Mudik Jalur Laut Saat Gelombang Tinggi, Pelni Jadi Andalan

Sebanyak 27.941 orang akan melakukan perjalanan dengan kapal Pelni pada puncak arus mudik Natal dan Tahun Baru pada 19 Desember 2024.

15 Des 2024 09:39 WIB · ekonomi

Oleh Fransiskus Pati Herin

KUPANG, KOMPAS - Gelombang tinggi membayangi perjalanan para pemudik jalur laut di Nusa Tenggara Timur. Warga yang hendak merayakan Natal di kampung halaman itu was-was bila menggunakan kapal Angkutan Sungai Danau dan Penyebaran.

Perjalanan terasa lebih nyaman jika menggunakan kapal Pelni yang singgah hanya sekali dalam dua minggu. Kondisi ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun karena jumlah kapal Pelni jauh di bawah tingkat kebutuhan angkutan pelayaran di Indonesia.

Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang dalam laporannya pada Minggu (15/12/2024) pagi menyatakan, kecepatan angin yang melewati NTT diperkirakan mencapai 30 knot atau 55,6 kilometer per jam. Angin berembus kencang dari arah barat daya dan barat laut melewati Laut Sawu, Laut Flores, Selat Sumba, dan perairan Alor.

Diperkirakan, tinggi gelombang berkisar dari 1,5 meter hingga 4 meter. Dikatakan pula, dengan tinggi gelombang seperti itu, tidak semua kapal bisa diizinkan berlayar. Kapala Angkutan Sungai Danau dan Penyebaran (ASDP) yang menguasai semua jalur pelayaran di NTT, sudah tidak bisa berlayar jika tinggi gelombang melampaui 2,5 meter.

Dari kejauhan dua anak memandang KM Bukit Siguntang dari luar Pelabuhan Tenau, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (6/7/2024). Kapal Pelni sering disebut "kapal putih".

Perairan yang menjadi jalur sentral pelayaran adalah Laut Sawu. Hampir semua jalur pelayaran dari dan ke Kota Kupang, akan melewati jalur itu. Hanya satu jalur pelayaran yang tidak melewati Laut Sawu, yakni Kupang - Rote. Rute ini justru lebih berisiko karena berhadapan dengan Samudera Hindia.

Marselinus Sabon (40), warga Kota Kupang yang hendak mudik ke Pulau Lembata mengaku khawatir bepergian menggunakan kapal ASDP. "Selain oleng selama belasan jam pelayaran, kapal sering batal berlayar karena gelombang tinggi. Akhir tahun seperti ini, pelayaran ASDP sering tidak menentu," ucapnya.

Andalkan Pelni

Sabon pun menunggu kapal Pelni KM Bukit Siguntang yang baru ada pada tanggal 21 Desember atau empat hari sebelum perayaan Natal. Ia sudah mengantongi tiket kapal. Ia akan balik ke Kupang menggunakan kapal yang sama dua minggu kemudian.

Biasanya pada Januari hingga Februari, perairan itu dilanda gelombang tinggi yang cukup ganas sehingga melumpuhkan semua pelayanan kapal ASDP. Hanya kapal Pelni yang masih bisa tetap beroperasi sepanjang musim gelombang tinggi.

KM Umsini sandar di Pelabuhan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pada Jumat (7/6/2024). Dua hari kemudian, kapal yang dioperasikan Pelni itu terbakar.

Direktur Usaha Angkutan Penumpang Nuraini Dessy W memperkirakan, sebanyak 27.941 orang akan melakukan perjalanan dengan kapal Pelni pada tanggal 19 Desember, yang diperkirakan menjadi puncak mudik Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru). 

"Wilayah Indonesia tengah seperti Makassar, Baubau, Balikpapan hingga NTT menjadi penyumbang terbesar hingga 40 persen," ujar Dessy.

Setidaknya terdapat 11 kapal penumpang Pelni yang melayani wilayah tengah, disusul 11 kapal lain untuk wilayah timur, dan 4 kapal untuk wilayah barat. Periode Nataru untuk Pelni dihitung sejak 11 Desember 2024 hingga 8 Januari 2025. 

"Untuk antisipasi lonjakan penumpang yang menuju wilayah NTT, kami akan melakukan deviasi KM Binaiya ke Bontang dan Awerange. Sementara kapal perintis, kepadatan penumpang kami perkiraan terjadi di ruas Baranusa tujuan Kalabahi (Kepulauan Alor)," kata Dessy.

Penumpang kapal perintis KM Sabuk Nusantara 108 turun di Pelabuhan Menanga, Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur pada Selasa (1/11/2022). Mereka berlayar dengan kapal itu dari Kota Kupang.

Pada Nataru ini Pelni mengoperasikan 25 kapal penumpang ditambah 30 kapal perintis penugasan Kementerian Perhubungan. Kapasitas 25 kapal penumpang Pelni sebesar 48.323 seat yang melayani 72 pelabuhan. Adapun total kapasitas kapal perintis sebesar 11.889 untuk melayani 236 pelabuhan. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .