Borobudur Marathon digelar pada 1 Desember 2024. Sebanyak 10.500 pelari akan berpacu untuk menyelesaikan dan mencatatkan waktu terbaik di ajang ini.
25 Nov 2024 16:00 WIB · Olahraga
Pernah menjadi finisher Borobudur Marathon, berapa waktu Anda untuk menyelesaikannya? Catatan waktu terbaik pada lomba yang diselenggarakan Kompas bekerja sama dengan Bank Jateng ini adalah 2 jam 19 menit 35 detik yang diukir pelari Kenya, Geoffrey Birgen, pada 2019.
Bagi sebagian besar orang, menyelesaikan maraton di bawah cut off time (COT) saja sudah menjadi pencapaian luar biasa, apalagi jika bisa mendekati catatan rekor tercepat tersebut. Untuk Borobudur Marathon 2024, COT-nya adalah tujuh jam.
Bagaimana jika catatan waktu itu dibandingkan dengan rekor dunia maraton? Rekor dunia lari berjarak 42,195 kilometer (26 mil 385 yard) saat ini dipegang oleh Kelvin Kiptum dengan waktu 2 jam 35 detik.
Upaya manusia kini adalah untuk mempertajam rekor itu secara resmi atau diakui oleh badan atletik dunia, World Athletic. Rekor lari maraton yang diakui World Athletic semakin dekat dengan waktu dua jam, tetapi belum ada atlet yang mampu menembus waktu di bawah dua jam.
Rekor Kiptum diukir pada 8 Oktober 2023 saat ajang Chicago Marathon. Pelari asal Kenya yang diharapkan mampu menembus waktu di bawah dua jam ini meninggal karena kecelakaan mobil pada 11 Februari 2024 dalam usia 24 tahun. Belum ada lagi pelari maraton dunia yang waktunya mendekati catatan Kiptum.
Empat tahun sebelum rekor Kiptum, sejarah sebenarnya dicatatkan oleh Eliud Kipchoge yang berhasil menembus waktu maraton di bawah dua jam. Hanya saja, capaian itu tidak diakui sebagai rekor resmi World Athletic karena upaya untuk meraihnya dilakukan secara khusus, bukan sebagai lomba seperti biasa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/12/67dfc920-4ece-4a4c-aa49-942ef0bcdaea_jpg.jpg)
Usaha untuk menembus waktu di bawah dua jam oleh Kipchoge dilakukan pada ajang yang disebut INEOS 1:59 Challenge. INEOS adalah perusahaan milik Sir Jim Ratcliffe, yang juga menguasai saham minoritas klub Liga Inggris, Manchester United.
Kipchoge mencatatkan waktu 1 jam 59,40 detik, yang membuktikan bahwa manusia bisa berlari maraton di bawah dua jam, dengan kondisi yang ideal. Sejarah sebagai manusia yang berlari maraton di bawah dua jam itu diukir di Vienna, Austria, pada 12 Oktober 2019.
Untuk mencatatkan waktu tersebut, Kipchoge tidak melakukan secara ”normal” layaknya perlombaan maraton di Olimpiade atau lomba-lomba maraton lainnya. Pelari asal Kenya ini mendapat perlakuan dan bantuan khusus dengan jumlah tim yang sangat banyak.
Bahkan, kondisi cuaca saat dan lokasi lintasan berlari juga dicari yang ideal sehingga catatan waktu itu memungkinkan. Menurut laman INEOS 1:59 Challenge, saat Kipchoge berlari yang dimulai pada pagi pukul 08.15, kondisi cuaca di Vienna tercatat bersuhu 9 derajat celsius dan kecepatan angin berkisar 0,5-1,5 kilometer per detik.
Lokasi lintasan berlari juga dipilih di tempat yang memiliki jalan datar lurus memanjang. Lokasi yang dipilih juga yang memungkinkan lintasan yang ditempuh Kipchoge mendapatkan perlindungan dari terpaan angin.
Banyak atlet terlibat dalam tantangan INEOS ini. Namun, mereka tidak berlari untuk menjadi lawan Kipchoge, tetapi justru membantunya dengan berperan sebagai pacemaker atau pacer. Selain itu, Kipchoge juga didukung sembilan orang yang tergabung dalam tim performa inti, pelatih, ahli nutrisi, dokter, hingga fisioterapis. Ia mendapat rehidrasi secara khusus sepanjang berlari.
Sebanyak 41 pelari bertugas membantu Kipchoge sebagai pacemaker, yang terdiri dari sejumlah pelari jarak menengah dan jauh terbaik dunia saat itu. Tugas mereka adalah membantu Kipchoge menentukan irama pace atau kecepatan ideal agar waktu di bawah dua jam bisa ditembus.
Para pacemaker itu berasal dari beberapa negara, seperti Kenya, Australia, Uganda, Ethiopia, Jepang, Amerika Serikat, dan Swiss. Mereka, antara lain, adalah Thomas dan Joel Ayeko (Uganda), Selemon Barega (Ethiopia), Emmanuel Bett (Kenya), dan Hillary Bor (AS).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/10/0a33190e-ef7b-4421-913c-fc4f19769399_jpg.jpg)
Kipchoge berlari dengan kecepatan yang konsisten karena dibantu pacemaker dan penunjuk waktu elektrik di mobil yang juga berperan sebagai pacer. Namun, gara-gara salah hitung kecepatan mobil pacer, upaya Kipchoge menembus batas dua jam hampir gagal. Beruntung tim menyadari mobil berjalan terlalu lambat sehingga kemudian dilakukan koreksi.
Rata-rata kecepatan Kipchoge adalah 2 menit 50 detik per kilometer. Setiap kilometer ia membutuhkan waktu 2 menit 48 detik hingga 2 menit 52 detik.
Dengan segala kondisi ideal dan bantuan tersebut, Kipchoge melintasi garis finis dengan waktu 1 jam 59 menit 40 detik. Pencapaian Kipchoge disetarakan dengan torehan sejumlah nama besar atletik lain, seperti Sir Roger Bannister, yang menjadi manusia pertama kali berlari 1 mil di bawah empat menit dan Usain Bolt yang berlari 100 meter dengan rekor 9,58 detik yang bertahan sejak 2009.
Saya memperkirakan lebih banyak orang di seluruh dunia akan berlari kurang dari dua jam setelah hari ini.
Kipchoge memperkirakan, akan semakin banyak atlet yang akan berlari maraton di bawah dua jam di masa depan. ”Sungguh luar biasa membuat sejarah dalam olahraga setelah Sir Roger Bannister pada 1954. Saya memperkirakan lebih banyak orang di seluruh dunia akan berlari kurang dari dua jam setelah hari ini,” kata Kipchoge dikutip laman INEOS 1:59 Challenge.
Kipchoge tak lupa menyebut jasa pacemaker yang membuatnya memungkinkan mencatatkan sejarah. ”Para pacemaker melakukan pekerjaan luar biasa. Mereka adalah para pelari terbaik dunia. Saya berterima kasih dan sangat mengapresiasi karena mau melakukan pekerjaan ini,” ujarnya.
Meskipun banyak tim yang membantu, menembus batas dua jam ini tidak mudah. Pada 6 Mei 2017, Kipchoge juga melakukan hal serupa dalam proyek yang dilakukan Nike bernama Breaking2.
Meskipun juga melibatkan pacemaker, ilmuwan, pelatih dan semua hal yang bisa membantunya, Kipchoge tetap gagal menembus dua jam. Ia ”hanya” mencatatkan waktu 2 jam 25 detik.
Faktor penyebab kegagalan itu diperkirakan karena temperatur dan kelembapan di lintasan lari di Monza, Italia, yang lebih tinggi dari kondisi ideal. Menurut studi, suhu ideal adalah 4 derajat celsius dan peningkatan 10 derajat celsius membuat kecepatan turun 1,4 persen. Saat upaya Kipchoge, temperatur setempat 11 derajat celsius.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/27/713de8e4-9836-4a31-acf0-2b601ee0a401_jpg.jpg)
Manusia kian menajamkan catatan waktu maraton ini lomba lari jarak jauh ini dilombakan di Olimpiade modern pada 1896. Hanya saja, jarak tempuh maraton yang saat ini, baru distandardisasi mulai tahun 1921. Pada Olimpiade 1896, jarak tempuh maraton waktu itu 40 kilometer, yang dimenangi atlet Yunani, Spiridon Louis, dengan catatan waktu 2 jam 58 menit 50 detik.
Atlet maraton kini kian dekat dengan waktu dua jam. Sebelum Kiptum, Kipchoge adalah pemegang rekor dunia dengan catatan waktu 2 jam satu menit 39 detik yang dicatatkan pada Berlin Marathon 2018. Ia kemudian memecahkan rekor itu menjadi 2 jam 1 menit 9 detik yang juga diukirnya di Berlin Marathon pada 2023.
Untuk rekor maraton Indonesia, sampai saat ini masih dipegang oleh Eduardus Nabunome dengan catatan waktu 2 jam 19 menit 18 detik yang dicatatkan pada PON DKI Jakarta 1997.
Tidak mudah untuk mendekati catatan lari Eduardus. Pada maraton PON Aceh-Sumut 2024 misalnya, pelari Jabar Rikki Marthin Simbolon, meraih emas dengan catatan waktu ”hanya” 2 jam 26 menit 27 detik.
Dari perkiraan cuaca BMKG, suhu udara di Borobudur saat pelaksanaan Borobudur Marathon, Minggu (1/12/2024), sekitar pukul 04.00-13.00 WIB adalah 22 derajat celsius hingga 24 derajat celsius. Adapun Accuweather memperkirakan, suhu terendah 21 derajat celsius dan tertinggi 31 derajat celsius.
Degan kondisi tersebut, semoga pada Borobudur Marathon 2024 akan ada atlet elite yang mampu mendekati catatan waktu Eduardus atau bahkan memecahkannya. Berapa target waktu Anda?
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Antonius Tomy Trinugroho