RAMADHAN 2026

Muhammadiyah Minta Umat Arif Bijaksana Sikapi Potensi Perbedaan Awal Ramadhan

Puasa Ramadhan diharapkan menjadi ”kanopi sosial” yang meredam konflik dan memperkuat kerekatan masyarakat di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi.

17 Feb 2026 15:44 WIB · Politik & Hukum

KOMPAS

Oleh Iqbal Basyari

JAKARTA, KOMPAS — Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengingatkan umat Islam untuk menjaga toleransi dan tidak saling menyalahkan dalam menyikapi perbedaan awal Ramadhan 1447 Hijriah. Perbedaan penetapan awal puasa merupakan bagian dari dinamika ijtihad yang lazim terjadi.

Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu (18/2/2026) sehingga warga Muhammadiyah akan mulai menjalankan ibadah puasa pada esok hari. Sementara itu, penetapan awal Ramadhan oleh pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama masih menunggu hasil rukyat sehingga terdapat kemungkinan perbedaan awal puasa.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, perbedaan awal Ramadhan kerap muncul baik di Indonesia maupun di dunia Islam. Hal ini disebabkan belum adanya kalender Islam tunggal yang disepakati bersama. Selama kondisi itu masih berlangsung, potensi perbedaan itu kemungkinan besar akan terus terjadi.

Menurut dia, perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah, seperti hisab dan rukyat, merupakan bagian dari khazanah pemikiran Islam. Oleh karena itu, umat diminta menyikapinya secara arif dan bijaksana.

”Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain dan tidak merasa paling benar sendiri. Perbedaan harus disikapi dengan arif bijaksana,” kata Haedar melalui keterangan tertulis, Selasa (17/2/2026).

Quote

Puasa harus menjadi kanopi sosial kita.

Tinggi hilal awal Ramadhan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026) yang bertepatan dengan 29 Syakban 1447. Saat Matahari terbenam, hilal masih dibawah ufuk sehingga ketinggiannya negatif. Dengan demikian, umur bulan Syakban akan digenapkan 30 hari dan 1 Ramadhan versi Pemerintah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, dan organisasi massa Islam lain diperkirakan jatuh pada Kamis (19/2/2026).

Puasa, menurut Haedar, pada dasarnya bertujuan meningkatkan ketakwaan, baik secara pribadi maupun kolektif. Oleh karena itu, umat Islam diminta memfokuskan diri pada hal-hal substantif, yakni bagaimana puasa benar-benar mengantarkan setiap Muslim menggapai ketakwaan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan, serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.

Melalui peningkatan ketakwaan kepada Tuhan, ia berharap relasi sosial kemasyarakatan juga semakin baik. Ketakwaan tidak hanya berdampak pada kualitas spiritual, tetapi juga mendorong umat untuk menebar kebaikan bagi sesama dan lingkungan.

Ia menegaskan, berbagai persoalan tidak seharusnya mengganggu tujuan utama mencapai takwa. Dengan bekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam diyakini dapat meraih derajat kemuliaan yang lebih tinggi.

Haedar juga berpesan agar puasa Ramadhan 1447 H dijalankan dengan tenang, damai, dan penuh kematangan sikap. Ia mengingatkan agar umat tidak terganggu oleh hiruk-pikuk kehidupan, termasuk perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan.

”Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” tuturnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

Haedar melanjutkan, puasa Ramadhan diharapkan dapat menjaga dan memperbaiki akhlak harian ataupun akhlak publik seorang Muslim. Pada akhirnya, puasa menjadi wahana perbaikan karakter sekaligus peningkatan kemampuan umat Islam untuk menjadi umat terbaik.

Menurut Haedar, jika umat Islam tidak berupaya naik kelas menjadi umat terbaik, kejayaan dan martabat akan sulit diraih, termasuk dalam perlombaan membangun peradaban yang maju. Oleh karena itu, umat tidak boleh bersikap fatalis atau sekadar menyerah pada nasib, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi yang masih memerlukan perjuangan dan kerja keras agar dapat setara dengan peradaban lain.

”Meraih kualitas hidup umat Islam terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan sebagainya. Dan, itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi,” tuturnya.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, Haedar menekankan, umat Islam harus menjadi perekat sosial. Puasa akan melatih setiap Muslim untuk menahan diri, termasuk ketika menghadapi ajakan berkonflik atau bertengkar.

Anak-anak yang turut mengantre bersama orangtuanya untuk mendapatkan nasi kota sebagai menu buka puasa di Gereja Santa Theresia Bongsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/3/2025). Pembagian makan untuk berbuka puasa ini merupakan bagian dari kegiatan sosial rutin gereja bagi warga sekitar dan orang tidak mampu. Program Piring Kasih yang ini juga merupakan wujud kepedulian sosial dan membangun kebersamaan antarumat beragama. 

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
13-03-2025
 *** Local Caption ***

Haedar mengingatkan, puasa tidak sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan nafsu dan hasrat yang dapat merusak kerekatan sosial. Sikap sabar dan pengendalian diri menjadi bagian penting dari nilai yang dilatih selama Ramadhan. Terlebih di era media sosial yang kerap memancing amarah, kebencian, dan perselisihan, puasa seharusnya menjadi tameng untuk menahan hawa nafsu agar tidak lepas kendali.

”Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka, puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” kata Haedar.

Menurut Haedar, seorang Muslim yang menjalankan puasa harus mampu menempatkan diri sebagai agen yang menebar damai dan kebaikan, sekaligus menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Ramadhan, pada akhirnya, diharapkan menjadi momentum untuk mencapai kemajuan hidup yang selaras dengan substansi takwa.

”Takwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek yang lain menuju peradaban utama,” ujarnya.

Para jemaah mulai berdatangan untuk melaksanakan shalat Tarawih pertama Ramadhan 1443 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (2/4/2022). Pemerintah menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1443 Hijriah jatuh pada Minggu (3/4/2022). Shalat Tarawih tersebut merupakan yang pertama kali diadakan pada masa pandemi Covid-19 dengan kapasitas penuh dan tanpa jarak. KOMPAS/RADITYA HELABUMI (RAD) 02-04-2022

Sementara itu, Kementerian Agama menggelar sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1447 H pada Selasa di Hotel Borobudur, Jakarta. Sidang isbat merupakan forum resmi pemerintah untuk menetapkan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijah.

Sejak 1950-an, sidang ini diselenggarakan sebagai upaya negara menyatukan penentuan awal bulan Hijriah sekaligus menjembatani perbedaan pandangan di antara organisasi kemasyarakatan Islam. Dalam forum tersebut, pemerintah menghimpun laporan hisab atau perhitungan astronomi serta hasil rukyat atau observasi hilal dari berbagai titik pemantauan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan seminar posisi hilal pada pukul 16.30 WIB yang menghadirkan pakar astronomi dan ahli falak. Sidang isbat dilaksanakan secara tertutup pada pukul 18.30 WIB, sedangkan hasilnya diumumkan melalui konferensi pers sekitar pukul 19.05 WIB.

Sidang dihadiri perwakilan duta besar negara sahabat, Komisi VIII DPR, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia, serta para ahli dari BMKG dan BRIN. Hadir pula akademisi, perwakilan planetarium, Tim Hisab Rukyat Kemenag, pakar falak dari berbagai ormas Islam, serta pimpinan pondok pesantren.

Warga membawa obor saat mengikuti pawai menyambut Ramadhan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2026). Menjelang Ramadhan sebagian masyarakat menyambut bulan suci bagi umat Islam tersebut dengan menggelar pawai obor. Pawai obor ini diikuti sejumlah remaja dan anak-anak dengan menggunakan pakaian muslim serta membawa poster bertemakan Ramadhan. Penentuan tanggal 1 Ramadhan akan ditentukan pada sidang isbat 17 Februari mendatang.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
14-02-2026

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat mengatakan, sidang isbat merupakan bentuk sinergi antara pemerintah, ulama, dan ilmuwan. Forum tersebut memastikan penetapan awal Ramadhan dilakukan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun syar’i.

”Sidang isbat adalah forum bersama untuk memverifikasi data hisab dan hasil rukyat sebelum pemerintah menetapkan awal Ramadhan. Keputusan yang diambil harus memiliki dasar ilmiah sekaligus sesuai dengan ketentuan syariat,” ujar Arsad.

Arsad menambahkan, Kemenag berkomitmen menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam proses penetapan tersebut. Melalui sidang isbat, seluruh data diverifikasi bersama agar keputusan yang dihasilkan menjadi pedoman bagi umat Islam di Indonesia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iqbal Basyari
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto