Masalah klasik membayangi MU di pengujung laga versus Fulham. Namun, di awal era Carrick, moral skuad ”Si Setan Merah” terlalu tinggi untuk dibendung tim mana pun.
02 Feb 2026 07:46 WIB · Olahraga
AP/DAVE THOMPSON
MANCHESTER, MINGGU — Manchester United sebenarnya bisa menang dengan cara mudah atas Fulham. Namun, mereka justru memilih menang dengan jalur sulit lewat gol penentu di injury time. Skuad MU memperlihatkan mentalitas pemenang sekaligus menguak masalah lama soal fokus dan konsentrasi.
MU nyaris saja kehilangan tiga poin yang sudah dalam genggaman di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (1/2/2026) WIB. Tim tuan rumah sudah unggul 2-0 atas Fulham sejak menit ke-56. Namun, saat waktu normal tersisa lima menit, mereka kemasukan dua gol beruntun dalam rentang enam menit. Skor sempat imbang 2-2.
Beruntung, moral Bruno Fernandes dan rekan-rekan tidak kolaps setelah kejutan dari tim tamu. MU langsung mengambil inisiatif serangan. Mereka berbalik unggul hanya beberapa menit berselang lewat gol dari pemain pengganti Benjamin Sesko. Gol diawali pergerakan dan umpan cemerlang dari Fernandes.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/1db4f8b7ca4b86293aba74e8bd0f18ce-Britain_Premier_League_Soccer_34_.jpg)
MU menyudahi laga dengan kemenangan 3-2. ”Banyak hal yang terjadi hari ini. Saya menyadari Fulham adalah tim yang bagus. Saya tahu kami harus menjawab banyak pertanyaan hari ini dan kami melakukan itu. Anak-anak mengerahkan usaha maksimal dan benar-benar ingin memenangi laga,” ujar Pelatih Interim MU Michael Carrick.
Skenario itu nyaris sama dengan pertemuan pertama kedua tim di kandang Fulham, Agustus 2025. MU yang masih dilatih Ruben Amorim unggul lebih dulu, lalu dibalas Fulham karena MU kehilangan konsentrasi dan intensitas. Bedanya, mereka kali ini masih memiliki tenaga dan kapasitas untuk membalikkan keunggulan.
Sinyal penurunan intensitas ”Si Setan Merah” mulai terlihat setelah unggul 2-0 lewat gol Matheus Cunha pada menit ke-56. Mereka lebih banyak menunggu di separuh lapangan sendiri sejak itu. Terbukti, selama 10 menit setelah gol, Fulham mendominasi penguasaan bola hingga 79,1 persen.
Fokus dan konsentrasi para pemain MU ternyata tidak cukup baik untuk menampung gempuran serangan Fulham. Tim asuhan Carrick sempat kemasukan pada menit ke-70 karena salah antisipasi dalam skema bola mati. Beruntung, gol Fulham itu dianulir oleh asisten wasit video karena off-side.
”Penampilan yang hebat dari tim kami. Di babak kedua, kami adalah tim yang lebih baik. Kami menguasai permainan. Mereka ingin menekan tinggi, tetapi kami tidak membiarkan itu. Hasil ini sulit diterima, tetapi kami harus bisa berdamai dengan itu,” kata Pelatih Fulham Marco Silva.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/5a6b7b4fdc2de6af61961390539b0063-wires_photo_2026_02_02T005455.398.jpg)
Gol pertama Fulham, dari eksekusi penalti penyerang Raul Jimenez, bermula dari kesalahan bek sayap Diogo Dalot. Sang bek terlambat kembali dan menutup ruang di sisi sayap ketika Fulham melakukan transisi. Kesalahan selanjutnya dilakukan bek tengah Harry Maguire yang menjatuhkan Jimenez di kotak penalti.
Gol penyeimbang Fulham dicetak pemain pengganti, Kevin, lewat tembakan indah dari luar kotak penalti. Gol itu tercipta berkat kepiawaian aksi Kevin di ruang sempit. Para pemain MU seharusnya bisa bertahan lebih baik karena unggul jumlah pemain dalam situasi gol dari sisi sayap tersebut.
Carrick perlu mewaspadai kembalinya penyakit lama MU. Pada paruh pertama musim, di era Amorim, mereka juga sering kecolongan saat mulai merasa nyaman. Menurut data Opta Analyst, MU merupakan tim dengan kegagalan menang terbanyak di liga setelah unggul lebih dulu (6 kali).
Terlepas dari itu, Carrick cukup beruntung. Sang pelatih mendapatkan pelajaran sekaligus hasil yang diinginkan. MU pun berhasil menang tiga kali beruntun dalam tiga laga di era Carrick. Catatan itu sangat impresif. Adapun Amorim membutuhkan 37 laga untuk bisa mencatat tiga kemenangan beruntun di liga.
Peran para pemain pelapis begitu krusial bagi MU. Carrick sempat dipusingkan karena cederanya pemain sayap Patrick Dorgu yang tampil brilian dalam dua laga terakhir. Dorgu merupakan penyumbang gol saat MU menaklukkan Arsenal dan Manchester City. Mereka butuh pengganti.
Penyerang Matheus Cunha ditunjuk sebagai pengganti Dorgu. Hasilnya sangat memuaskan. Cunha terlibat dalam dua gol awal MU. Gol pertama MU, dari sundulan gelandang Casemiro, tercipta setelah Cunha dijatuhkan tepat di luar kotak penalti. Fernandes memanfaatkan kesempatan tendangan bebas itu dengan umpan akurat untuk Casemiro.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/7677098dd707b35d575b7b115061c3a7-APTOPIX_Britain_Premier_League_Soccer_6_.jpg)
Cunha berhasil menggandakan keunggulan MU lewat aksi dribel individu dan tembakan keras. Peran pemain Brasil itu sangat menarik. Walaupun ditugasi beroperasi di sisi kiri, dia selalu berada di sisi kanan dalam proses terjadinya dua gol awal Si Setan Merah.
Cunha digantikan Sesko pada menit ke-74. Pergantian itu teramat penting. Sesko yang menyelamatkan wajah MU di momen kritis. ”Tujuan kami saat ini adalah terus melanjutkan momentum ini. Kami harus terus bekerja keras dan fokus setiap saat. Semua ini akan membawa kami ke hasil yang baik,” kata Sesko.
(AP/Reuters)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra