Ramai-ramai Mundur Karena Epstein

Begitu banyak orang disebut dalam berkas kasus Jeffrey Epstein. Sebagian sudah mundur, sebagian membela diri soal hubungan dengan jaringan paedofilia Epstein.

05 Feb 2026 10:15 WIB · Internasional

House Oversight Democrats / AFP

Oleh Helena Fransisca Nababan

NEW YORK, KAMIS — Begitu banyak tokoh disebut dalam berkas terkait pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Sebagian hanya disebut, sebagian lagi terekam berhubungan intensif dengan Epstein. Pembahasan mereka antara lain seputar paedofilia.

Nama-nama terkait ada yang mengundurkan diri dari jabatannya, membantah pernah berteman, ataupun menyesali pertemanan. Ada juga orang yang dipecat setelah namanya muncul di berkas.

David A Ross menjadi salah satu sosok penting yang mengundurkan diri dari jabatannya setelah namanya muncul dalam berkas Epstein. Ross merupakan kurator dan direktur museum seni yang juga menjabat sebagai ketua program praktik seni MFA School of Visual Arts di New York.

A document that was included in the U.S. Department of Justice release of the Jeffrey Epstein files, photographed Wednesday, Feb. 4, 2026, shows an April 2012 International Driving Permit for Epstein. (AP Photo/Jon Elswick)

School of Visual Arts, merujuk pemberitaan The Associated Press (AP), Kamis (5/2/2026), menyatakan, Ross mengundurkan diri pada Selasa (3/2/2026). Sekolah seni itu menyatakan ada korespondensi antara Ross dan Epstein.

Halaman daring Ross di sekolah tersebut tidak dapat diakses mulai Rabu. Adapun pengunduran diri itu pertama kali dilaporkan oleh ARTnews. Kepada ARTNews, Ross membenarkan bertemu Epstein pertama kali sekitar 30 tahun lalu.

Saat itu, ia menjabat sebagai direktur Whitney Museum of American Art di New York. Manajemen Whitney Museum memberi tanggapan atas isu itu. ”Bagian dari pekerjaan saya adalah berteman dengan orang-orang yang memiliki kapasitas dan minat untuk mendukung museum,” tulis Ross kepada ARTNews.

Selain di Whitney, Ross pernah menjabat di Museum Seni Modern San Francisco, Institut Seni Kontemporer di Boston, Museum Seni Berkeley, dan Museum Seni Long Beach.

Dalam salah satu rangkaian korespondensi mereka, Epstein-Ross membahas pameran soal anak dan orang muda di bawah umur 25 tahun. Pembahasan terjadi pada 2009.

Waktu itu, Epstein mengusulkan sebuah pameran berjudul ”Statutory”. Pameran itu menampilkan ”anak perempuan dan laki-laki berusia 14-25 tahun” yang penampilannya sama sekali tidak sesuai dengan usia sebenarnya.

Ross menjawab surel itu dengan menulis, ”Anda luar biasa”. Dalam surel itu juga terdapat catatan tentang artis Brooke Shields yang berpose telanjang pada usia 10 tahun.

This undated, redacted photo released by the U.S. Department of Justice, shows Donald Trump. (U.S. Department of Justice via AP)

Ross juga masih mendukung Epstein ketika ia diselidiki lagi pada 2019. Kepada ARTnews, Ross menyatakan, ia menghubungi Epstein untuk memberikan dukungan.

Akan tetapi, setelah pengungkapan dokumen oleh Departemen Kehakiman pada Jumat (30/1/2026), Ross berkata lain. ”Itu adalah kesalahan penilaian yang mengerikan. Ketika kenyataan kejahatannya menjadi jelas, saya sangat malu dan tetap merasa bersalah karena telah tertipu oleh kebohongannya,” tulis Ross.

Sebelum digelar penyelidikan pada 2019, Epstein pada 2008 pernah dihukum di Florida. Ia dipenjara 13 bulan setelah mengaku bersalah atas dua tuduhan prostitusi di Negara Bagian Florida, AS.

Selain Ross, nama terkemuka lain yang terseret dalam dokumen Epstein di antaranya adalah mantan Presiden AS Bill Clinton dan Presiden AS Donald Trump. Namun, keduanya mengatakan mereka sudah memutus hubungan dengan Epstein bertahun-tahun sebelum kejahatan dan dugaan pelanggaran yang belum diadili terungkap.

Baik Clinton ataupun Trump mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa pun tentang hal itu. Keduanya tidak pernah didakwa secara pidana terkait dengan Epstein dan pihak berwenang belum mengajukan bukti pelanggaran apa pun.

Luar negeri

Jaringan Epstein juga merambah ke luar negeri. Salah satu nama yang terseret dan akhirnya dipecat adalah Peter Mandelson.

Mandelson merupakan mantan menteri Inggris. Ia dipecat sebagai duta besar Inggris untuk Washington karena hubungannya dengan Epstein.

Sekarang ia menghadapi penyelidikan kriminal. Dakwaannya pembocoran informasi pemerintah yang sensitif terhadap pasar. Bocoran itu dikirim Mendelson ke temannya di tengah krisis keuangan.

Informasi itu disebutkan akan sangat berharga bagi kontak Epstein di Wall Street. Skandal ini mengancam pemerintahan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang melemah.

Kisah Epstein juga mengguncang keluarga Kerajaan Inggris. Mantan Pangeran Andrew sudah menyelesaikan kasus pelecehan seksual dengan mendiang Virginia Giuffre, yang menjadi korban perdagangan manusia oleh Epstein.

Pengungkapan yang terus berlanjut menyebabkan Raja Charles III mencabut gelar kerajaan Andrew. Raja mengasingkan Andrew ke perkebunan kerajaan terpencil. Starmer mengatakan, Andrew Mountbatten-Windsor (sebelumnya Pangeran Andrew) harus bersaksi di hadapan Kongres AS.

This video grab taken from footage broadcast by the UK Parliamentary Recording Unit (PRU) via the Parliament TV website on February 4, 2026 shows Britain's Prime Minister Keir Starmer (R) speaking in the House of Commons at parliament in London. Starmer said on February 4 in parliament he regretted appointing Peter Mandelson as US ambassador, as the UK leader faced growing pressure over fresh revelations about the politician's close ties to Jeffrey Epstein. (Photo by Handout / PRU / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - NO USE FOR ENTERTAINMENT, SATIRICAL, ADVERTISING PURPOSES - MANDATORY CREDIT " AFP PHOTO / PRU "

Selain nama-nama tersebut, masih terdapat nama-nama pesohor, orang penting dan berpengaruh lainnya yang terseret. Mereka kemudian beramai-ramai membantah atau menyatakan penyesalan.

Akan tetapi, sikap-sikap tersebut justru memunculkan pertanyaan. CNN menyoroti, nama-nama yang mengenal Epstein pasti memiliki pengalaman mereka sendiri. Namun, sulit dipercaya bahwa sejumlah orang paling berpengaruh di dunia yang bergaul dengannya tidak mencurigai kecenderungan Epstein sama sekali.

Gagasan bahwa tidak ada yang tahu apa pun tampaknya sulit dipercaya. Sikap-sikap itu memunculkan banyak pertanyaan, antara lain apakah orang-orang di lingkaran Epstein sengaja menutup mata?

Jika demikian, gugatan yang muncul adalah utang apa yang sekarang mereka miliki kepada para korban yang hidupnya telah berubah selamanya? Apa kewajiban yang dimiliki orang-orang berkuasa terhadap mereka yang memiliki sedikit atau tanpa kekuasaan, seperti gadis-gadis muda yang dipaksa untuk memberikan layanan seksual untuk Epstein? (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra