Program mudik gratis telah membuka peluang bagi warga yang sebelumnya tak bisa pulang kampung karena terhalang biaya.
27 Mar 2025 12:37 WIB · Metro
Setelah berjuang memperebutkan tiket mudik gratis, ribuan peserta mudik gratis Pemerintah Provinsi Jakarta akhirnya berangkat ke kampung halaman masing-masing pada Kamis (27/3/2025) pagi. Program ini telah membuka peluang bagi warga yang sebelumnya tak bisa pulang kampung karena terhalang biaya.
Area Monumen Nasional (Monas) yang biasanya ramai dengan wisatawan pagi itu dipenuhi peserta mudik gratis dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan. Sambil membawa tas dan barang bawaan, mereka bersiap memulai perjalanan panjang menuju kampung halaman.
Setelah memasuki kawasan Monas, warga Jakarta Barat, Fatimah (42) dan suaminya bergegas mencari lokasi parkir bus tujuannya sembari menenteng tas dan menggeret koper.
Semua bus kompak diparkirkan di area silang Monas. Banyaknya bus membuat Fatimah sedikit kesulitan mencari bus yang akan ditumpanginya.
Meski demikian, Fatimah bahagia karena berkesempatan mengikuti program mudik gratis kedua kalinya dari Pemprov DKI Jakarta. Dengan program ini, ia tak perlu mengkhawatirkan biaya perjalanan yang kerap membebani anggaran keluarga.
Sebelum adanya program mudik gratis, perjalanan mudik sering kali menjadi beban finansial yang besar bagi warga yang tinggal di Jakarta, tetapi berasal dari luar kota, seperti halnya Fatimah.
”Dengan adanya mudik gratis ini, saya tidak harus mengeluarkan uang sebesar Rp 250.000-Rp 400.000 untuk satu tiket ke Semarang. Jika menjelang Lebaran, tiket bus juga tidak bisa didapatkan secara dadakan. Kalau beli jauh-jauh hari juga susah karena menunggu uang cair dulu,” ujarnya.
Bagi Fatimah, mudik merupakan perjalanan emosional yang penuh makna. Dengan mudik, ia dapat berkumpul dengan keluarga, berbagi kebahagiaan, dan kembali ke akar budaya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/e873d51e12fd9491e5c7b303999e0e58-WhatsApp_Image_2025_03_27_at_11.51.19.jpeg)
Meski harus war, untuk mendapatkan tiket mudik gratis ini tidak terlalu sulit bagi Fatimah. Hal itulah yang membuat dirinya ketagihan untuk ikut program mudik gratis dari Pemprov Jakarta.
”Yang penting sudah prepare keperluan administrasi, lalu cari jaringan internet yang stabil. Yang buka website juga jangan hanya satu orang, buat jaga-jaga,” kata Fatimah.
Fatimah bukan satu-satunya peserta mudik yang merasa bahagia. Warga Jakarta lainnya, Samirah (36), juga sibuk mengatur barang-barangnya ke dalam bagasi bus dengan semringah. Ibu rumah tangga yang tinggal di Jakarta Timur ini akan menuju Sidoarjo, Jawa Timur, kampung halaman tempat ia dibesarkan.
Saat tiba di Monas, Samirah tak langsung mendapat kursi bus. Pemberangkatan dimulai dengan registrasi ulang peserta, lalu diikuti dengan pembagian bus sesuai dengan kota tujuan. Selain mendapatkan layanan transportasi, para pemudik juga berkesempatan memeriksakan kesehatan secara gratis.
”Dengan adanya pemeriksaan kesehatan, mudik bisa berjalan dengan lebih nyaman dan aman. Harapannya bisa sampai di kota tujuan dengan selamat dan sehat,” kata Samirah yang tiba di Monas sejak pukul 06.00.
Berbeda dengan Fatimah, bagi Samirah, untuk mendapatkan tiket mudik gratis bukan hal yang mudah. Begitu pendaftaran mudik gratis dibuka, ia bersama suaminya langsung mengakses website Pemprov DKI untuk mencoba peruntungan.
”Setiap pagi mantengi web, kalau error, ya, dicoba lagi. Namanya juga mau gratisan, ya harus sabar,” tutur Samirah.
Ini merupakan yang pertama bagi Samirah ikut mudik gratis dari Pemprov Jakarta. Pada tahun sebelumnya, Samirah mengikuti mudik gratis dari Samsat dengan tiket yang didapat secara offline.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/1cf9fdff8510f29b2825c2f4c3c09f37-FAK_4309.jpg)
Samirah pun berharap program mudik gratis Pemprov Jakarta terus berkembang dengan perluasan kuota. Sebab, masih banyak warga membutuhkan yang belum bisa mendapatkan kesempatan ini.
Warga Jakarta Barat, Dedi (60), pun tak mau kalah. Dengan bantuan beberapa tetangga yang sudah lebih berpengalaman dalam pendaftaran, ia akhirnya berhasil mendapatkan tiket ke Kuningan, Jawa Barat.
”Alhamdulillah, saya dapat tiket mudik gratis. Tidak sabar ingin berkumpul dengan keluarga besar karena sudah dua tahun tidak pulang,” kata Dedi.
Pada pukul 08.20, satu per satu bus meninggalkan Monas. Sebagian besar peserta memandang ke luar jendela dengan senyum lebar, sementara sebagian lain hanya terdiam menatap jalanan.
Sebagai tanda dimulainya keberangkatan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung hadir di tengah-tengah peserta mudik untuk melepas mereka. Dengan senyum lebar, Pramono yang didampingi Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengucapkan doa dan harapan agar perjalanan mudik para peserta berjalan lancar sehingga mereka dapat berkumpul kembali dengan keluarga.
”Saya bangga melihat antusiasme warga Jakarta yang ingin pulang ke kampung halaman. Mudik gratis ini bukan hanya soal perjalanan, tetapi juga tentang kebersamaan, tentang kembali ke rumah dan merayakan Lebaran bersama orang-orang tercinta,” ujar Pramono.
Pramono mengatakan, awalnya kuota mudik gratis ditargetkan 22.403 peserta (untuk mudik dan balik). Namun, dia bersyukur, karena antusiasme masyarakat yang luar biasa, akhirnya kuota mudik gratis bertambah.
Pramono juga mengaku senang karena ada bus disabilitas pada mudik gratis kali ini yang disediakan oleh Baznas-Bazis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/dd044c684d0f65eea63300a037d3a752-WhatsApp_Image_2025_03_27_at_11.51.19.jpeg)
”Ada 15.049 peserta mudik gratis yang berangkat pagi ini. Kondisi bus sangat nyaman. Mudah-mudahan selamat sampai tujuan. Namun, tetap jangan membatalkan puasanya, ya,” ujar Pramono berpesan.
Kemudian, Pramono mengatakan bahwa program mudik ini harus bebas dari pungutan liar (pungli). Pemprov Jakarta telah menyiapkan unit pengaduan dan sistem informasi untuk melaporkan pungli di setiap pos mudik.
Adapun pendafataran mudik gratis 2025 ini dibagi menjadi dua gelombang. Pada gelombang pertama, Pemprov Jakarta menyediakan kuota untuk 22.403 peserta dengan 521 bus dan 20 unit truk dengan kapasitas 600 sepeda motor.
Kemudian, pada gelombang kedua, ada tambahan 27 bus dari Bank DKI (5 bus), Transjakarta (5), MRT Jakarta (1), LRT Jakarta (1), dan Paragon Corporation (15). Jumlah bus ini menambah total kapasitas 1.161 penumpang.
Selain itu, terdapat penambahan 40 bus dengan kuota 215 kursi khusus untuk penyandang disabilitas dari program Baznas Provinsi DKI Jakarta.
”Dengan adanya tambahan kuota ini, total bus yang akan diberangkatkan pada pelaksanaan mudik dan balik gratis tahun ini berjumlah 552 bus dengan kuota 23.779 peserta,” ujar Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/07cc51d4ca4d6f1914fa0a4c5a330ebf-WhatsApp_Image_2025_03_27_at_11.51.35.jpeg)
Mudik gratis Jakarta 2025 menyasar 20 kota tujuan di 6 provinsi yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Semua peserta mudik kompak diberangkatkan pada 27 Maret 2025 dari Monas, Jakarta Pusat, lalu kembali ke Jakarta pada 6 April 2025 dari terminal kota masing-masing.
Sementara itu, truk pengangkut sepeda motor telah diberangkatkan lebih dulu dari Terminal Pulo Gadung pada 26 Maret 2025.
Investigator Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Djalaluddin mengingatkan, apabila sopir tidak memiliki pengemudi pengganti, berhentilah untuk beristirahat minimal selama setengah hingga 1 jam setelah mengemudi terus-menerus selama 2-3 jam.
Sopir bus juga diimbau untuk tidak mengemudi apabila mengantuk. Obat satu-satunya mengantuk yang manjur adalah tidur, bukan minum kopi atau lainnya.
Djalaluddin menilai, perusahaan angkutan penumpang/barang juga hendaknya mempekerjakan pengemudi sesuai jam kerja (8 jam per hari). Apabila diperlukan hingga 12 jam per hari, sebaiknya dibatasi per minggu atau tidak lebih dari 50 jam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/e81d8e2e23eb75147c8266f7740a1797-WhatsApp_Image_2025_03_27_at_11.50.55.jpeg)
Selain itu, pengemudi harus memiliki tempat istirahat yang representatif di setiap pool ataupun titik persinggahan bus (check point). Lebih baik lagi apabila disediakan fasilitas air minum dan snack sehat secara gratis.
Lalu, sebelum melakukan perjalanan, hendaknya melakukan pengecekan medis (medical check up) harian kepada pengemudi yang setidaknya meliputi pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi, suhu, saturasi oksigen, jumlah pernapasan per menit, tes kadar gula, dan tes kadar alkohol.
Selanjutnya, bekerja sama dengan unit-unit layanan kesehatan di sepanjang rute armada yang dilalui atau minimal menyediakan beberapa check point. Hal ini ditujukan untuk memantau kesehatan pengemudi agar kesehatan pengemudi selalu terpantau.
”Pemerintah provinsi/kota/kabupaten juga hendaknya menyediakan check point untuk memantau kesehatan pengemudi. Hal ini dilakukan sebagaimana layaknya ramp check pada kendaraan (bersifat wajib). Idealnya check point berada satu lokasi dengan rest area pengemudi,” kata Djalaluddin.
Mudik gratis Jakarta 2025 bukan sekadar perjalanan menuju kampung halaman, melainkan juga perjalanan penuh harapan dan kebahagiaan. Bagi setiap peserta, momen ini adalah kesempatan untuk bertemu keluarga setelah berbulan-bulan bekerja keras di Ibu Kota.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nur Adji