TAJUK RENCANA

MSCI Membuka Borok Kita

MSCI membuat pengumuman itu sehingga membuat benderang kondisi pasar modal di Indonesia dari mulai transparansi hingga tindakan mendistorsi pasar.

30 Jan 2026 07:00 WIB · Tajuk Rencana

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Redaksi

Sepanjang perdagangan Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan terjun bebas 7,35 persen ke level 8.320. Dinamika ini merupakan imbas dari reaksi investor terhadap pengumuman Morgan Stanley Capital International atau MSCI pada Rabu pagi.

MSCI adalah salah satu lembaga internasional yang banyak dijadikan acuan investor dunia. Investor menilai jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi kesempatan baik untuk menyehatkan pasar modal Indonesia dalam jangka menengah-panjang. Mereka berharap para pemangku kepentingan di pasar modal nasional segera berbenah (Kompas, 29/1/2026).

Jauh sebelum pengumuman MSCI ini banyak pihak sudah mencurigai dan mengritik kondisi pasar modal di Indonesia. Mereka melihat keanehan dalam pergerakan saham yang fundamentalnya tidak diketahui secara persis. Sebaliknya saham-saham yang fundamentalnya bagus malah tak bergerak.

Isu MSCI sudah beredar di kalangan investor selama sebulan terakhir. Intinya mereka sudah sadar akan situasi ini. Pada Oktober 2025, Menkeu Purbaya Sadewa secara tegas juga meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menghukum pihak-pihak yang terlibat dalam praktik saham terkoordinasi atau biasa disebut ”saham gorengan” atau manipulasi pasar.

Menkeu menargetkan agar dalam setahun banyak pelaku manipulasi yang ditindak karena merugikan investor. Akan tetapi, sebelum keinginan itu terlaksana, MSCI telah meluncurkan pengumuman itu sehingga membuat benderang kondisi pasar modal di Indonesia. Lembaga itu secara jelas memperlihatkan masalah besar di pasar, yaitu transparansi informasi struktur kepemilikan saham dan tindakan-tindakan yang diduga membuat pasar terdistorsi.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman, didampingi Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna (kiri) dan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Kristian Manullang (kanan), mengadakan konferensi pers di Press Room Gedung Bursa Indonesia, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Kita mempertanyakan langkah otoritas yang tidak segera menangani masalah ini, padahal orang awam pun sudah melihat perilaku pasar yang tidak wajar. Otoritas terkesan tidak berdaya menghadapi mereka. Sejumlah kalangan sempat mengabarkan kalau otoritas bursa tak berdaya karena kelompok yang melakukan praktik saham terkoordinasi sangat besar sehingga apabila disentil akan merontokkan pasar. Jika ini benar, sebenarnya ada berkah tersembunyi dari pengumuman MSCI. Biarlah pihak lain yang menyentil bursa Indonesia.

Meski demikian, kita selayaknya malu. Mengapa harus pihak luar yang menyentil kita? Mengapa harus mereka yang memperlihatkan wajah kita sesungguhnya? Pasar menjadi cermin yang bisa merefleksikan perilaku-perilaku kita. Perilaku serakah oleh segelintir orang serta otoritas yang tak berdaya. Serakah karena ingin mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat dengan cara tidak benar, sementara otoritas tidak segera mengambil tindakan, padahal nyata terlihat.

Kita bisa menggunakan kasus ini untuk melihat kasus-kasus dalam keseharian kita. Banyak kasus yang di depan mata memperlihatkan masalah besar, seperti korupsi, perusakan lingkungan, kolusi, nepotisme, dan pemberian jabatan secara tidak pantas. Namun, otoritas juga diam saja. Rakyat hanya bisa menonton semua ini dan bahkan menjadi korban. Pengumuman MSCI membuka borok kita.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Marcellus Hernowo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra