Murid Wajib Belajar Bahasa Inggris, tetapi Gurunya Belum Mumpuni

Kemendikdasmen mencatat banyak guru masih level dasar dalam penguasaan bahasa Inggris. Padahal, mata pelajaran Bahasa Inggris akan diwajibkan mulai tahun 2027.

12 Feb 2025 17:46 WIB · Humaniora

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Belajar hingga menguasai bahasa Inggris menjadi kewajiban bagi tiap anak zaman sekarang. Karena itu, guru harus memiliki kompetensi yang mumpuni agar bisa mendidik sumber daya manusia unggul berperspektif global. Namun, banyak guru belum memiliki kemampuan berbahasa Inggris.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengutarakan, setiap murid harus menjadi seseorang yang religius, empati, kritis, kreatif, kolaboratif, proaktif, sehat, dan berkomunikasi dengan efektif.

Oleh karena itu, komunikasi dalam bahasa Inggris menjadi sangat penting dalam dunia global saat ini. Hal ini bertujuan untuk membuka peluang baru, mengakses informasi, dan memperluas pemahaman budaya.

Untuk mencapai hal itu, Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum Jenjang PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah menetapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai tahun ajaran 2027/2028. Ini akan disempurnakan dalam kurikulum baru yang tengah digodok.

”Kami sangat antusias dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) di sekolah. Cara belajar penuh perhatian (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful),” kata Mu’ti dalam forum Asia Pacific Leadership Summit 2025 yang digelar Cambridge University Press and Assessment, di Jakarta, Rabu (12/2/2025).

Namun, harapan itu menemui tantangan karena belum semua guru di Indonesia memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, apalagi untuk mengajarkannya kepada para murid. Data Kemendikdasmen menunjukkan, banyak guru berada di level dasar hingga menengah dalam penguasaan bahasa Inggris.

Quote

Tantangan pendidikan bahasa adalah banyaknya jumlah anak di kelas. Ini membuat pelajaran bahasa menjadi membosankan.

Studi berjudul ”Development of Continuing Professional Development (CPD) programme models for in-service primary and secondary English language teachers in Indonesia: Needs analysis – findings and recommendations” yang dibuat British Council tahun 2024 menyoroti tantangan utama yang dihadapi para guru serta peluang pengembangan profesional mereka.

Tantangan ini mencakup keterbatasan akses ke program Pengembangan Profesional Berkelanjutan (CPD), hambatan partisipasi sosial ekonomi dan jender, serta kebutuhan akan peningkatan literasi digital.

Anak-anak belajar bahasa Inggris bersama relawan di Rita Home Library di Ciumbeleuit, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (19/1/2025).

Data yang dikumpulkan dari berbagai wilayah di Indonesia bagian barat, tengah, dan timur memberikan wawasan dan rekomendasi untuk perumusan kebijakan yang lebih efektif serta desain program CPD yang lebih baik di masa mendatang.

”Kami berkomitmen untuk meningkatkan kemahiran mereka ke tingkat lebih tinggi, yakni B2 (intermediate) dan C1 (advanced), sehingga kami dapat terus meningkatkan proses belajar mengajar di seluruh sekolah,” tutur Mu’ti.

Posisi Indonesia

Survei Indeks Kemampuan Bahasa Inggris yang dirilis Education First (EF) pada 2024 juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi 80 dari 116 negara. Skornya 477, termasuk dalam kategori rendah. Posisi Indonesia pun terus menurun sejak tahun 2014.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti saat menjadi pembicara dalam forum Asia-Pacific Leadership Summit 2025 yang digelar Cambridge University Press and Assessment di Jakarta, Rabu (12/2/2025).

Oleh karena itu, Mu’ti mengajak semua pihak bersama-sama membangun sistem pendidikan untuk menjadi lebih baik. Pemerintah ingin mempersiapkan generasi masa depan yang berpengetahuan, menghormati nilai-nilai, sehat, terampil, dan mudah beradaptasi.

Sementara itu, Director of Thought Leadership Cambridge University Press and Assessment Nick Saville mengungkapkan bahwa salah satu tantangan pendidikan bahasa adalah banyaknya anak di kelas. Ini membuat pelajaran bahasa menjadi membosankan.

Dia mengusulkan agar Kemendikdasmen untuk menyusun kurikulum yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi agar setiap anak bisa ditangani sesuai proses belajar dengan kebutuhan siswa. Guru pun harus memiliki kompetensi tersebut.

”Pembelajaran yang dipersonalisasi dan berpusat pada peserta didik seperti ini adalah cara kita untuk mewujudkan ide deep learning yang dibicarakan Pak Menteri,” ujar Nick.

Country Head of Cambridge University Press and Assessment Indonesia, Sonya Tobing; Director of Thought Leadership, Cambridge University Press and Assessment, Nick Saville; dan Commercial Director for Northeast Southeast Asia Pacific Region Cambridge University Press and Assessment Min Qu seusai forum Asia-Pacific Leadership Summit 2025 yang digelar Cambridge University Press and Assessment di Jakarta, Rabu (12/2/2025).

Forum internasional yang digelar Cambridge University Press and Assessment ini merupakan pertemuan sekitar 150 aktor pembuat kebijakan, ahli, dan pemimpin di sektor pendidikan guna mendiskusikan pengajaran Bahasa Inggris dan peningkatan kompetensi guru Bahasa Inggris di masa depan.

Managing Director Cambridge University Press and Assessment Paul Colbert mengatakan, setiap murid harus mendapat pengajaran terbaik untuk berbahasa. Namun, hal ini tidak hanya menjadi tugas dunia pendidikan dalam arti sempit di sekolah, tetapi juga lingkungan yang harus mendukung.

”Kita perlu memastikan dan fokus untuk menyediakan kesetaraan dan akses untuk semua. Wilayah yang luas dan beragam secara geografis menjadi tantangan, tidak terkecuali di Indonesia. Ini adalah beberapa masalah yang harus kita tangani,” kata Paul.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra