Spanyol diterpa musim panas dengan suhu tertinggi sejak tahun 1961.
17 Sep 2025 08:30 WIB · Internasional
Ratusan payung besar berwarna-warni berjajar rapi di pantai Levante, Benidorm, Spanyol. Di bawah payung, wisatawan berbaring menikmati sengatan matahari. Di sudut pantai yang lain, wisatawan asyik bermain air, juga tanpa menghiraukan teriknya matahari.
Sementara di kota Madrid, penduduk yang beraktivitas di luar ruangan terpaksa menggunakan payung untuk menahan sengatan matahari. Sebagian yang lain terlihat menggunakan kipas tangan untuk mengusir hawa panas hari itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/17/bb78852e-ac0f-43b0-b8ef-49568967283c_jpg.jpg)
Badan Meteorologi Nasional Spanyol mengatakan pada Selasa (16/9/2025) bahwa musim panas 2025 merupakan musim panas terpanas yang pernah tercatat bagi negara ini. Hal serupa juga dialami seluruh wilayah Mediterania.
Suhu rata-rata di negara itu mencapai 24,2 derajat celsius antara 1 Juni dan 31 Agustus. Ini merupakan suhu tertinggi sejak badan tersebut mulai mencatat suhu pada tahun 1961. Rekor sebelumnya tercatat pada tahun 2022, yaitu 24,1 derajat celsius. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), wilayah Mediterania memanas 20 persen lebih cepat daripada rata-rata global.
Musim panas ini juga 2,1 derajat celsius lebih panas daripada rata-rata nasional dari tahun 1991-2020. Suhu tertinggi dalam satu hari sebesar 45,8 derajat celsius tercatat di Jerez de la Frontera, Spanyol selatan, pada 17 Agustus 2025 saat terjadi gelombang panas.
Bulan-bulan ini, musim panas yang terik telah banyak menimbulkan kebakaran di banyak tempat di Spanyol, terutama di pedesaan. Rekor 382.000 hektar terbakar tahun ini telah melampaui rekor sebelumnya, yakni 306.000 hektar yang terbakar pada tahun 2022. Informasi ini didapatkan dari Sistem Informasi Kebakaran Hutan Eropa Uni Eropa.
Layanan cuaca Spanyol menambahkan bahwa negara itu juga mengalami musim panas yang sangat kering. Di wilayah barat laut Spanyol, tempat kebakaran hutan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah. Suhu di Eropa telah menghangat dua kali lebih cepat dari rata-rata global sejak tahun 1980-an, menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/17/5791084b-b1a6-4e8f-92a4-5c6992a8c616_jpg.jpg)
Para ilmuwan mengingatkan bahwa perubahan iklim memperburuk frekuensi dan intensitas panas dan kekeringan. Wilayah Eropa selatan paling rentan mengalami dampak kesehatan dan kebakaran hutan akibat kondisi ini. Pendorong utama perubahan iklim adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti bensin, minyak, dan batu bara. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto