Lebih dari 3.600 korban meninggal akibat gempa di Myanmar. Penyintas yang selamat bertahan dan berjuang di pengungsian.
13 Apr 2025 14:02 WIB · Foto
Selebaran tentang orang hilang ditempel di batang pohon di Mandalay, Myanmar, Minggu (13/4/2025). Pada selebaran berbahasa lokal tersebut disertakan dua foto, satu foto close-up yang menampilkan wajah dan satu lagi foto seluruh badan.
Hasil pemindaian menggunakan fasilitas Google Lens, didapat sejumlah informasi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari selebaran tersebut. Disebutkan bahwa orang yang hilang adalah perempuan berusia 25 tahun. Ada bintik hitam di sisi kiri wajah. Perempuan tersebut mengenakan celana pendek putih dengan garis hitam.
Dijelaskan pula bahwa perempuan tersebut pergi ke Rumah Sakit Rakyat setelah gempa besar mengguncang pada 28 Maret 2025 lalu. Sampai saat ini, keluarga belum bertemu kembali dengan perempuan tersebut.
Pada selebaran tersebut juga tertulis, siapa saja yang mengetahui keberadaan perempuan itu diminta untuk menghubungi nomor telepon yang tertulis di bagian bawah selebaran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/91a066085810a1aa0d6e72b56cf29b36-000_426R9VE.jpg)
Di lokasi lain, masih di Mandalay, seorang warga lewat di sebuah jalan raya dengan latar belakang bangunan bertingkat yang roboh karena gempa. Di sisi yang lain, terlihat alat berat digunakan untuk membersihkan bangunan yang roboh.
Rusak ataupun robohnya bangunan telah menjadi pemandangan yang jamak ditemui di Myanmar pascagempa besar M 7,7 yang mengguncang akhir Maret lalu. Selain Mandalay, kerusakan juga terlihat di Naypyitaw. ibu kota Myanmar.
Tidak hanya rumah penduduk, gempa di Naypyitaw juga merusak gedung milik pemerintah. Jalanan beraspal mulus di kota tersebut juga terlihat rusak. Retakan panjang tampak baik di pinggir maupun tengah jalan. Pengguna jalan harus berhati-hati saat melewati jalanan tersebut.
Tidak hanya rumah dan gedung pemerintah, gempa juga merusak dan meluluhlantakkan tempat ibadah. Banyak rumah ibadah yang rusak berat sehingga tidak bisa digunakan untuk beribadah secara layak.
Pembersihan secara manual ataupun menggunakan alat berat terus dilakukan dengan harapan agar bisa kembali dibangun dan digunakan kembali. Banyak tempat ibadah di Myanmar yang roboh karena saat membangun tidak menggunakan struktur tahan gempa. Salah satunya terlihat dari minimnya tulangan pada bangunan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/bbac65b67433b43c54206f082685d712-AP25094784727369.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/b8300aea09c56b01e2cb45ac7adea83c-000_424E74D.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/8a9226163af46c34bfce37ed04ec1b7e-000_424E6ZR.jpg)
Dahsyatnya gempa membuat banyak warga kehilangan rumah atau tempat tinggal. Saat ini mereka terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian yang dibangun mandiri ataupun bantuan pihak lain. Mereka hidup dengan kondisi seadanya. Mereka belum tahu sampai kapan akan tinggal di tenda pengungsian.
Di tengah kondisi yang serba terbatas dan memprihatinkan, geliat ekonomi mulai terlihat. Aktivitas jual beli di pasar mulai tampak. Apalagi, sebentar lagi akan digelar Thingyan atau perayaan Tahun Baru Myanmar. Ini merupakan perayaan atau festival air yang cukup besar dan terkenal di Myanmar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/052073c5773899b38474cab969834c1d-000_426R9V8.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/e917f1d524c2fe75dd762750568c1dce-000_426R9VC.jpg)
Sampai saat ini, jumlah korban tewas akibat gempa tersebut melampaui 3.600 orang. Jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah seiring dengan pencarian yang masih terus dilakukan.
Kantor berita AP menulis dengan mengutip laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) bahwa lebih dari 17,2 juta orang terdampak gempa sangat membutuhkan makanan, air minum, perawatan kesehatan, bantuan tunai, dan tempat penampungan darurat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/b0f913c2135ad4bd82176cc499e00b3c-000_426R9UY.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/ab9cbded4dd2887a22b572c29f6c406d-000_426R9UX.jpg)
Penulis:
Heru Sri KumoroEditor:
Muhammad Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti