Setelah mengantarkan Rizki Juniansyah hingga menggapai puncak prestasi, Muhammad Yasin berpulang. Lambaian tangan di PON Aceh-Sumut 2024 menjelma salam perpisahan.
19 Okt 2024 08:37 WIB · Olahraga
Oleh Rebiyyah Salasah - [email protected]
Dengan penuh rasa bahagia dan bangga, lifter Rizki Juniansyah memanggil Muhammad Yasin ke atas panggung lomba untuk merayakan keberhasilannya meraih medali emas PON Aceh-Sumut 2024, 7 September lalu. Siapa sangka, itu jadi momen terakhir Rizki dan sang ayahanda sekaligus pelatihnya tersebut merayakan kemenangan bersama-sama.
Lebih dari sebulan berselang, tepatnya Jumat (18/10/2024), Muhammad Yasin meninggal. Muhammad Yasin merupakan sosok sentral yang membentuk Rizki Juniansyah hingga mencapai puncak prestasi di Olimpiade Paris 2024. Yasin-lah ”penakluk” si lifter yang dikenal sebagai anak ”nakal” itu.
Muhammad Yasin tutup usia di kediamannya di Cipocok, Serang, Banten. Menurut keterangan sejumlah pihak, pria yang kerap disapa Pedro ini meninggal pukul 15.26 WIB karena kecelakaan sepeda motor saat melakukan touring di Ciomas, Kabupaten Serang, Banten.
Triyatno, kakak ipar sekaligus pelatih Rizki, membenarkan, almarhum Yasin mengalami kecelakaan saat bersepeda motor di Ciomas. Rizki juga ikut dalam rombongan itu. Touring memang hobi mereka. Setelah mengikuti Olimpiade Paris dan Pekan Olahraga Nasional, Rizki berjanji mengajak ayahnya melakukan touring.
Yasin sempat dilarikan ke rumah sakit seusai kejadian naas itu, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan.
Sebelum mengalami musibah itu, penyakit telah hinggap di tubuh Yasin. Atas alasan kesehatan, Yasin mundur sebagai pelatih Rizki Juniansyah di pemusatan latihan nasional pada awal tahun 2024. Sosoknya lantas digantikan oleh Triyatno, mantan lifter olimpian yang sekaligus kakak ipar Rizki.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/07/ee563e68-60ec-4e28-898a-eb25a1ea18fc_jpg.jpg)
Meski demikian, perubahan itu sebenarnya hanya status di atas kertas. Triyatno mengakui bahwa sebenarnya Yasin masih menjadi pelatih utama Rizki, hanya tidak lagi memantau latihan setiap hari secara langsung. Dalam melatih Rizki, Triyatno menggunakan program latihan yang disusun oleh Yasin.
”Bikin program latihan itu, kan, tidak mudah. Kadang ayahnya Iki (panggilan Rizki Juniansyah) harus berhari-hari menyusunnya. Namun, terbayarkan pas Iki bisa menjalankannya dengan baik dan sampai lolos ke Olimpiade,” kata ibunda Rizki, Yeni Rohaeni Durachim, sebelum Olimpiade Paris 2024.
Yeni berkata, Yasin memang sudah sejak lama membuat program latihan untuk Rizki lolos ke Olimpiade. Namun, targetnya ialah Olimpiade Los Angeles 2028. Target itu dinilai paling realistis, terlebih Rizki harus menjalani operasi usus buntu dan vakum latihan nyaris setengah tahun.
Namun, tekad kuat Rizki untuk mengejar kesempatan lolos ke Paris 2024 membuat Yasin juga yakin untuk membuatkan program latihan yang sesuai bagi anaknya. Rizki akhirnya tak hanya lolos, tetapi juga menorehkan sejarah dengan medali emas di Paris.
Yasin boleh saja absen pada momen emas Rizki Juniansyah di Paris. Rizki ditemani Triyatno, ibunda, dan kakaknya, Rizka Anjani Yasin. Namun, dari kejauhan, Yasin mengalirkan doa, dukungan, dan juga buah pikiran.
Yasin menyaksikan aksi sang anak dari Serang, Banten. Ia menggelar nonton bersama di lapangan dekat rumahnya. Saat sang anak memastikan medali emas pertama bagi Indonesia dari angkat besi, Yasin begitu bangga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/15/349e3a7c-fda4-4418-9302-d7a4b344bd70_jpg.jpg)
Selepas Olimpiade Paris 2024, tibalah Rizki tampil di PON Aceh-Sumut 2024. Level kedua ajang ini jelas berbeda. Namun, PON Aceh-Sumut 2024 istimewa karena menjadi momen pertama Yasin kembali menemani Rizki berkompetisi lagi.
Saat sesi pemanasan, Yasin menemani dan memantau Rizki sambil duduk di kursi. Adapun Triyatno dan Rizka turun langsung mengatur beban yang perlu diangkat oleh Rizki.
Sesudah memastikan medali emas di kelas baru PON sekaligus kategori berat yang pertama dijajalnya, 89 kilogram, Rizki mengajak Yasin ke atas panggung. Keduanya merayakan kesuksesan tersebut sekaligus memberi salam hormat kepada penonton yang memenuhi GOR Seuramoe, Banda Aceh, Aceh.
Aku di sini (meraih medali emas Olimpiade Paris 2024) berkat rencana yang sudah dibuat ayah. Hasil ini seperti yang sudah diprogramkan ayah, aku hanya mengikuti itu.
Dengan gaya khasnya, Rizki menangkupkan kedua tangan di depan dada. Bentuk penghormatan Rizki kepada juri dan penonton itu merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang diajarkan Yasin kepadanya sejak kecil.
Wajar jika kemudian Rizki berkali-kali selalu mengatakan bahwa orangtua adalah pilar utamanya meraih prestasi hingga ke puncak tertinggi. Rizki dekat dengan ibunya dan sangat menghormati ayahnya.
”Aku di sini (meraih medali emas Olimpiade Paris 2024) berkat rencana yang sudah dibuat ayah. Hasil ini seperti yang sudah diprogramkan ayah, aku hanya mengikuti itu,” ujarnya.
Rizki dikenal sebagai lifter ”nakal”. Banyak kebiasaan Rizki di luar kenormalan seorang atlet, terutama lifter. Atlet 21 tahun ini sering tidur larut, punya hobi ekstrem, seperti bermain motokros, dan makan ”sembarangan” karena kadar lemaknya bisa terjaga di bawah 5 persen.
Namun, Yasin mampu ”menaklukkan” si anak ”nakal” tersebut. Rizki pun segan kepada Yasin lantaran sang ayah sangat disiplin dalam melatihnya.
Yasin sempat memberikan opsi pada Rizki untuk menjadi atlet balap motor. Namun, Rizki memilih jalannya sendiri untuk menjadi seorang lifter. Dengan pilihan yang telah diambil itu, Yasin ingin Rizki berkomitmen penuh.
Maka, bagaimanapun keadaannya, Rizki tak pernah berani menawar atau mengeluh ketika dilatih oleh sang ayah. Yeni pernah berkata, Rizki hanya bisa memendam rasa lelahnya atau meluapkannya dengan menangis di toilet saat merasa begitu capek latihan.
Yasin sendiri memiliki pengetahuan luas soal angkat besi karena juga pernah menjadi seorang lifter nasional. Pria kelahiran Bandung, 28 Maret 1966, itu tercatat peraih perunggu di kelas 82 kg SEA Games Bangkok 1984 di Thailand dan SEA Games Jakarta 1987 di Indonesia.
”Dalam mempelajari ilmu kepelatihan, almarhum sangat berbakat. Sejak Rizki kecil, dia langsung menerapkan ilmunya,” kata Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) Hadi Wihardja mengenang yuniornya di pelatnas itu.
Kini, Muhammad Yasin telah berpulang. Seperti beban yang ia ajarkan untuk diangkat dengan kekuatan, begitu pula semangatnya yang terus mengangkat Rizki hingga menuju puncak kejayaan. Dalam kepergian Yasin, sebuah cahaya tetap menyala, menerangi jalan Rizki yang telah ia bukakan sebelumnya….
Catatan redaksi:
Yasin tutup usia karena kecelakaan, bukan sakit seperti disebutkan sebelumnya.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan