Pastikan rumah Anda siap ditinggal mudik agar tak risau selama libur Lebaran tahun ini. Awas, risiko kebakaran atau kejahatan bisa terjadi kapan saja.
24 Mar 2025 13:24 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Mudik aman dan Lebaran tenang bukan sekadar imbauan karena kebakaran atau kejahatan bisa terjadi kapan saja, baik sebelum, saat, maupun setelahnya. Pastikan rumah siap ditinggal dengan mencabut peralatan listrik, mematikan kompor dan mencabut regulator gas, serta menitipkannya kepada tetangga atau petugas keamanan.
Lebaran 2025 semakin dekat. Banyak warga sudah mulai mudik ke kampung halaman. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta pun menyarankan sejumlah langkah yang tepat agar mudik dan Lebaran berjalan lancar.
”Kami terus sosialisasi kepada masyarakat untuk memastikan rumah dalam keadaan aman sebelum ditinggalkan,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Satriadi Gunawan pada Senin (24/3/2025).
Beberapa hal yang harus diperhatikan warga yang akan mudik adalah memastikan semua steker terlepas dari stop kontak. Selain itu, pemudik perlu mematikan kompor dan mencabut regulator dari tabung gas.
Jangan lupa untuk melaporkan kepergian mudik kepada pengurus rukun tetangga/rukun warga atau petugas keamanan lingkungan. Lalu, titipkan kunci rumah kepada orang yang dipercaya atau tetangga sekitar.
Satriadi menyebut, ada 170 pos pemadam kebakaran yang siaga selama mudik dan Lebaran. Semua petugasnya siap sedia menunggu panggilan. ”Semua sudah kami atur. Cuti mereka ditunda agar tidak ada pos yang kosong,” kata Satriadi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/21/67cda947-abf5-4513-8538-a12a08e77443_jpg.jpg)
Hal ini bukan tanpa alasan. Sepanjang Ramadhan tahun 2024 atau periode 12 Maret sampai 9 April, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta menangani 144 kebakaran.
Jumlah ini turun 4 persen dibandingkan periode Ramadhan tahun 2023. Saat itu, petugas menangani 150 kebakaran.
Penurunan ini, lanjut Satriadi, bukan berarti kewaspadaan kendur. Justru harus terus meningkatkan antisipasi atau pencegahan.
”Penyebab kebakaran masih dominan dari masalah kelistrikan. Tahun 2024 ada 90 kejadian, disusul (faktor) gas 17 kejadian, rokok 6 kejadian, membakar sampah 3 kejadian, lilin 1 kejadian, dan lainnya 27 kejadian,” ujar Satriadi.
Salah satu kasus kebakaran itu terjadi di Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat, pada 6 April 2024. Kebakaran pada Sabtu malam itu menghancurkan 26 rumah yang dihuni 146 warga.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, warga terpaksa mengungsi ke tiga lokasi di dekat lokasi kebakaran. Adapun penyebab kebakaran diduga akibat korsleting di lantai dua salah satu bangunan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/10/d403997a-3531-41ad-bfa6-93e107523d08_jpg.jpg)
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara bertahap akan menambah jumlah petugas. Saat ini hanya ada 3.900 petugas dari kebutuhan 11.000 petugas penanggulangan kebakaran dan penyelamatan.
”Masih ada kekurangan yang cukup besar. Kami mengusulkan agar segera dilakukan penambahan personel,” kata Satriadi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan akan menambah petugas secara bertahap. Tambahan ini juga akan berdampak pada pos-pos di kelurahan yang baru mencakup 170 dari 267 kelurahan.
Tambahan itu terutama di daerah padat penduduk, seperti Tambora, Jakarta Barat. Sebab, daerah padat penduduk perlu langkah-langkah preventif untuk pencegahan kebakaran sejak dini.
”Melihat tantangan yang ada, saya akan membuka ruang untuk perekrutan tahun ini. Jumlahnya masih dikaji, tetapi saya pastikan tahun ini dibuka perekrutan,” kata Pramono seusai mengecek kesiapan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta pada Senin (24/3/2025) pagi.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti