Naomi Osaka lolos ke perempat final Amerika Serikat Terbuka setelah mengalahkan Cori Gauff. Momen serupa kedua petenis terjadi di ajang yang sama enam tahun lalu.
02 Sep 2025 10:31 WIB · Olahraga
Kursi di Stadion Arthur Ashe di New York, Amerika Serikat, stadion tenis terbesar di dunia yang berkapasitas 24.000 orang, penuh saat berlangsung pertandingan kedua pada Senin (1/9/2025) siang. Mereka datang untuk menonton big match babak keempat Grand Slam Amerika Serikat Terbuka antara Cori ”Coco” Gauff dan Naomi Osaka di tunggal putri.
Coco adalah bintang tenis berusia 21 tahun yang merupakan andalan tuan rumah. Osaka, petenis Jepang yang tinggal di AS sejak kecil, adalah sweetheart, petenis yang selalu bersikap manis hingga disukai banyak orang di mana pun dia bertanding.
Sadar bahwa Coco adalah petenis pujaan penonton di New York, Osaka meminta ada sedikit penonton yang akan mendukungnya. Permintaan itu dia ucapkan setelah memenangi babak ketiga, akhir pekan lalu.
Penonton yang mendukung Coco saat pertandingan memang lebih banyak. Atmosfer stadion sepi setiap kali Coco gagal mendapat poin. Namun, fans Osaka tetap ada, di antaranya warga Jepang yang tinggal di AS. Mereka tersenyum, bertepuk tangan, sambil mengibaskan bendera Jepang ketika Osaka menang dengan skor 6-3, 6-2.
Coco sebenarnya berharap hasil pertandingan siang itu berkebalikan dengan enam tahun lalu. Laga Coco melawan Osaka ini menjadi ulangan pertemuan mereka di tempat yang sama, 31 Agustus 2019 malam, pada babak ketiga. Hasilnya, Coco kalah 3-6, 0-6.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/458a37c2-fcae-4d29-a39e-000729bfe073_jpg.jpg)
Coco, yang saat itu berusia 15 tahun, baru punya pengalaman satu kali bermain di panggung Grand Slam, yaitu di Wimbledon, sebulan sebelumnya. Babak keempat Wimbledon yang dicapainya dan kemenangan atas Venus Williams pada babak pertama membuat Coco menjadi bintang baru. Maka, ketika tiba saatnya tampil di hadapan publik sendiri, dia begitu antusias.
Ekspektasinya tinggi saat bertemu Osaka yang berstatus tunggal putri nomor satu dunia sekaligus juara bertahan. Namun, tekanan besar dari diri sendiri menjadi bumerang sehingga ia kesulitan fokus pada permainan.
Coco menangis di kursinya setelah pertandingan. Saat itu juga, Osaka menghampiri untuk menenangkan. Alih-alih hasil pertandingan, momen ini justu menjadi yang paling diingat penggemar tenis. Momen sportivitas yang mengalahkan persaingan untuk menang.
Saat Coco membereskan raket dan perlengkapan lain untuk meninggalkan lapangan, Osaka menghampiri untuk mengajaknya diwawancarai bersama. Padahal, wawancara di lapangan seusai pertandingan biasanya hanya dilakukan pada sang pemenang.
”Apakah kamu mau diwawancara bersama saya? Orang-orang ini ada di sini karenamu,” ajak Osaka.
”Apakah kamu yakin? Saya akan menangis,” jawab Coco yang terus mengulang bahwa dia akan menangis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/dee2e10d-3ae5-4bdf-8667-483c27046b0e_jpg.jpg)
”Tidak, kamu bermain sangat bagus. Percayalah. Saya pikir, ini akan lebih baik daripada kamu pergi ke kamar mandi dan menangis di sana. Kamu harus memberi kesempatan pada penonton untuk tahu bagaimana perasaanmu,” ujar Osaka kembali meyakinkan Coco.
Pada mantan petenis AS, Mary Joe Fernandez, yang mewawancarainya, Coco bercerita bahwa Osaka meyakinkannya untuk menyampaikan perasaannya kepada penonton,meski dia sempat menolak karena tak ingin menangis di hadapan orang lain. ”Naomi sangat baik kepada saya,” ujar Coco sambil terisak.
Osaka juga menangis saat memuji orangtua dan tim pelatih Coco. Dia semakin emosional ketika melihat Coco memeluk ayahnya.
Osaka dan Coco memiliki persamaan latar belakang, yaitu merupakan keturunan warga kulit hitam yang akhirnya menekuni tenis. Padahal, tenis jarang menjadi pilihan orang kulit hitam karena merupakan olahraga mahal.
Saya tidak ingin menangis, tetapi tempat dan turnamen ini sangat berarti bagi saya.
Mereka berlatih di tempat yang sama di Akademi Tenis Polo, Florida, walaupun tak berlatih dalam waktu yang sama. Meski lahir di Jepang, dengan ibu yang berasal dari Jepang dan ayah orang Haiti, Osaka dan keluarganya pindah ke AS ketika Osaka berusia empat tahun.
Ayah Osaka, Leonard Francois, dan ayah Coco, Corey Gauff, sama-sama terinspirasi oleh Richard Williams, ayah dari Venus dan Serena Williams. Richard memperkenalkan tenis dan mendampingi putrinya menjadi petenis profesional. Meskipun jarang bertemu saat putri mereka latihan, Francois dan Corey berteman baik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/04d73411-642c-4781-a946-9b3fb51b5ac4_jpg.jpg)
Faktor lain yang mempersamakan mereka adalah kepedulian pada masalah sosial. Osaka dan Coco aktif dan berani bersuara lantang untuk membela persamaan hak setiap orang, terutama warga kulit hitam.
Saat terjadi penembakan warga kulit hitam di AS pada 2020, Coco ikut turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Osaka memperlihatkan kepedulian dalam bentuk lain, salah satunya mengenakan masker bertuliskan nama setiap korban penembakan saat memasuki lapangan di AS Terbuka.
Saat itu, AS Terbuka diselenggarakan pada masa pandemi Covid-19 sehingga atlet harus mengenakan masker, kecuali saat bertanding. Osaka menjadi juara AS Terbuka untuk keduanya kalinya dan mempersembahkan kemenangan itu untuk kemanusiaan.
Enam tahun berlalu sejak pertemuan di Arthur Ashe 2019, Osaka dan Coco telah melalui perjalanan berbeda. Setelah AS Terbuka 2019, Osaka menjuarai AS Terbuka 2020 dan Australia Terbuka 2021 hingga gelar Grand Slamnya bertambah menjadi empat.
Namun, tak hanya cerita baik yang dilalui petenis berusia 27 tahun itu. Osaka mengalami fase gelap setelah menjuarai Australia Terbuka 2021. Akibat kesulitan menghadapi sorotan besar media dan publik, dia mengalami gangguan kesehatan mental.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/11bfc920-0d13-45fd-9214-6eaa42450106_jpg.jpg)
Setelah mengundurkan diri sebelum menjalani babak kedua Perancis Terbuka, Osaka tak tampil di Wimbledon. Dia pun tak bisa tampil maksimal di negaranya sendiri sehingga tersingkir pada babak ketiga Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar pada 2021 karena pandemi Covid-19.
Sejak Oktober 2022 hingga akhir 2023, Osaka menepi dari WTA Tour karena hamil dan melahirkan anak pertama. Perjalanan tersebut membuat Osaka, yang berposisi di puncak peringkat dunia saat melawan Coco di AS Terbuka 2019, menjadi tak punya peringkat dunia saat kembali ke kompetisi pada 2024.
Sementara Coco terus mendaki meskipun dengan langkah perlahan. Dia mencapai final pertama Grand Slam di Perancis Terbuka 2022, tetapi kalah dari Iga Swiatek. Gelar pertama dari arena Grand Slam akhirnya didapatnya di hadapan pendukungnya sendiri di AS Terbuka 2023.
Ketika Coco juara, Osaka melihatnya dari tribune stadion, hanya dua bulan setelah melahirkan putrinya, Shai. ”Saat itu, saya benar-benar berharap bisa mendapat kesempatan untuk bermain lagi di sini,” kata Osaka.
Pada 2025, Coco menambah trofi juara Grand Slam dari Perancis Terbuka. Capaian ini menjadi bukti bahwa dia memiliki kemampuan setara di lapangan keras dan tanah liat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/11/22028bc8-2929-4dbd-89c1-86ec950739a4_jpg.jpg)
Meskipun demikian, Coco belum bisa menaklukkan lapangan rumput Wimbledon hingga belum pernah melewati babak keempat. Padahal, Wimbledon menjadi Grand Slam pertama yang mengangkat namanya ketika mencapai babak keempat 2019. Dia mengalahkan Venus Williams pada babak pertama.
Di antara AS Terbuka 2019 dan 2025, Coco menempati peringkat kedua dunia pada 10 Juni 2024 hingga 18 Agustus 2025. Peringkat itu menjadi posisi tertinggi yang pernah ditempatinya.
Namun, perjalanan berbeda kedua petenis itu dalam enam tahun terakhir melahirkan hasil yang sama saat bertemu lagi di Flushing Meadows. Osaka lebih tangguh dari Coco melalui permainan solid dari baseline.
Dia unggul dalam semua indikator permainan, baik dalam posisi servis maupun menerima servis. Osaka berhasil memanfaatkan empat break point, sedangkan Coco tak sekali pun mendapat kesempatan mencuri servis lawannya.
Coco bahkan kembali memperlihatkan kelemahannya saat servis. Dia membuat lima double fault, dua di antaranya, saat tertinggal 3-5 pada set pertama. Kesalahan ganda saat servis itu menjadi bagian dari 33 unforced error yang dibuat dalam pertandingan yang berlangsung cukup singkat, 1 jam 4 menit tersebut.
”Saya membuat banyak kesalahan, terlalu banyak. Nmaun, ini tidak akan membuat saya terpuruk,” ujar Coco.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/4f23dc39-2a18-404a-8467-2694598ef1c6_jpg.jpg)
Osaka akan melanjutkan perjalanan dengan melawan Karolina Muchova di perempat final. Perempat final pada paruh bawah undian akan berlangsung antara Swiatek dan Amanda Anisimova.
Laga ini menjadi perempat final pertama Osaka di ajang Grand Slam setelah menjadi juara Australia Terbuka 2021. Sebelum AS Terbuka 2025, hasil terbaiknya adalah empat kali babak ketiga dalam 12 turnamen.
Kepercayaan diri Osaka muncul kembali sejak dia didampingi Tomasz Wiktorowski, pelatih yang terkenal sebagai ahli taktik. Wiktorowski mengantarkan Swiatek menjadi petenis nomor satu dunia dengan empat, dari total enam, gelar juara Grand Slam pada rentang 2022-2024. Dengan kemampuannya itu, sosok yang menjadi kapten tim Piala Fed Polandia pada 2015 itu mendapat penghargaan sebagai pelatih terbaik 2023 dari WTA.
Sepanjang pertandingan, Osaka pun bermain dengan efektif dan nyaman untuk mendapat poin. Setelah melakukan unforced error, dia tersenyum, menyesali kesalahannya, lalu kembali bermain solid.
Intensitas tinggi permainannya tak turun sejak awal—Osaka langsung mematahkan servis Coco pada gim pertama—hingga gim terakhir. Kepercayaan diri juga terlihat dari sikapnya, berbeda dengan Coco yang memperlihatkan raut wajah dan bahasa tubuh pasrah.
Saat diwawancara Mary Joe Fernandez di lapangan, Osaka kembali menjadi sosok yang lemah lembut dalam bertutur. ”Saya adalah orang yang sensitif. Saya tidak ingin menangis, tetapi tempat dan turnamen ini sangat berarti bagi saya. Saya menikmati setiap momen ketika bisa bertanding kembali melawan petenis-petenis terbaik dunia,” katanya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan