Momen Positif Gregoria Menjelang Akhir Tahun

Gregoria kalah pada final turnamen Kumamoto Masters. Namun, itu tetap menjadi momen positif dalam penampilannya menjelang akhir 2025.

16 Nov 2025 18:07 WIB · Olahraga

Humas PP PBSI

Oleh Yulia Sapthiani

KUMAMOTO, MINGGU — Gregoria Mariska Tunjung kalah dalam final tunggal putri turnamen bulu tangkis Kumamoto Masters. Hasil itu tak sesuai harapan tetapi menjadi hal positif, setidaknya, untuk menjalani turnamen terakhir pada 2025.

Lolos ke final Kumamoto Masters yang berlevel BWF World Tour Super 500 membuka harapan Gregoria untuk meraih gelar pertama pada tahun ini. Rasa percaya dirinya naik karena itu menjadi final pertama dalam setahun terakhir setelah mencapai tahap yang sama, juga di Kumamoto Masters. Gregoria bahkan tampil di final Kumamoto Masters untuk tiga kali beruntun sejak turnamen tersebut diselenggarakan pertama kali pada 2023.

Namun, usahanya tak membuahkan gelar juara setelah kalah dari pemain Thailand, Ratcanok Intanon, di Kumamoto Prefectural Gymnasium, Jepang, Minggu (16/11/2025). Gregoria kalah dengan skor 16-21, 20-22. Hasil ini serupa dengan final 2024 saat kalah dari Akane Yamaguchi.

Setelah tertinggal pada awal pertandingan, Gregoria berbalik unggul saat interval gim pertama, tetapi, gagal mempertahankannya hingga kehilangan gim tersebut. Upaya menyalip, dari tertinggal 16-20 menjadi 20-20 pada gim kedua juga gagal dilakukan Gregoria ketika Intanon bermain lebih baik pada momen kritis. Juara dunia 2013 ini memenangi final setelah Gregoria gagal menyeberangkan kok melalui drive, pukulan mendatar melalui dorongan raket pada kok.

Gregoria Mariska Tunjung kalah dari Ratchanok Intanon pada final turnamen Kumamoto Masters. Dalam pertandingan di Kumamoto Prefectural, Jepang, Minggu (16/11/2025), Gregoria kalah dengan skor 16-21, 20-22.

Saat memastikan diri lolos ke final, harapan meraih gelar ada dalam hati Gregoria, tetapi, dia mengontrol keinginan tersebut untuk fokus pada permainan. Peraih perunggu Olimpiade Paris 2024 ini pun bersyukur dengan penampilan yang bisa mengantarkannya ke final, meski tak bisa juara.

“Banyak hal positif yang bisa diambil dari Kumamoto Masters tahun ini dan saya juga cukup senang dengan performa tadi,” kata Gregoria yang mendapat acungan jempol dari Intanon saat mereka bersalaman, seusai pertandingan.

Rasa syukur itu dirasakan tak lain karena Gregoria melalui masa sulit ketika berulang kali terkena vertigo yang menghambat performanya. Dia absen sejak pertengahan April hingga Juli, salah satunya dalam kejuaraan beregu Piala Sudirman, Mei. Pada September, Gregoria juga batal bermain di China Masters dan Korea Terbuka, September, meski telah tiba di Shenzhen, China, dua hari sebelum turnamen.

Setelah tersingkir pada babak pertama dalam kejuaraan Denmark dan Perancis Terbuka, pada dua pekan terakhir Oktober, Gregoria bisa kembali menembus final dalam turnamen di Kumamoto. Turnamen ini menjadi salah satu dari dua turnamen terakhirnya pada 2025 selain dari Australia Terbuka Super 500, 18-23 November.

Gregoria akan bergabung bersama Putri Kusuma Wardani yang berangkat dari Jakarta. Undian mempertemukan Gregoria dengan Asuka Takahashi (Jepang) dan Putri dengan Sung Shuo Yun (Taiwan) pada babak pertama, lalu, kedua tunggal putri Indonesia itu berpeluang berjumpa di perempat final.

Gregoria Mariska Tunjung dengan medali peringkat kedua tunggal putri turnamen Kumamoto Masters. Dalam final yang berlangsung Minggu (16/11/2025), Gregoria kalah dari Ratchanok Intanon.

Atlet Indonesia lainnya yang berangkat dari Jakarta, pada Minggu, diantaranya Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Lanny Tria Mayasari/Amalia Cahaya Pratiwi, dan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Fajar/Fikri dan Jafar/Felisha berada dalam misi untuk menambah poin ranking agar lolos ke turnamen Final BWF di Hangzhou, China, 17-21 Desember. Turnamen ini diikuti delapan pemain ranking teratas berdasarkan performa pada turnamen BWF World Tour sepanjang tahun.

Sementara, selain dari Intanon, Thailand mendapat gelar juara dari ganda campuran, Dechapol Puavaranukroh/Supissawa Paewsampran. Mereka mempertahankan gelar juara setelah mengalahkan Thom Gicquel/Delphine Delrue 21-18, 14-21, 21-18.

Tuan rumah hanya mendapat satu gelar melalui final sesama pemain Jepang di tunggal putra, yaitu saat Kodai Naraoka menang atas Kenta Nishimoto 21-11, 10-21, 21-15. Dua wakil Jepang lainnya kalah di final, salah satunya ganda putra, Hidori Midorikawa/Kyohei Yamashita, yang kalah dari Seo Seung-jae/Kim Won-ho (Korea Selatan) 20-22, 21-11, 21-16. Ini menjadi gelar kesepuluh Seo/Kim pada 2025, termasuk gelar tiga gelar level Super 1000 dan Kejuaraan Dunia.

Empat gelar untuk Indonesia

Pada turnamen Indonesia International Challenge yang diselenggarakan di Yogyakarta, 9-16 November, atlet-atlet tuan rumah mendapat empat gelar juara, tiga diantaranya dari final sesama pemain Indonesia. Empat gelar itu didapat dari nomor ganda campuran, ganda putra, tunggal putra, dan tunggal putri.

Thalita Ramadhani Wiryawan menjuarai tunggal putri Indonesia International Challenge. Dalam final di Yogyakarta, Minggu (16/11/2025), Thalita menang atas Mutiara Ayu Puspitasari 17-21, 21-14, 21-13.

Pada salah satu final sesama Indonesia, Thalita, menang atas seniornya, Mutiara Ayu Puspitasari, 17-21, 21-14, 21-13. Thalita mendapat gelar ketiga pada tahun ini dari turnamen international challenge/series.

“Alhamdulillah bisa mendapat hasil yang maksimal. Saya tidak menyangka bisa juara di sini. Saya mendapat dukungan penuh dari orang tua yang hadir dan juga pelatih, jadi itu menambah motivasi untuk menampilkan yang terbaik,” kata Thalita.

Atlet berusia 18 tahun itu mengatakan, kunci untuk menjadi juara di Indonesia International Challenge adalah bisa menjaga fokus pada setiap babak dengan baik. Dia akan berusaha mempertahankan performa tersebut pada turnamen berikutnya, yang juga berlevel international challenge, di Skotlandia, 20-23 November.

Prahdiska Bagas Shujiwo mengalahkan sesama pemain Indonesia, Bismo Raya Oktora, dalam final tunggal putra Indonesia International Challenge di Yogyakarta, Minggu (16/11/2025).

Gelar lain dari “all Indonesian final” didapat Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti yang menang atas Renaldi Samosir/Masita Mahmudin 17-21, 21-11, 21-16 pada nomor ganda campuran. Di tunggal putra, Prahdiska Bagas Shujiwo mengalahkan rekannya, Bismo Raya Oktora, 21-17, 21-17.

Gelar juara dalam final melawan pemain negara lain didapat ganda putra, Muhammad Putra Erwiansyah/Daniel Edgar Marvino, yang berhadapan dengan Song Hyun-cho/Sung Ik-jin (Korea Selatan). Setelah bermain ketat pada dua gim awal, dengan skor 20-22, 21-19, Song/Sung mengundurkan diri karena cedera.

Adapun pada ganda putri, Selsi Josika/Yasintha Ristyna Putri kalah dari pasangan Taiwan unggulan teratas, Lin Chih Chun/Lin Wan Ching, 14-21, 12-21.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase