sebelumnya terkait masuknya arus migran ilegal. Austria mencabut keberatannya pada Desember 2024 setelah ketiga negara (Austria, Romania, dan Bulgaria) menyepakati perjanjian penjagaan perbatasan. Masuknya Romania dan Bulgaria memperluas zona tanpa batas Eropa, Schengen, menjadi 29 negara.
Romania dan Bulgaria bergabung secara resmi tepat pada Rabu (1/1/2025) tengah malam waktu setempat. Upacara dilangsungkan di berbagai pos perbatasan dua negara itu untuk merayakannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/01/17a68f3fcc83147d96c16e24e4b9e4f2-AFP_36RT84X.jpg)
Menteri dalam negeri Bulgaria dan Romania bertemu di perbatasan Ruse-Giurgiu di antara kedua negara untuk menandai pembukaan perbatasan.
Upacara singkat lainnya diadakan di perbatasan antara Hongaria dan Romania dengan pertemuan antara kepala polisi nasional Hongaria dan kepala inspektur polisi perbatasan Romania.
Baik Romania maupun Bulgaria merupakan anggota Uni Eropa sejak 2007. Sebagian perbatasan sudah masuk ke dalam zona Schengen pada Maret 2024. Sejak itu, pemeriksaan pelintas perbatasan di pelabuhan dan bandar udara telah dihilangkan di pos-pos yang sudah masuk Schengen itu.
Namun, atas keberatan Austria, zona bebas lintas batas darat di perbatasan dengan Austria baru berlaku pada 1 Januari 2025.
Sebelumnya, Austria mengancam akan memveto masuknya Romania dan Bulgaria. Pasalnya, Austria merasa terganggu dengan tingginya arus migrasi tanpa dokumen ke negaranya.
Vienna baru menarik ancaman vetonya pada Desember 2024 setelah ketiga negara itu mencapai kesepakatan tentang paket perlindungan perbatasan.
Perjanjian tersebut membuka jalan bagi Romania dan Bulgaria, dua negara termiskin di Uni Eropa itu, untuk akhirnya bergabung dengan Schengen.
Keluhan Austria telah disuarakan bertahun-tahun. Austria mengganggap hal ini sebagai dampak dari lemahnya kontrol di perbatasan Schengen dari luar Austria.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/01/bda8ea637cc8d5ac551a2ab7bcac02e9-AFP_36RV2NT.jpg)
Setelah Romania dan Bulgaria menandatangani perjanjian perlindungan perbatasan, barulah Austria mencabut keberatannya. Dengan posisi mereka sebagai ekonomi terlemah di Uni Eropa, banyak warga dua negara itu coba mencari pekerjaan di negara-negara tetangganya yang lebih makmur tanpa dokumen legal.
Kesepakatan perlindungan perbatasan tersebut mengatur penempatan bersama penjaga di perbatasan di Bulgaria-Turki dan kontrol sementara di tempat penyeberangan darat untuk periode awal enam bulan.
Bergabungnya Bulgaria dan Romania dalqm Schengen diperkirakan akan menggenjot produk domestik bruto (PDB) dua negara itu setidaknya 1 persen. Romania berpopulasi 19 juta jiwa, sedangkan Bulgaria berpopulasi 6,5 juta jiwa.
Peningkatan ini di antaranya berasal dari meningkatnya arus wisatawan serta perdagangan antarnegara yang lebih mudah dan murah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/01/fc28b21694e5dcf12c153ef58a15c45e-AFP_36RN6GL.jpg)
Presiden Romania Klaus Iohannis sebelumnya menyebut keanggotaan penuh Romania di wilayah Schengen sebagai langkah alami dan perlu.
Keanggotaan penuh itu nyaris meniadakan waktu tunggu di perbatasan. Hal ini akan menurunkan biaya logistik untuk bisnis dan menarik investor asing.
Para ahli ekonomi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Bulgaria memperkirakan, keanggotaan tersebut akan punya dampak finansial positif bagi Bulgaria, mencapai 800 juta euro (840 juta dollar AS) per tahunnya.
Perluasan keanggotaan Schengen tersebut dinilai sebagai momen bersejarah Uni Eropa. Warga Bulgaria dan Romania pun menyambut dengan gembira.
Dibentuk pada 1985, zona Schengen sekarang mencakup 25 dari 27 anggota Uni Eropa ditambah empat anggota dari luar Uni Eropa, yaitu Swiss, Norwegia, Eslandia, dan Liechtenstein. Dengan cakupan itu, total populasi Schengen lebih dari 400 juta orang.
Pakar hubungan internasional dari Romania, Valentin Naumescu, mengatakan, Romania dan Bulgaria sebenarnya telah memenuhi persyaratan teknis zona Schengen untuk keanggotaan sejak 2011.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/01/48b687dd7e4d995fc12202987be0f42b-AFP_36RU723.jpg)
Namun, beberapa negara anggota lainnya selalu menolak karena persoalan imigran ilegal. Hal ini membuat warga Romania dan Bulgaria merasa menjadi warga kelas dua Uni Eropa.
”Hal itu menjadi isu politik yang terus dieksploitasi oleh partai-partai anti-Uni Eropa yang menuduh Romania diperlakukan tidak adil,” kata Naumescu.
Isu tersebut memanas dalam pemilihan presiden Romania baru-baru ini. Dukungan kepada kandidat presiden dari sayap kanan Romania, Calin Georgescu, melonjak hingga meraih kemenangan di putaran pertama karena sikapnya yang anti-Uni Eropa.
Namun kemudian, pemilu putaran pertama Romania itu dibatalkan di tengah klaim adanya campur tangan Rusia dalam pemilu.
”Sekarang, dengan masuknya ke Schengen, perasaan menjadi warga negara kelas dua warga Romania seharusnya memudar,” kata Naumescu.
Salah satunya oleh komunitas pengemudi truk. Selama ini, para pengemudi truk terpaksa menunggu hingga 20 jam di tempat penyeberangan perbatasan.
”Waktu tunggu di perbatasan selama ini benar-benar membuang-buang waktu bagi pengemudi, yang bahkan tidak bisa berhenti untuk beristirahat karena mereka harus memindahkan kendaraan mereka setiap 10 menit,” kata Kepala Federasi Transportasi Romania Beniamin Lucescu.
Namun, masih buruknya infrastruktur jalan dan rel kereta api di Bulgaria tetap mengganggu transportasi logistik antarnegara itu.
Sekarang, dengan masuknya ke Schengen, perasaan menjadi warga negara kelas dua warga Romania seharusnya memudar. (Valentin Naumescu)
Sementara itu, sektor pariwisata negara-negara tersebut diharapkan akan semakin bergairah dengan lonjakan pengunjung, terutama dari kedua negara ke Yunani yang berdekatan.
”Ini berita yang sangat bagus,” kata manajer penjualan perusahaan pariwisata, Ivailo Kirkov (46), yang memiliki sebuah rumah di Yunani utara. ”Kami sudah menunggu dengan tidak sabar.”
Guru bahasa Yunani dan pemandu wisata, Gueorgui Grantcharov, memperkirakan akan adanya gelombang wisatawan Romania dan Bulgaria ke Yunani.
Hal ini karena lintasan wisatawan yang semakin mudah dan singkat. ”Tanpa adanya antrean di perbatasan, hanya butuh waktu sekitar empat jam dari Sofia ke Thessaloniki,” katanya.
Warga Hongaria juga menyambut gembira. Sekitar 1 juta warga etnis Hongaria tinggal di wilayah Transylvania di Romania, yang merupakan warisan pemisahan Hongaria setelah Perang Dunia.
Hubungan kedua negara secara historis tidak harmonis. Namun, pembukaan perbatasan akan memudahkan perjalanan dan memperkuat hubungan antarwilayah.
Wilayah Schengen merupakan salah satu pencapaian utama proyek Eropa. Awalnya diberlakukan sebagai proyek antarpemerintah antara lima negara Uni Eropa.
Kelimanya adalah Perancis, Jerman, Belgia, Belanda, dan Luksemburg. Secara bertahap, kawasan itu terus berkembang menjadi wilayah perjalanan bebas terbesar di dunia.
Namun, pada 2024, beberapa negara anggota Schengen memberlakukan kembali beberapa pemeriksaan perbatasan darat karena berbagai masalah, mulai dari migrasi hingga keamanan. Negara-negara itu di antaranya Belanda, Austria, dan Jerman.
Beberapa pejabat Uni Eropa memperingatkan bahwa pemeriksaan yang diberlakukan kembali dapat merusak tujuan awal dari skema tersebut. Bahkan, sebelum Bulgaria dan Romania diterima, lintasan Schengen sudah sangat sibuk. Sekitar 3,5 juta orang melintasi perbatasan Schengen setiap harinya. (AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan