Momen Sepersekian Detik di 2025

Dalam sepersekian detik, mata, pikiran, dan hati menggerakkan jari telunjuk kanan agar menekan tombol rana. Di sinilah, seorang fotografer memberi makna.

28 Des 2025 07:07 WIB · Klinik Foto

Kompas/Adryan yoga Paramadwya

Oleh Yuniadhi Agung

Dalam fotografi, tidak selalu tersedia kondisi ideal untuk dapat merekam momen. Terkadang, obyek foto sangat gampang untuk dikreasi. Sang fotografer bisa menunggu momen puncak dari obyek yang akan dipotret. Di sisi yang lain, terkadang momen hadir begitu cepat dan memerlukan kesiapan serta kemampuan seorang untuk mengabadikan momen sepersekian detik itu.

Meski sejatinya momen-momen tersebut tidak secepat itu menghilang, kondisi tersebut menggambarkan bahwa ada banyak momen yang akan hilang jika seorang fotografer tidak dengan sigap mengambil keputusan untuk memotretnya. Sebuah visual yang tersaji di depan mata adalah sebuah pilihan. Kita, sebagai fotografer, adalah penentu keputusan apakah akan memotretnya atau hanya merekam dalam ingatan dan membiarkan berlalu tanpa rekaman visual. Tampaknya, adegan dalam film The Secret Life of Walter Mitty saat Sean O’ Connell yang diperankan oleh Sean Penn, seorang fotografer alam liar dari majalah Life, yang memutuskan tidak mengambil foto langka seekor macan tutul salju di pegunungan Afghanistan meski sudah dalam posisi siap memotret adalah hal yang bisa diperdebatkan. Sebuah momen yang sudah tersedia bagi fotografer seharusnya berakhir dalam rekaman di kamera. Masalah apakah foto tersebut disiarkan atau tidak disiarkan adalah pembahasan selanjutnya.

Indonesia Open 2025
Tom Lembong Divonis 4,5 Tahun

Menangkap momen yang muncul tiba-tiba dalam waktu yang sesaat saja adalah latihan paling bagus bagi fotografer untuk merespons obyek dan mengambil keputusan dalam memotret. Dalam kondisi ini, foto tersebut tidak perlu mempunyai nilai berita yang kuat atau sempurna secara teknis fotografi. Dalam dunia fotografi saat ini yang serba instan dan penuh drama, maka kualitas fotografer antara lain mendapatkan kredit tambahan saat mampu menyajikan karya-karya peristiwa spontan tersebut. Di sini, tidak ada kursus fotografi atau diskusi-diskusi fotografi yang berbusa-busa yang bisa membuat seorang fotografer mampu menguasainya. Yang diperlukan adalah momen yang tidak setiap saat datang dan mempunyai karakter yang kuat untuk diabadikan.

Dalam sepersekian detik tersebut, mata, pikiran, dan hati berperan untuk menggerakkan jari telunjuk kanan agar menekan tombol rana. Di sinilah, seorang fotografer memberi makna.

Taman di Jakarta Buka 24 Jam Mulai Juni


Kerabat Kerja

Penulis:

Yuniadhi Agung
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto