Tim nasional akan memasuki era baru di tahun 2026. Perubahan pelatih hingga manajer seharusnya menjadi angin segar bagi keberpihakan kepada pemain binaan lokal.
28 Des 2025 08:00 WIB · Olahraga
AFP
PSSI menutup tahun 2025 dengan kekosongan staf teknis tim nasional senior Indonesia. Bukan hanya belum adanya pelatih kepala, skuad ”Garuda” juga belum memiliki manajer tim. Ini adalah momen pertama dalam enam tahun terakhir.
Tahun 2025 menyajikan manis sekaligus periode pahit bagi perjalanan tim nasional Indonesia. Lolos ke putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 adalah capaian yang patut dirayakan, terlepas gagal lolos ke Amerika Utara tahun depan.
Ambisi yang tidak terpenuhi untuk lolos ke Piala Dunia 2026 memakan tumbal. Patrick Kluivert beserta 13 anggota staf kepelatihannya diberhentikan. Kemudian, Sumardji yang telah beberapa tahun terakhir mengemban amanah sebagai manajer timnas Indonesia juga undur diri akibat gagal mempertahankan emas di SEA Games Thailand 2025.
Situasi itu membuat PSSI yang dikendalikan oleh 15 Komite Eksekutif (Exco), yang terdiri dari 3 unsur pimpinan dan 12 anggota, harus membuat keputusan terbaik untuk mempertimbangkan suksesi pelatih dan manajer timnas senior.
Dibantu oleh Direktur Teknik PSSI Alexander Zwiers, pemilihan pelatih baru timnas mengerucut kepada juru taktik asal Inggris, John Herdman. Exco pun sudah sepakat untuk memilih Herdman, yang mengantarkan tiga timnas tampil di Piala Dunia, baik putri maupun putra.
Pemilihan pelatih baru tim hanya awal dari perjalanan proyek lanjutan PSSI era Erick Thohir untuk membawa Indonesia tampil di Piala Dunia 2030. Setidaknya PSSI dan Herdman memiliki waktu sekitar dua bulan untuk mempersiapkan laga awal Indonesia pada tahun 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/26/fbe0925fc12dfdf5d1d89975797fade6-WhatsApp_Image_2025_08_26_at_00.03.27_2.jpeg)
Indonesia akan menjalani turnamen FIFA Series pada Maret 2026. Turnamen mini yang hanya berisi dua pertandingan itu akan menjadi ujian bagi level timnas Indonesia. Tiga lawan yang akan dihadapi berasal dari konfederasi berbeda di luar Asia. Peringkat para lawan pun setara dengan Indonesia yang akan berada di bawah 100 besar peringkat FIFA per Desember 2025.
Menjadi tim terbaik di FIFA Series 2026 tentu menjadi target realistis jika merujuk potensi kekuatan lawan yang bakal dihadapi. Apalagi Indonesia akan tampil di hadapan pendukung sendiri.
Pada Juli 2026, giliran Kejuaraan ASEAN yang akan menjadi tantangan selanjutnya Indonesia di bawah kendali Herdman. Kejuaraan ASEAN 2026 merupakan barometer kualitas timnas Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Agak aneh rasanya, sebuah tim yang belum pernah juara level Asia Tenggara tiba-tiba ingin memburu tiket ke Piala Dunia. Kesempatan tampil dengan kekuatan terbaik Indonesia amat terbuka karena turnamen digelar di masa jeda kompetisi Eropa. Di sisi lain, sejumlah pemain andalan skuad Garuda juga sudah berkarier di Liga Super Indonesia 2025-2026.
Jadi, janggal rasanya apabila Indonesia tidak menargetkan trofi juara di Kejuaraan ASEAN 2026. Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) pun menggantungkan harapan besar agar Indonesia bisa tampil maksimal, tidak seperti di edisi 2024 ketika menurunkan tim U-23. Undian fase grup, Januari 2026, akan digelar di Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/18/5e5cdfb21adff2f38d35290515cc592c-AP22331716649016.jpg)
Periode satu tahun perdana bagi Herdman menangani Indonesia akan diwarnai dengan kiprah di Piala Asia Arab Saudi 2027. Lolos meyakinkan dari fase grup untuk tampil di babak gugur adalah target realistis bagi Indonesia.
Bahkan, jika membandingkan perjalanan di pra-Piala Dunia 2026, Indonesia sepatutnya minimal bisa lolos hingga babak perempat final atau fase delapan besar. Seandainya bisa tampil hingga semifinal, Garuda akan lebih optimistis untuk memburu tiket Piala Dunia 2030.
Demi memenuhi target maksimal pada tiga turnamen periode Maret 2026 hingga Januari 2027, memilih nama-nama kompeten untuk mengisi pos pelatih kepala hingga manajer timnas tidak cukup. Staf kepelatihan, terutama asisten pelatih, juga harus mampu menopang keinginan dan rencana kerja Herdman.
Mantan pelatih timnas Kanada itu tentu akan membawa beberapa pembantu yang telah menemaninya di tim terdahulu, tetapi Herdman juga wajib menularkan ilmunya kepada pelatih-pelatih muda lokal.
Hal yang gagal dilakukan oleh Kluivert. Shin Tae-yong pun hanya mampu melahirkan pelatih lokal baru pada Nova Arianto yang membawa tim U-17 menembus Piala Dunia U-17 2025.
Regenerasi pelatih lokal justru lebih aktif ditunjukkan oleh Indra Sjafri ketika menangani tim U-23 di SEA Games lalu. Mantan pemain timnas Indonesia yang beralih menjadi pelatih, di antaranya Kuniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, dan Zulkifli Syukur, menjadi pembantu Indra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/15/76575b8e465eaa3bcd5aa035460d4c91-YGX_0192.JPG)
Tiga pelatih itu memiliki potensi besar untuk menjadi generasi baru pelatih lokal di timnas. Setidaknya mereka bisa memulai di tim kelompok usia, misalnya U-17 yang masih lowong dan bakal ditargetkan kembali menembus Piala Dunia U-17 2026.
Selain pelatih, timnas Indonesia juga harus lebih berpihak kepada pemain homegrown atau binaan klub lokal. Herdman memang masih akan dibekali pemain-pemain diaspora yang bermain di Liga Super dan luar Indonesia. Ada pemain yang sudah matang, seperti Emil Audero, Jay Idzes, dan Calvin Verdonk, lalu ada pula pemain muda potensial, misalnya Miliano Jonathans dan Adrian Wibowo.
Di luar pemain diaspora itu, Herdman bakal memiliki dua generasi tim U-17 yang tampil di Piala Dunia U-17 edisi 2023 dan 2025. Pengalaman tampil di pentas dunia memberikan modal penting bagi mereka untuk memahami persaingan di level internasional.
Namun, sayangnya, hingga kini, pengalaman mantan pemain tim U-17 itu belum bisa difasilitasi operator kompetisi agar mereka bisa tumbuh dan menjadi pemain sesuai potensi mereka. Liga Super dijejali pemain asing, bahkan kerap lebih terlihat seperti Liga Brasil dibandingkan Liga Indonesia.
Setiap tim diizinkan memainkan tujuh pemain asing pada setiap pertandingan. Empat pemain lokal tidak akan memberikan dampak baik bagi perkembangan timnas.
Indonesia bukan Inggris. Ketika Liga Inggris memiliki tujuan menjadi liga global dengan tidak membatasi pemain impor, pemain-pemain homegrown Inggris sudah memiliki kualitas untuk bersaing di liga-liga lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/08/d2b61698b507e3e2c3481505d35b60f0-20250908BAH11.jpg)
Sistem pembinaan yang baik melalui program berjenjang dan kompetisi kelompok usia yang kompetitif membuat pemain Inggris tidak kesulitan hijrah ke negara lain. Jude Bellingham di Real Madrid hingga Mason Greenwood di Marseille adalah bukti talenta Inggris bisa menjadi andalan di liga-liga Eropa lainnya.
Sementara Indonesia, ketika Liga Super tidak berpihak kepada pemain lokal, harapan bermain mereka menipis. Regenerasi pemain timnas tidak terjadi.
Pemain yang berkarier di luar negeri, seperti Asnawi Mangkualam, Pratama Arhan, dan Marselino Ferdinan, justru kerap tidak diprioritaskan untuk membela timnas karena federasi lebih suka mencari pemain diaspora baru.
Tugas Herdman adalah harus lebih gencar blusukan di Liga Super hingga kompetisi usia dini, seperti Elite Pro Academy, untuk menambah daftar talent pool timnas Indonesia.
Rasanya, Herdman wajib menjadi sosok yang bawel dan menjengkelkan untuk PSSI. Ia harus berani menuntut federasi untuk membenahi kompetisi nasional dan sistem pembinaan. Jika keduanya tidak bisa dibenahi serius, minimal salah satunya harus dibenahi dengan akselerasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/22/18b556d5a41b0a48460b99c29bcfae7a-large_ramon_bhayangkara_bar_49c2af88d8.jpg)
Ingat, Kanada bisa menembus Piala Dunia 2022 tanpa kompetisi lokal. Klub terbaik Kanada berlaga di Major League Soccer (MLS), liga profesional Amerika Serikat.
Namun, Kanada memiliki sistem pembinaan apik sehingga dalam satu dekade terakhir bisa menyebarkan banyak pemain muda ke akademi klub-klub besar Eropa. Para pemain itu mewujudkan generasi emas timnas Kanada yang dipimpin Jonathan David dan Alphonso Davies.
Pada akhirnya, timnas Indonesia harus kembali memberikan manfaat terbesar bagi seluruh elemen sepak bola Tanah Air. Ketika skuad Garuda bermain, setidaknya pelatih-pelatih kampung di pelosok negeri bisa bangga menyaksikan mantan anak asuhannya, yang dilatih pertama kali menendang bola, mengenakan seragam timnas Indonesia di pentas internasional.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar