Mungkinkah Iran Blokade Selat Hormuz?

Jika terjadi blokade laut, kapal-kapal tanker tidak bisa melewati selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Selat Oman serta menuju Laut Arab dan Samudra Hindia.

20 Jun 2025 17:00 WIB · Artikel Opini

Oleh Marsetio

Perang Iran versus Israel kini semakin mengkhawatirkan. Eskalasinya melebar ke berbagai aspek kehidupan dunia, terutama jika Iran benar-benar melaksanakan niatnya untuk memblokade Selat Hormuz yang merupakan jalur vital angkutan minyak dunia.

Sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari diangkut kapal-kapal tanker raksasa dari ladang-ladang minyak di Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Iran, melalui selat ini, untuk konsumsi global.

Jika terjadi blokade laut, kapal-kapal tanker tidak bisa melewati selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Selat Oman serta menjadi akses menuju Laut Arab dan Samudra Hindia itu.

Apabila itu terjadi, krisis energi dan melambungnya harga minyak dunia tidak terhindarkan. Negara-negara di Eropa, Amerika, dan Asia akan terkena dampaknya, sebab 30 persen perdagangan minyak dunia diangkut melalui Selat Hormuz yang strategis.

Tujuan blokade Iran adalah menjadikan perang bereskalasi ke tingkat global dengan menyeret negara-negara lain terlibat dalam perang tersebut.

Pada bagian lain, krisis minyak akan semakin memuncak bila milisi Houthi dari Yaman, yang merupakan satelit Iran, turut meramaikan perang. Houthi diduga akan meningkatkan aksi-aksinya di Laut Merah dengan terus menyerang kapal-kapal yang terafiliasi Israel, Amerika Serikat, dan sekutunya.

Selama ini Houthi sudah melancarkan aksi-aksi tersebut sebagai tanggapan atas genosida Israel di Jalur Gaza yang telah memakan korban jiwa 55.000 warga Palestina sejak Oktober 2023.

Blokade Selat Hormuz dan aksi Houthi di Laut Merah tampaknya menjadi salah satu yang diperhitungkan AS sehingga negara itu menugaskan gugus tempur lautnya ke Timur Tengah.

Kapal induk nuklir Amerika Serikat, USS Nimitz, yang berada di Asia Pasifik, sudah meninggalkan perairan Laut China Selatan menuju Laut Merah, dan membatalkan acara seremonialnya di Danang, Vietnam.

Blokade Selat Hormuz

Amerika Serikat mengantisipasi kemungkinan terjadinya blokade laut yang mungkin akan dilakukan Iran. Meskipun AS menyatakan tidak terlibat dalam serangan yang dilakukan Israel terhadap Iran pada 13 Juni 2025, kini AS bertindak cepat dalam mengantisipasi keadaan dengan mengirim gugus tugas kapal induk nuklirnya ke Laut Arab.

Sebelum perang meletus, kapal induk nuklir USS Carl Vinson sudah lebih dulu berada di Laut Arab, sementara kapal induk terbaru, USS Gerald Ford, telah bertolak dari Pantai Timur AS menuju Timur Tengah.

Dengan demikian, saat ini terdapat tiga kapal induk AS di sana. Kehadiran kapal-kapal induk AS di Laut Arab sesungguhnya dapat dibaca sebagai sinyal kuat AS untuk menjaga kepentingannya di Timur Tengah.

Namun, keberadaan unsur tempur laut AS pada perang Iran-Israel sesungguhnya tidak hanya sebatas untuk mengantisipasi blokade Selat Hormuz, tetapi bisa lebih dari itu: suatu langkah strategis dalam mendukung sekutu utamanya, Israel, yang berupaya melenyapkan kemampuan nuklir Iran.

Peta lokasi Selat Hormuz

Pertanyaannya adalah apakah Iran benar-benar akan mewujudkan rencananya memblokade Selat Hormuz? Jika itu terjadi, perang akan meluas, bukan hanya melibatkan AS, tetapi juga negara-negara Teluk yang merasa dirugikan dengan blokade Selat Hormuz.

Negara-negara Eropa bisa jadi juga akan ikut meramaikan teater pertempuran dengan menghadirkan gugus tempur laut Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), terutama Angkatan Laut Inggris, Perancis, dan Italia.

Sesungguhnya, AS mendapat momentum untuk menyerang Iran bila blokade Selat Hormuz betul-betul terjadi. Satuan kapal induk AS akan menggagalkan blokade tersebut.

Angkatan Laut Iran tidak memiliki kemampuan yang seimbang dalam menghadapi tiga kapal induk AS yang kekuatannya sulit ditandingi.

Dengan demikian, kehadiran tiga kapal induk AS di wilayah perang adalah realitas yang menguatkan dugaan bahwa AS lambat atau cepat akan ikut dalam perang tersebut.

Bila rudal kapal sudah beraksi, pesawat tempur sudah lepas landas dari geladak, perang dengan skala besar semakin sulit dihindarkan. Selanjutnya, tidak ada jaminan AS hanya akan menggagalkan aksi blokade Selat Hormuz, tetapi bisa jadi melangkah lebih jauh sebagaimana pernah dilakukan negara itu saat melancarkan kampanye militer di Irak, Vietnam, ataupun Afghanistan.

Dengan tiga kapal induk yang masing-masing bisa membawa sampai 70 pesawat tempur, serta dukungan pangkalan militer AS di Bahrain, Mesir, Jordania, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, tentu merupakan kekuatan yang mumpuni untuk melancarkan serangan ke Iran. Lalu apakah Iran semudah itu bisa ditundukkan?

Ancaman Trump

Ancaman yang disampaikan Presiden AS Donal Trump agar Iran menyerah tanpa syarat kepada Israel telah dijawab pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan menyanggah seruan Trump tersebut.

Presiden Trump juga melontarkan ancaman untuk melenyapkan Khamenei. Apakah itu merupakan sinyal terbaru dari AS untuk segera melakukan serangan pembuka dengan atau tanpa adanya blokade Selat Hormuz? Jika ya, ini adalah tragedi kemanusiaan yang kembali terulang.

Tidak ada jaminan bahwa perang tersebut tidak menyeret negara-negara lain untuk ikut terlibat di sana.

Perang di Rusia-Ukraina belum reda, genosida di Jalur Gaza juga belum bisa dihentikan, kini bertambah lagi mandala baru di Timur Tengah. Padahal, perang selalu menimbulkan kesengsaraan bagi umat manusia.

Perang adalah sumber penderitaan umat manusia. Oleh sebab itu, upaya penghentian perang Iran-Israel merupakan tindakan segera yang seharusnya dilakukan oleh berbagai pihak.

Dalam konteks seperti itu, Indonesia sebagai salah satu negara yang punya pengaruh pada Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bisa mengambil inisiatif untuk menyuarakan perlunya gencatan senjata bagi pihak yang berperang serta seruan bagi AS dan sekutunya untuk menahan diri, tidak melibatkan diri dalam perang tersebut.

Marsetio, Guru Besar Universitas Pertahanan, Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut


Kerabat Kerja

Penulis:

Marsetio
 | 

Editor:

Sri Hartati Samhadi, Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji