Ada operasi intelijen yang panjang, rumit, dan masif di balik dua ledakan besar di Lebanon.
20 Sep 2024 10:00 WIB · Politik & Hukum
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/17/cbcc604b-2736-4efa-834c-8765ade57a33_jpg.jpg)
Terlepas dari aspek pelanggaran kedaulatan dan kejahatan perang, peristiwa peledakan ribuan penyeranta (pager) dan ledakan ”walkie-talkie” di Lebanon diyakini merupakan hasil operasi intelijen yang panjang, rumit, dan masif.
Media CNN (18/9/2024) mengutip laporan korespondennya di Tel Aviv, Israel, memberitakan bahwa Israel berada di belakang serangan penyeranta (pager) itu. Operasi itu adalah hasil operasi bersama antara agen intelijen Israel Mossad dan angkatan bersenjata Israel.
Sejumlah komentar di ”X” menyitir sumber aparat keamanan Lebanon menyatakan bahwa penyeranta itu diimpor sekitar lima bulan yang lalu, dan ditanami 20 gram bahan peledak kekuatan tinggi. Para analis memperkirakan hampir tak mungkin baterai litium yang di dalam penyeranta itu memiliki kekuatan ledakan seperti yang terlihat dalam berbagai rekaman video. Ledakan baterai litium biasanya merupakan ledakan tak terlalu besar dan diikuti semburan api, dimana hal itu tak terlihat dari ledakan di Lebanon.
Pihak Israel tidak segera memberikan pernyataan resmi tentang ledakan penyeranta (pager) yang mengentak dunia karena sifat destruktif sekaligus keunikannya. Serangan militer dengan menggunakan ledakan melalui penyeranta seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya meskipun menggunakan berbagai kamuflase bahan peledak merupakan hal yang lazim dalam dunia intelijen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/18/d9304a73-fad9-4a91-80c2-107063ab0662_jpg.jpg)
Salah satu pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Israel adalah terkait rencana Israel untuk mengembalikan sebanyak 60.000 penduduk Israel di wilayah perbatasan Israel utara-Lebanon selatan, yang selama hampir setahun konflik Israel-Hamas-Hezbollah, ini harus mengungsi. Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dalam rapat kabinet Israel (16/9/2024) mengatakan bahwa, ”Israel akan melanjutkan mewujudkan tujuan tersebut”.
Pernyataan senada datang dari Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant dalam pertemuan dengan utusan Amerika Serikat Amos Hochstein (17/9/2024). ”Waktu untuk berdiplomasi dengan Hezbollah telah habis dan kekuatan militer akan mengambil alih panggung utama,” kata Gallant sebagaimana tayangan di media sosial. Beberapa jam setelah Yoav Gallant menyatakan itu, terjadilah ledakan penyeranta yang mengejutkan itu.
Kemampuan Mossad dan Angkatan Bersenjata Israel melakukan peledakan gawai ini sekali lagi menunjukkan kelihaian dan determinasi Israel dalam menerobos semua level organisasi musuh-musuhnya. Penulis buku intelijen Israel, Yossi Melman, sebagaimana diberitakan The Guardian (18/9/2024) menyatakan bahwa ”Mossad mampu memenetrasi dan infiltrasi Hezbollah dari waktu ke waktu, lagi dan lagi”. Melalui pernyataan ini, Melman sekaligus menunjukkan kerentanan Hezbollah jika benar-benar berhadapan dengan Israel.
Agen Mossad ataupun berbagai pasukan khusus Israel diketahui sudah melakukan berbagai aksi pembunuhan tokoh negara (asasinasi) lawan Israel di masa lalu, termasuk pembunuhan pemimpin Hamas dan Hezbollah dalam konflik saat ini. Namun, belum pernah dilakukan pembunuhan terkoordinasi jarak jauh dalam skala sebesar saat ini. Apalagi upaya pembunuhan itu dilakukan dengan menggunakan alat yang sebelumnya tak pernah dilakukan pihak yang berkonflik di mana pun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/18/e026c5a2-c17c-4676-ac98-e0151360f88b_jpg.jpg)
Israel jarang menyatakan bertanggung jawab secara terbuka atas serangan semacam itu, dan militernya menolak berkomentar pada hari Selasa (17/9/2024). Namun, negara ini memiliki sejarah panjang dalam melakukan operasi jarak jauh yang canggih, mulai dari serangan siber yang rumit hingga senapan mesin yang dikendalikan dari jarak jauh yang menargetkan para pemimpin dalam penembakan jarak jauh, serangan drone bunuh diri, dan peledakan di fasilitas nuklir rahasia bawah tanah Iran.
Jika merunut berbagai langkah Israel membunuh tokoh-tokoh Hamas dan Hezbollah, maka rentetan peristiwa yang dilakukan Israel menjadi tampak lebih ”biasa”. Terutama karena Israel sudah sering menggunakan berbagai metode luar biasa dan canggih dalam melenyapkan ancaman terhadap negara itu.
Pada Juli 2024 lalu, misalnya, Israel membunuh pemimpin Hamas, Ismael Haniyeh, di Teheran, Iran. Meskipun Israel tidak mengakui secara terbuka tanggung jawab mereka dalam serangan itu, berbagai fakta yang diungkap sulit mengingkarinya. Israel malah mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan beberapa jam sebelumnya terhadap Fuad Shukr di Beirut, Lebanon. Shukr merupakan seorang komandan penting Hezbollah di Beirut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/18/7dddcfe9-ad80-4e62-bd3c-9b3c401cc1fc_png.png)
Belum berselang lama dengan itu, Israel juga menyerang secara besar-besaran di Gaza selatan yang padat penduduk. Menurut pejabat kesehatan setempat, serangan itu menewaskan sedikitnya 90 orang, termasuk anak-anak. Militer Israel mengatakan pada bulan Agustus 2024 bahwa komandan militer Hamas, Mohammed Deif, tewas dalam serangan itu, meskipun Hamas sebelumnya membantahnya.
Tak hanya saat ini Israel melakukan serangan asasin berisiko tinggi yang berpotensi meningkatkan tingkat konflik. Pada Januari 1996, Israel menggunakan ledakan telepon genggam untuk membunuh Yahya Ayyash seorang ahli pembuat bom Hamas di kota Gaza. Pembunuhan Ayyash, yang sebelumnya kerap menginisiasi bom bunuh diri di dalam bus Israel itu, justru memicu gelombang baru pengeboman bus penumpang Israel.
Upaya asasinasi lainnya adalah pembunuhan terhadap pemimpin politik Hamas, Khaled Meshal, pada 1997. Meshal disuntik dengan racun di telinganya saat berada di Jordania. Hanya saja, Meshal selamat dan para operator Israel ditangkap. Insiden ini memicu kemarahan Raja Hussein dari Jordania yang berakhir dengan ancaman gagalnya kesepakatan damai Israel-Jordania.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/19/e55b5ee1-d060-4f49-9a56-4d625ba29ab5_jpg.jpg)
Ledakan serentak ribuan penyeranta (pager) yang terjadi di Lebanon, Selasa (17/9/2024), mulai pukul 15.30 waktu setempat selama satu jam, menyebabkan kekalutan dan kengerian yang belum pernah terjadi. Penyeranta adalah perangkat elektronik yang bisa menyampaikan pesan tanpa koneksi internet karena menggunakan saluran komunikasinya sendiri, yaitu jalur sinyal analog frekuensi radio dari jaringan pemancar tertentu.
Sifat sinyal radio ini lebih kuat menembus penghalang tembok, bentang alam, ataupun hambatan lainnya ketimbang sinyal internet. Itulah alasan pemimpin Hezbollah memerintahkan penggantian telepon seluler anggotanya demi menghindari penyadapan dan pantauan satelit mata-mata Israel. Siapa sangka, langkah Hezbollah itu juga sudah diantisipasi Israel sehingga berakibat korban massal seperti saat ini.
Hingga Kamis (19/9/2024), korban tewas akibat ledakan masif-serentak penyeranta di Lebanon, khususnya bagian selatan Beirut dan di sebagian Suriah, telah mencapai 12 orang, termasuk dua anak dan empat pekerja kesehatan. Sekitar 200 orang kini dalam kondisi kritis serta sekitar 2.800 orang lainnya mengalami luka serius dan memerlukan operasi serius. Sementara korban akibat serangan ”walkie-talkie” dan peralatan elektronik lainnya sehari kemudian mengakibatkan 20 orang meninggal dan 450 orang luka-luka.
Kantor berita Reuters menyitir Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa sebanyak 5.000 penyeranta (pager) yang dipakai kelompok Hezbollah diperkirakan telah ditanami unsur bahan peledak dan diberikan sinyal khusus untuk meledak. Sejauh ini, penyeranta yang banyak diintersep Israel itu ditengarai dari Merek Apollo AR924 yang berukuran 5 cm x 7,3 cm x 2,7 cm dengan bobot 90 gram dan ditengarai menggunakan baterai litium.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/10/14/20201014-H04-GKT-AFP-Lebanon-Israel-border-mumed_1602688060_png.png)
Sejumlah analisis yang beredar di laman-laman analisis militer di media sosial menengarai bahwa dari dua baterai yang dipakai pager itu, salah satunya merupakan baterai palsu dengan bentuk persis baterai asli dan sangat sulit dideteksi kalau sebenarnya berisi bahan peledak alih-alih bubuk litium biasa. Setiap baterai itu berbobot sekitar 23 gram.
Hal itu sepadan dengan sejumlah analis intelijen yang memperkirakan bahwa ukuran ledakan yang terjadi terlalu besar jika hanya mengandaikan dari ledakan baterai litium dalam pager yang dipicu sinyal pesan di pager. Alat yang kecil itu masih memungkinkan untuk diisi bahan peledak berkekuatan sangat tinggi, yang hanya dalam ukuran beberapa puluh gram saja mampu menimbulkan ledakan kuat.
Alan Woodward, ahli keamanan siber dari Surrey University, Inggris, mengatakan bahwa jumlah bahan peledak itu memang sedikit, tetapi cukup untuk mencederai si pemakai. ”Tidak perlu bahan peledak yang besar karena jarak peledak ke tubuh manusia yang dekat akan mengakibatkan cedera meski hanya beberapa gram saja,” kata Alan sebagaimana dirilis media The Guardian (19/19/2024).
Saksi mata menguatkan hal itu dengan menyatakan bahwa penyeranta (pager) itu mengeluarkan bunyi ”beep” kemudian berhenti, lalu ”boom” meledak. Hal itu membuat pemilik pager mendekatkan pager ke wajahnya atau mengecek pager-nya. Laporan dari rumah sakit juga menyatakan banyak cedera akibat ledakan di tangan dan mata para korban.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/19/8c98c8fa-6ed8-4d74-ae18-f86414117e01_png.png)
Kelompok Hezbollah memesan 5.000 penyeranta itu beberapa bulan lalu dari perusahaan bernama Gold Apollo yang berbasis di Taiwan, tetapi diproduksi di Budapest, Hongaria. Media CNN (18/9/2024) memberitakan bahwa pendiri perusahaan itu, Hsu Ching-kuang, telah memberikan hak produksi bagi cabang produsen elektronik di Eropa untuk memproduksi penyeranta itu dan menggunakan merek mereka. Namun, baik Hsu maupun pemilik alamat di Budapest sama-sama telah membantah keterlibatan dalam produksi pager yang dibeli kelompok Hezbollah tersebut.
Baca juga: Mengapa Hezbollah Memilih ”Pager” sebagai Sarana Komunikasi?
Berbagai rekaman video korban ledakan penyeranta beredar luas di media sosial, menunjukkan tingkat keparahan yang diakibatkan ledakan tersebut. Korban ledakan kebanyakan mengalami luka terbuka di area pinggang, wajah, dan tangan. Mereka mengerang kesakitan dan berdarah-darah, tergeletak di jalanan, di pasar, hingga berjejalan di rumah sakit. Ambulans hilir mudik membawa korban yang terus mendatangi rumah sakit di Beirut hingga memenuhi ruangan perawatan.
Korban tak hanya dari kelompok Hezbollah, tetapi juga semua orang yang memiliki kaitan dengan pekerjaan pengamanan karena sifat penyeranta yang bebas deteksi/pantauan intelijen Israel, tak terkecuali anak kecil yang membawa atau dekat dengan pager orang dewasa. Hal itu terlihat dari dua korban meninggal adalah anak-anak.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/18/8d9a4f75-2bd5-4858-bfd3-51b58d5a55d5_jpg.jpg)
Seperti diketahui, pemimpin Hezbollah, Hassan Nasrallah, beberapa waktu sebelumnya memang menyerukan anggotanya untuk ”membuang telepon genggam, menguburnya, atau menguncinya dalam lemari besi” demi menghindari pantauan intelijen Israel. Dengan demikian, pemilikan penyeranta secara masif di anggota Hezbollah memang suatu langkah organisasi, yaitu dengan ”turun ke level teknologi lebih rendah” demi alasan keamanan operasional.
Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati dalam rilis resmi Pemerintah Lebanon mengutuk serangan itu yang diyakini dilakukan pihak asing, sebagai ”pelanggaran serius atas kedaulatan Lebanon dan sebuah bentuk kejahatan”.
Baca juga: ”Walkie-Talkie”, Alat Komunikasi yang Dipakai Sambil Berjalan
Apalagi hari-hari sebelumnya, pasukan Israel dan kelompok Hezbollah sudah saling bertukar serangan, baik menggunakan rudal maupun drone. Jet-jet tempur Israel kerap kali melanggar wilayah Lebanon untuk menyerang basis kelompok Hezbollah.
Hezbollah melalui media resminya menyatakan, Israel adalah pelaku yang bertanggung jawab atas peristiwa ini dan menyerukan akan segera melakukan pembalasan. ”Musuh yang kejam dan kriminal ini pasti akan segera mendapatkan balasan sepadan atas agresi kotor yang mereka lakukan”.
Penulis buku intelijen Israel, Yossi Melman, mempertanyakan kebijakan dari serangan yang merenggut nyawa seorang anak perempuan berusia 10 tahun. ”Itu hanya akan meningkatkan eskalasi krisis perbatasan menuju perang total,” katanya.
Menurut Melman, serangan penyeranta itu menunjukkan bahwa Israel sedang panik karena tak mampu menyerang spesifik-akurat dan tertentu (very targeted) ke jantung pertahanan Hezbollah, dan memilih menyerang secara umum dan berisiko.
Israel merupakan negara dengan doktrin pertahanan yang sudah mengantisipasi pemahaman terhadap ancaman konvensional dan sub-konvensional semakin berkurang, sedangkan ancaman non-konvensional, seperti organisasi teroris, infrastruktur bawah tanah, ancaman dunia maya/siber, senjata lintasan tinggi, terus meningkat.
Ancaman oleh angkatan bersenjata reguler negara lain dinilai akan semakin berkurang, sedangkan ancaman dari organisasi sub-negara atau komunitas tertentu justru akan meningkat. Secara keseluruhan, isi doktrin mencerminkan langkah sistematis dan terukur militer Israel dalam menangani sebuah pertempuran untuk menetralisasi musuh dan mengembalikan posisi keunggulan Israel atas lawan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/18/f3ca2848-b2e5-420e-b111-787057ebb5bf_jpg.jpg)
Israel merupakan negara yang sudah memiliki alutsista terbaik kedua setelah Amerika Serikat, khususnya untuk pesawat tempur, tank, dan teknologi rudal. Menghadapi kelompok Hezbollah tentu berbeda kelas dengan menghadapi Hamas. Hezbollah memiliki kekuatan politik, sosial, sekaligus militer dengan sumber daya manusia yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Hamas.
Hezbollah memiliki perwakilan di parlemen Lebanon, menteri di kabinet, milisi bersenjata sendiri, dan bahkan merupakan kekuatan non-negara yang lebih besar pengaruhnya daripada Pemerintah Lebanon sendiri.
Kini kotak pandora menuju perang terbuka sudah dibuka oleh Israel setelah serangan bertubi-tubi menggunakan penyeranta (pager) dan berbagai alat elektronik. Kelompok Hezbollah dan simpatisannya diyakini tak akan surut atau menyerah terhadap Israel, tetapi sebaliknya akan lebih garang dan penuh amarah. Tak ada strategi ”eskalasi untuk deeskalasi” dalam berbagai kisah konflik Israel dan milisi-milisi Arab.
Baca juga: Unit 8200, Satuan Paling Rahasia dalam Tubuh Militer Israel
Apakah Lebanon akan kembali menjadi ladang perang terbaru perang kota Israel setelah membumihanguskan Gaza? Ataukah ada skenario lain yang lebih damai dan manusiawi setelah serangan ini?
Sejauh ini, tampaknya awan kelabu kemarahan Hezbollah dan ancaman peperangan yang masih menggelayut. Rakyat Lebanon, Palestina, dan warga Israel sendiri masih akan terkungkung dalam belenggu konflik dan peperangan berkepanjangan. (LITBANG KOMPAS)
Baca juga: Mampukah Strategi Israel Taklukkan Hamas?
Penulis:
M TOTO SURYANINGTYASEditor:
ANDREAS YOGA PRASETYO