Muak dengan Korupsi, Unjuk Rasa Gen Z Tumbangkan Pemerintah Bulgaria

Puluhan ribu Gen Z memprotes korupsi di kalangan pejabat dan pemerintah. Pesan mereka kepada pemerintah sangat jelas: ”Anda sudah membuat marah generasi muda”.

14 Des 2025 09:00 WIB · Internasional

AFP

Oleh Luki Aulia

”Hari ini, pemerintah mengundurkan diri,” kata Perdana Menteri Bulgaria Rossen Jeliazkov, Kamis (11/12/2025). Pengumuman Jeliazkov itu menyusul gelombang unjuk rasa anti-korupsi yang sudah berlangsung selama berminggu-minggu di segala penjuru Bulgaria. Ia mundur tepat sebelum oposisi mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintah di parlemen. Padahal, Jeliazkov baru berkuasa kurang dari setahun. Bahkan, Bulgaria, menurut rencana, memperkenalkan euro pada 1 Januari 2026.

Masalahnya, Bulgaria merupakan negara anggota Uni Eropa yang termiskin sekaligus terkorup dan itu tidak berubah sejak bergabung dengan UE pada 2007. Bersama dengan Hongaria dan Romania, Bulgaria termasuk di antara anggota peringkat terendah dalam Indeks Persepsi Korupsi lembaga pengawas Transparency International.

Bulgarian Prime Minister Rosen Zhelyazkov announces that Bulgaria's government resigns following mass protests, at the Bulgarian Parliament in Sofia, Bulgaria, Thursday, Dec. 11, 2025. (Bulgarian News Agency via AP)

Pemerintahan Jeliazkov dianggap tak bisa juga memberantas korupsi yang sudah kronis dan kebijakan ekonominya pun dianggap payah. Partai-partai politik yang ada pun dianggap tak mampu membentuk pemerintahan yang stabil.

Geregetan dengan situasi dalam negeri yang tak kunjung membaik, puluhan ribu pengunjuk rasa yang didominasi anak muda turun ke jalan dan menggelar protes sejak akhir bulan November 2025. Gelombang protes itu dipicu oleh rancangan anggaran 2026 yang dicurigai sebagai upaya untuk menutupi korupsi yang merajalela.

Rakyat marah karena ada usulan menaikkan iuran jaminan sosial dan pajak atas dividen untuk mendanai pengeluaran negara yang lebih tinggi. Pemerintah sudah menarik rencana anggaran itu, pekan lalu. Namun, rakyat masih marah dan unjuk rasa berlanjut. ”Mundur!” ”Mundur!” ”Kami sudah muak!” teriak para pengunjuk rasa selama protes.

Mereka juga membawa spanduk dan memakai sinar laser untuk memproyeksikan kata-kata: ”Mafia Keluar Kalian!” dan ”Gelar Pemilu yang Adil”. ”Korupsinya sudah keterlaluan. Banyak teman saya yang tidak mau tinggal lagi di Bulgaria. Saya ingin negara kita ini dipimpin orang-orang muda, kompeten, dan berpendidikan,” kata Gergana Gelkova (24), seorang karyawan ritel kepada Deutsche Welle, Kamis.

Presiden Bulgaria Rumen Radev, pekan lalu, juga mendukung para pengunjukrasa dan mendesak pemerintah mundur untuk membuka jalan bagi pemilihan umum dini.  Ia akan meminta partai-partai di parlemen untuk mencoba membentuk pemerintahan baru. Jika mereka gagal—kemungkinan besar itu yang akan terjadi karena adanya perpecahan politik—ia akan menunjuk pemerintahan sementara sampai digelar pemilu baru.

Gelisah pada korupsi

Kemarahan anak muda atas korupsi di lingkaran kekuasaan dan kesulitan ekonomi telah menyebar ke Eropa setelah gerakan serupa di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Anak-anak muda Bulgaria berang karena rakyat harus bersusah payah mencari uang untuk bayar pajak. Sementara para politisi dan pejabat publik malah hidup mewah.

Thousands of protesters take part in an anti-government demonstration in Sofia on December 10, 2025. Tens of thousands of people held anti-government protests in Bulgaria on Monday, widening an anti-corruption movement sweeping the European Union's poorest country as it prepares to adopt the euro. (Photo by DIMITAR KYOSEMARLIEV / AFP)

Selama aksi protes, anak-anak muda mengepung istana presiden, parlemen, dan kantor-kantor pemerintahan. Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti ”Generasi Z akan datang!”, ”Bulgaria muda tanpa mafia”, ”Beri kami alasan untuk tetap tinggal di negara ini,” dan ”Kami akan menggulingkanmu”. Tanpa berbekal banyak pengalaman dalam mengorganisir aksi protes berskala besar, anak-anak muda ini secara spontan berkumpul di jalanan.

Mereka bisa berkumpul karena ada ajakan di platform media sosial seperti Instagram dan Tiktok. Pemengaruh dan selebritas juga ikut serta. Baru kali ini juga banyak pemengaruh yang ikut serta.

”Kami merasa ini tidak adil karena pemerintah membahas harga properti dalam euro. Sementara gaji kami masih dibayar dalam lev (mata uang Bulgaria),” kata salah seorang pengunjuk rasa.

Gen Z mendapatkan momentum seperti yang terjadi di Indonesia, Maroko, dan Peru. Gerakan Gen Z juga berhasil menggulingkan pemerintah di Nepal dan Madagaskar. Anak-anak muda di Bulgaria mengaku mendapatkan inspirasi dari negara-negara lain. Dan demonstrasi di Bulgaria ini menjadi yang pertama yang berhasil menggulingkan pemerintah di Eropa.

This drone aerial photograph shows the crowd shine their mobile phones as tens of thosands of protesters gather in central Sofia to demonstrate against the Buglarian government, in Sofia on December 10, 2025. Tens of thousands of people held anti-government protests in Bulgaria on December 10, 2025 widening an anti-corruption movement sweeping the European Union's poorest country as it prepares to adopt the euro. (Photo by Dobrin KASHAVELOV / AFP)

”Saya tidak percaya akhirnya perdana menteri mundur. Saya dan teman-teman tidak percaya: ’Apakah kita yang melakukannya? Senang juga melihat banyak anak Gen Z yang turun ke jalan,” kata Konstantin Tuzharov (24), pegawai pemasaran di Sofia, kepada The New York Times.

Kini, pertanyaannya adalah, apakah Gen Z Bulgaria akan memanfaatkan energi besar ini untuk memilih pemerintahan yang lebih stabil? Kepala Program Dahrendorf di Pusat Studi Eropa di Universitas Oxford, Inggris, Dimitar Bechev, mengatakan pemilu yang baru nanti akan menjadi ujian pamungkasnya. Jika tingkat partisipasinya tinggi, itu bisa jadi pertanda baik bahwa keadaan akan membaik. ”Generasi muda punya toleransi yang lebih rendah terhadap korupsi,” ujarnya.

Deutsche Welle menyebutkan minat Gen Z dalam politik dan pemberantasan korupsi meningkat. Gen Z adalah generasi pertama di Bulgaria yang tidak memiliki kenangan pribadi tentang rezim komunis yang memerintah Bulgaria dari tahun 1944 hingga 1989. Mereka juga tidak mengalami krisis hiperinflasi akhir tahun 1990-an.

Tuntutan anak-anak muda berkisar dari perawatan kesehatan yang lebih baik hingga peningkatan kesempatan kerja. ”Intinya, tuntutan politik generasi Z adalah mengakhiri korupsi,” kata Mimi Shishkova, penerbit dan pemengaruh yang jadi tokoh kunci bagi Gen Z karena punya kanal khusus bicara politik secara daring.

Seiring bertambahnya usia mereka, kepercayaan publik terhadap pemerintah Bulgaria tetap rendah. Menurut kelompok riset Globsec, angkanya 29 persen pada tahun lalu. Tingkat partisipasi pemilih sangat rendah. Hanya sekitar 39 persen warga Bulgaria yang memenuhi syarat yang memberikan suara dalam pemilihan parlemen terakhir, pada Oktober 2024. Meskipun tingkat partisipasi yang rendah menunjukkan bahwa mayoritas pemilih melihat sedikit gunanya pemilihan, data tersebut juga menunjukkan bahwa kekecewaan terhadap Pemerintah Bulgaria telah mencapai titik stabil dan banyak yang belum menyerah.

A protester waves the Bulgarian flag during an anti-government protest in Sofia on December 10, 2025. Tens of thousands of people held anti-government protests in Bulgaria on Monday, widening an anti-corruption movement sweeping the European Union's poorest country as it prepares to adopt the euro. (Photo by DIMITAR KYOSEMARLIEV / AFP)

Harian The New York Times, Jumat (12/12/2025), menyebutkan sistem politik Bulgaria tak juga berubah meski sudah berkali-kali pemilu. Situasinya tetap saja tidak stabil. Namun, dengan bergeraknya Gen Z, muncul harapan akan ada pemimpin muda yang terpilih jadi pemimpin. Besar harapan rakyat Bulgaria pada anak muda yang diyakini dapat membawa Bulgaria keluar dari kekacauan.

Direktur lembaga jajak pendapat Alpha Research Boryana Dimitrova menilai tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah dan parlemen Bulgaria mendekati titik terendah dalam sejarah. Ini indikator lain dari krisis politik dan kelembagaan yang parah yang dihadapi Bulgaria. Situasinya jadi makin parah karena rakyat khawatir harga-harga barang kebutuhan hidup akan melambung tinggi jika Bulgaria mengadopsi euro.

Pemimpin partai oposisi We Continue the Change-Democratic Bulgaria (CC-DB), Assen Vassilev, menyambut gembira pengunduran diri Jeliazkov. Baginya, ini langkah pertama menuju transformasi Bulgaria menjadi negara Eropa yang normal. Hanya, dalam empat tahun terakhir saja, Bulgaria sudah mengadakan tujuh kali pemilihan nasional.

Pemilu terakhir dilakukan Oktober 2024 dan dilakukan di tengah perpecahan politik yang mendalam. Gelombang unjuk rasa besar-besaran seperti ini juga pernah terjadi pada tahun 2020. Pada waktu itu, yang diprotes pemerintahan PM Boyko Borissov yang sudah menjabat tiga kali.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase